Akurat Logo

Ramai Fenomena Ngemis Online, Ini Etika Mencari Nafkah

Lufaefi | 28 September 2026, 09:00 WIB
Ramai Fenomena Ngemis Online, Ini Etika Mencari Nafkah
Ilustrasi Ngemis Online di Tiktok _ Istimewa

AKURAT.CO Fenomena “ngemis online” di media sosial kembali ramai diperbincangkan. Istilah tersebut biasanya merujuk pada aktivitas meminta uang, hadiah digital, atau bantuan dari penonton melalui siaran langsung di berbagai platform media sosial.

Dalam praktiknya, bentuknya beragam. Ada yang sekadar meminta gift sebagai dukungan terhadap konten, tetapi ada pula yang secara terang-terangan meminta uang dengan menampilkan kondisi tertentu agar penonton merasa iba. Karena itu, tidak semua aktivitas menerima hadiah melalui media sosial dapat langsung disamakan dengan mengemis.

Dalam Islam, mencari nafkah merupakan bagian penting dari kehidupan. Al-Qur’an mendorong manusia untuk bekerja dan berusaha mendapatkan rezeki yang halal.

Allah SWT berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’” (QS At-Taubah: 105).

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ikhtiar. Rezeki memang berasal dari Allah, tetapi manusia diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang baik dan bertanggung jawab.

Dalam konteks “ngemis online”, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang mendapatkan uang dari internet, tetapi bagaimana uang tersebut diperoleh. Jika seseorang membuat konten yang halal, memberikan hiburan atau informasi yang bermanfaat, kemudian mendapatkan gift secara sukarela dari penonton, hal itu tidak otomatis dapat disebut sebagai mengemis.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Rasa Malas saat Akan Bekerja di Hari Senin menurut Islam

Namun, persoalannya menjadi berbeda apabila seseorang sengaja mengeksploitasi rasa iba, memberikan informasi palsu, berpura-pura berada dalam kesulitan, atau melakukan tindakan yang merendahkan diri demi mendapatkan pemberian.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan agar seorang Muslim tidak menjadikan meminta-minta sebagai kebiasaan ketika masih memiliki kemampuan untuk berusaha.

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Seorang senantiasa meminta-minta kepada manusia hingga pada hari kiamat ia datang dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kehormatan diri. Islam tidak melarang seseorang menerima bantuan ketika benar-benar membutuhkan, tetapi meminta-minta tanpa kebutuhan yang dibenarkan bukanlah sikap yang ideal.

Sebaliknya, bekerja dan berusaha memperoleh penghasilan sendiri memiliki nilai yang tinggi. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang yang mencari kayu bakar lalu menjualnya lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia, baik diberi maupun tidak.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi