Akurat Logo

PKB Jabar Dorong Muktamar NU Lahirkan Kepemimpinan Berkarakter Idham Chalid dan Gus Dur

Lufaefi | 2 Agustus 2026, 07:00 WIB
PKB Jabar Dorong Muktamar NU Lahirkan Kepemimpinan Berkarakter Idham Chalid dan Gus Dur
Diskusi PKB Keteladanan Pemimpin NU - ig @dpwpkbjabar

AKURAT.CO Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Barat mendorong Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) melahirkan sosok pemimpin yang mampu memadukan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gagasan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk NLA Lecture Series #1: Menelusuri Jejak Keteladanan Pemimpin NU dari Masa ke Masa yang digelar di Kota Bandung, Sabtu (1/8).

Ketua DPW PKB Jawa Barat, Syaiful Huda, mengatakan NU membutuhkan figur pemimpin yang memiliki kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan kedekatan dengan warga Nahdliyin di akar rumput.

Menurutnya, karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan Gus Dur memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi. KH Idham Chalid dinilai dikenal sebagai pemimpin yang lentur dan mampu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, sedangkan Gus Dur dianggap merepresentasikan kepemimpinan yang dekat dengan aspirasi masyarakat bawah.

Baca Juga: RMI PBNU Dorong Muktamar ke-35 Tetapkan Peta Jalan Transformasi Pesantren

"Saya kira karakter kepemimpinan KH Idham Chalid dan Gus Dur dapat dipadukan untuk menjawab kebutuhan NU pada masa mendatang," ujar Syaiful Huda, dikutip Sabtu (1/8/2026).

Ia menilai kepemimpinan NU ke depan perlu menjaga keseimbangan antara otoritas keagamaan dan kemampuan mengelola organisasi secara profesional. Karena itu, menurutnya, struktur kepemimpinan NU idealnya diisi oleh figur yang memiliki kapasitas sesuai dengan fungsi masing-masing.

Syaiful Huda menjelaskan posisi Rais Aam sebaiknya ditempati ulama yang memiliki kharisma, otoritas keilmuan, serta menjadi rujukan moral bagi warga Nahdliyin. Sementara itu, jajaran Tanfidziyah membutuhkan sosok dengan kemampuan manajerial yang kuat agar roda organisasi berjalan efektif.

Ia berharap perpaduan kepemimpinan tersebut mampu memperkuat peran NU sebagai organisasi keagamaan yang tetap berakar pada tradisi ulama sekaligus responsif menghadapi tantangan zaman.

Diskusi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian pemikiran menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Forum tersebut akan menjadi ajang permusyawaratan tertinggi NU untuk memilih kepengurusan baru sekaligus menetapkan arah kebijakan organisasi lima tahun ke depan.

Baca Juga: Kiai Zulfa Dinilai Berpeluang Pimpin PBNU, Namanya Banyak Disebut di Tingkat Cabang dan Wilayah

Menjelang pelaksanaan Muktamar, berbagai tokoh dan elemen Nahdliyin terus menyampaikan pandangan mengenai kriteria kepemimpinan yang dinilai mampu membawa NU menghadapi tantangan organisasi, sosial, dan kebangsaan pada masa mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi