Tips Terhindar dari Tindakan Pelecehan Seksual dalam Islam

AKURAT.CO Pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapa saja dan di berbagai tempat, mulai dari lingkungan kerja, sekolah, kampus, transportasi umum, tempat tinggal, hingga ruang digital. Bentuknya pun beragam, mulai dari komentar bernuansa seksual, pesan tidak pantas, sentuhan tanpa persetujuan, hingga tindakan seksual yang dilakukan tanpa kehendak korban.
Dalam Islam, menjaga kehormatan manusia merupakan bagian penting dari ajaran agama. Karena itu, upaya mencegah pelecehan seksual tidak hanya berkaitan dengan persoalan sosial, tetapi juga dapat dipahami sebagai bagian dari menjaga martabat dan kehormatan diri.
Salah satu prinsip penting yang diajarkan Al-Qur’an adalah menjaga pandangan. Allah SWT berfirman dalam QS An-Nur ayat 30:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga pandangan dan kehormatan merupakan tanggung jawab setiap individu. Namun, prinsip ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk menyalahkan korban ketika pelecehan terjadi. Tanggung jawab atas tindakan pelecehan tetap berada pada pelaku.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga batas dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Batas tersebut bukan berarti manusia tidak boleh berinteraksi, bekerja sama, belajar, atau beraktivitas bersama. Yang ditekankan adalah menjaga sikap, ucapan, dan perilaku agar tidak merendahkan atau merugikan pihak lain.
Baca Juga: Doa Sebelum Berangkat Kerja, agar Diberi Rezeki yang Halal dan Melimpah
Karena itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah berani menetapkan batas pribadi. Jika seseorang melakukan sentuhan, komentar, pesan, atau tindakan seksual yang tidak diinginkan, seseorang berhak mengatakan tidak dan menjauh dari situasi tersebut apabila memungkinkan.
Dalam kondisi tertentu, menghindari tempat atau situasi yang dirasakan tidak aman juga dapat menjadi langkah perlindungan diri. Jika berada di tempat umum, seseorang dapat mendekati orang yang dipercaya, petugas keamanan, atau pihak yang memiliki kewenangan ketika merasa terancam.
Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 58:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”
Ayat tersebut memberikan prinsip bahwa menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar merupakan perbuatan tercela. Dalam konteks sekarang, prinsip ini dapat menjadi landasan moral untuk menolak berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan seksual.
Di era digital, kewaspadaan juga perlu diterapkan ketika menggunakan media sosial. Jangan sembarangan memberikan data pribadi, mengirim foto atau video sensitif, atau melanjutkan komunikasi dengan orang yang membuat tidak nyaman. Jika menerima pesan seksual yang tidak diinginkan, seseorang dapat menyimpan bukti, memblokir akun, dan melaporkannya melalui fitur yang tersedia atau kepada pihak berwenang.
Hal yang tidak kalah penting adalah berani mencari pertolongan. Korban pelecehan seksual tidak seharusnya merasa bahwa dirinya bersalah atas tindakan pelaku. Bercerita kepada orang yang dipercaya, konselor, lembaga pendamping, atau pihak yang berwenang dapat menjadi langkah penting untuk mendapatkan perlindungan.
Bagi orang tua dan pendidik, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan mengenai batas tubuh, persetujuan, keamanan digital, dan cara meminta pertolongan. Anak perlu mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh bagian tubuh tertentu tanpa alasan yang dibenarkan dan tanpa persetujuan.
Pada akhirnya, ajaran Islam tentang menjaga kehormatan bukan hanya ditujukan kepada perempuan, tetapi kepada seluruh manusia. Laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menjaga diri dan menghormati batas orang lain.
Baca Juga: Doa Khusus Hari Senin, agar Allah Selalu Menuntun Kita ke Jalan yang Terbaik
Mencegah pelecehan seksual karena itu bukan berarti membebankan seluruh tanggung jawab kepada seseorang untuk menghindari menjadi korban. Pencegahan yang sehat harus dilakukan bersama: individu menjaga diri, masyarakat menciptakan lingkungan aman, dan pelaku bertanggung jawab atas tindakannya.
Dengan menjadikan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai bagian dari akhlak, nilai-nilai Islam dapat menjadi salah satu dasar untuk membangun lingkungan yang lebih aman, bermartabat, dan bebas dari pelecehan seksual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 6Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 7Gerindra Buka Pintu Koalisi 2029, Begini Respons PDIP
- 8Prediksi Skor Sevilla vs Barcelona 20 September 2026: Blaugrana Diprediksi Menang
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia



