Akurat Logo

Gus Maftuh: Buku Islam Ala Prabowo Jangan Dipahami sebagai Ajaran Islam Baru

Lufaefi | 8 September 2026, 08:00 WIB
Gus Maftuh: Buku Islam Ala Prabowo Jangan Dipahami sebagai Ajaran Islam Baru
Buku Islam Ala Prabowo - Istimewa

AKURAT.CO Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuh atau Gus Maftuh, meminta masyarakat membaca secara utuh buku Islam Ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Maftuh menyusul munculnya polemik dan beragam tafsir di masyarakat mengenai buku yang diluncurkan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tersebut.

Gus Maftuh yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I) menilai istilah “Islam Ala Prabowo” tidak dimaksudkan untuk memperkenalkan mazhab, aliran, atau ajaran Islam baru.

“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh, Sabtu (5/9/2026).

Baca Juga: Nama TGB dan Gus Kautsar Dicantumkan dalam Buku Islam Ala Prabowo, Keduanya Bantah Terlibat

Menurutnya, buku tersebut membahas sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto dari berbagai aspek, mulai dari kehidupan pribadi dan perjalanan karier hingga kiprahnya sebagai kepala negara.

Buku itu juga memuat pandangan serta tulisan dari sejumlah ulama, tokoh agama, akademisi, politisi, dan tokoh nasional.

“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Gus Maftuh menilai pembahasan tersebut relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki masyarakat majemuk. Menurutnya, Islam di Indonesia seharusnya menjadi kekuatan moral yang mendorong kemajuan, kerukunan, dan persatuan.

“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan informasi, meme, atau komentar di media sosial.

Menurut Gus Maftuh, perbedaan pandangan terhadap sebuah buku merupakan hal yang wajar dalam ruang intelektual. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya berkembang menjadi fitnah ataupun saling menghujat.

“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” ujarnya.

Ia menyebut keterlibatan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang dalam buku tersebut menunjukkan adanya beragam perspektif dalam melihat dimensi keislaman Prabowo.

Beberapa nama yang tercantum dalam rangkaian penyusunan dan kontribusi buku tersebut antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.

Gus Maftuh menegaskan bahwa terlepas dari adanya pro dan kontra, hal yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai agama diwujudkan dalam kehidupan masyarakat dan kebangsaan.

“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” katanya.

Baca Juga: BSI dan PBNU Perkuat Sinergi untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren

Ia berharap buku tersebut tidak menjadi pemicu polarisasi politik ataupun sentimen keagamaan. Sebaliknya, buku itu diharapkan dapat menjadi ruang dialog mengenai hubungan nilai keislaman dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, dan cita-cita kemajuan Indonesia.

“Jangan jadikan Islam sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Justru Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan, perdamaian, menghormati sesama dan membangun kemaslahatan. Indonesia ini rumah bersama. Umat Islam harus menjadi bagian penting dalam menjaga agar Indonesia tetap maju, rukun, damai dan bersatu,” pungkas Gus Maftuh.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi