5 Fenomena Langit yang Disebut dalam Al-Qur'an, Nomor 3 Paling Banyak Tidak Diketahui!

AKURAT.CO Langit menjadi salah satu bagian dari alam yang kerap mengundang rasa ingin tahu manusia. Matahari, bulan, bintang hingga pergantian siang dan malam merupakan fenomena yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Al-Qur'an beberapa kali mengajak manusia memperhatikan berbagai fenomena alam tersebut. Penyebutan fenomena langit dalam Al-Qur'an tidak hanya berkaitan dengan gambaran tentang alam, tetapi juga menjadi bagian dari ajakan untuk berpikir dan merenungkan kebesaran Allah SWT.
Berikut lima fenomena langit yang disebut dalam Al-Qur'an.
Pergantian siang dan malam
Pergantian siang dan malam merupakan fenomena yang paling mudah diamati manusia. Al-Qur'an menyebut fenomena ini dalam sejumlah ayat, salah satunya QS. Ali 'Imran ayat 190.
Dalam ayat tersebut, penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang disebut sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal.
Fenomena yang berlangsung setiap hari itu menjadi pengingat bahwa alam memiliki keteraturan yang dapat diamati dan direnungkan manusia.
Baca Juga: Fenomena Langit di Dalam Al-Qur'an, Apa Saja?
Peredaran matahari dan bulan
Al-Qur'an juga menyebut matahari dan bulan sebagai bagian dari keteraturan alam.
QS. Al-Anbiya ayat 33 menyebut bahwa Allah menciptakan malam, siang, matahari, dan bulan. Masing-masing digambarkan berada dalam falak atau garis edar.
Sementara itu, QS. Yunus ayat 5 menjelaskan perbedaan fungsi matahari dan bulan serta fase-fase bulan yang dapat digunakan manusia untuk mengetahui perhitungan waktu.
Ayat-ayat tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian ketika umat Islam mempelajari hubungan antara Al-Qur'an dan astronomi.
Langit tanpa tiang yang terlihat
Fenomena berikutnya mungkin tidak banyak diketahui. Dalam QS. Ar-Ra'd ayat 2, Al-Qur'an menyebut Allah meninggikan langit tanpa tiang yang dapat dilihat manusia.
Ayat tersebut berbunyi antara lain, "Allah yang meninggikan langit tanpa tiang yang dapat kamu lihat."
Pernyataan ini menarik karena mengajak manusia memperhatikan struktur dan keteraturan langit tanpa memberikan gambaran sederhana bahwa langit harus ditopang oleh tiang yang terlihat.
Namun, ayat tersebut sebaiknya tidak langsung dipaksakan sebagai penjelasan teknis mengenai teori astronomi tertentu. Pesan utama ayat berada dalam konteks tanda kekuasaan Allah dan keteraturan ciptaan-Nya.
Bintang sebagai petunjuk
Bintang juga mendapatkan perhatian dalam Al-Qur'an. QS. An-Nahl ayat 16 menyebut bintang sebagai salah satu sarana petunjuk bagi manusia.
Pada masa lalu, sebelum teknologi navigasi modern berkembang, posisi benda-benda langit memang memiliki peran penting dalam membantu manusia menentukan arah perjalanan.
Penyebutan bintang dalam Al-Qur'an sekaligus memperlihatkan bagaimana alam dapat menjadi objek pengamatan manusia.
Awan, angin, dan turunnya hujan
Fenomena langit lainnya berkaitan dengan terbentuknya awan dan turunnya hujan. QS. Ar-Rum ayat 48 menggambarkan bagaimana Allah mengirimkan angin, kemudian angin menggerakkan awan dan menyebarkannya di langit.
Dari awan tersebut kemudian turun hujan yang mengenai siapa saja yang dikehendaki Allah.
Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hujan menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan di bumi dan memiliki peran besar bagi tumbuhan, hewan, serta manusia.
Berbagai ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur'an berkali-kali mengarahkan perhatian manusia kepada alam. Langit bukan hanya objek yang dipandang, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan perenungan.
Baca Juga: Mohammad Sharifullah Divonis 20 Tahun Penjara Terkait Bom Kabul 2021
Meski demikian, membaca ayat-ayat tentang alam perlu dilakukan secara hati-hati. Al-Qur'an bukan buku teks astronomi dalam pengertian modern. Karena itu, setiap upaya menghubungkan ayat dengan temuan sains perlu mempertimbangkan konteks bahasa, tafsir, dan perkembangan pengetahuan ilmiah.
Pada akhirnya, pesan yang dapat ditangkap dari ayat-ayat tersebut adalah ajakan untuk memperhatikan alam dan menggunakan akal. Ketika manusia memandang langit, yang diharapkan bukan hanya rasa kagum terhadap luasnya alam semesta, tetapi juga kesadaran mengenai keteraturan ciptaan dan kebesaran Allah SWT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 4Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 5ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 6Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 7Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 8KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor
- 9Tak Ada Toleransi, Prabowo Perintahkan Cabut Izin dan Usut Pidana Korporasi Pelaku Karhutla
- 10Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler





