Akurat Logo

AS Hikam: Muktamar Ke-35 Harus Kembalikan NU sebagai Kekuatan Moral dan Intelektual Bangsa

Lufaefi | 1 Agustus 2026, 06:23 WIB
AS Hikam: Muktamar Ke-35 Harus Kembalikan NU sebagai Kekuatan Moral dan Intelektual Bangsa
Ilustrasi Lokasi Muktamar NU ke 35 Tambakberas Jombang (Ig @tambakberastv)

AKURAT.CO Pengamat politik sekaligus mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Muhammad AS Hikam, berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) melahirkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan peran NU sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa.

Harapan tersebut disampaikan Hikam dalam diskusi bertajuk Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU di Jakarta, Jumat (31/7/2026). Diskusi tersebut turut menghadirkan Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Hanief Saha Ghafur dan Pengasuh Pesantren Buntet KH Faris Fuad Hasyim.

Menurut Hikam, Muktamar menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali paradigma yang pernah dibangun Gus Dur, yakni menempatkan NU sebagai pusat kepemimpinan pemikiran yang independen dan berpengaruh.

Baca Juga: Jelang Muktamar NU, Gus Ulib Tekankan Ketua PBNU Harus Mampu Jaga Peradaban

"Dalam lima tahun terakhir menurut saya justru terjadi semacam setback dalam relevansi NU. Apalagi jika kita melihat apa yang dahulu diinginkan dan dicita-citakan oleh Gus Dur. Menghidupkan Gus Dur berarti menghidupkan kembali paradigma itu. NU hampir kehilangan peran sebagai leading sector kepemimpinan pemikiran," ujar Hikam.

Ia menegaskan, pembahasan mengenai format kepemimpinan ideal bukan ditujukan untuk merendahkan kepemimpinan yang sedang berjalan. Menurutnya, NU perlu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang pada warisan para masyayikh dan nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur.

Hikam menilai NU perlu kembali memainkan peran sebagai pusat pemikiran yang mandiri, kritis, dan mampu memberikan respons terhadap berbagai persoalan sosial maupun demokrasi.

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35, Hikam juga menyebut dinamika dan perbedaan pandangan di internal NU sebagai sesuatu yang wajar. Ia optimistis forum permusyawaratan tertinggi warga Nahdliyin tersebut akan berlangsung kondusif dengan tetap mengedepankan tradisi musyawarah.

"Kalau NU ingin kembali melanjutkan paradigma Gus Dur, tokoh-tokohnya banyak. Tinggal memilih. Tetapi jika paradigma itu hendak dilanjutkan, tentu ada konsekuensinya, termasuk perlunya perbaikan aturan main dan tata kelola organisasi yang menjadi tanggung jawab kepemimpinan NU di masa depan," katanya.

Baca Juga: AMNU Minta KPK dan Kejaksaan Pantau Muktamar NU ke-35

Selain itu, Hikam mengingatkan agar kedekatan organisasi dengan kekuasaan serta berbagai persoalan yang muncul di internal menjadi bahan evaluasi dalam memperkuat tata kelola organisasi. Menurutnya, kepemimpinan hasil Muktamar ke-35 diharapkan mampu menjaga independensi sekaligus mengembalikan posisi NU sebagai rujukan moral dan intelektual di tengah kehidupan berbangsa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi