Adab Melihat Jenazah: Menjaga Sikap dan Empati di Tengah Suasana Duka

AKURAT.CO Melihat jenazah merupakan momen yang sarat emosi sekaligus pengingat akan kefanaan hidup.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, terdapat sejumlah adab yang perlu dijaga agar kehadiran pelayat tidak hanya menunjukkan rasa belasungkawa, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum dan keluarganya.
Secara umum, adab saat melayat dimulai sejak pelayat tiba di rumah duka. Kehadiran hendaknya disertai sikap tenang, tanpa kegaduhan atau ekspresi berlebihan yang dapat mengganggu suasana.
Ucapan belasungkawa disampaikan dengan tutur kata yang sopan dan menenangkan, bukan dengan pertanyaan yang justru menambah beban keluarga.
Ketika jenazah diperlihatkan, pelayat dianjurkan menjaga pandangan dan sikap tubuh.
Tidak melihat terlalu dekat atau terlalu lama, serta tetap berdiri dengan tenang dan rapi menjadi bagian dari etika yang mencerminkan rasa hormat.
Dalam beberapa tradisi keagamaan, pelayat juga dianjurkan mendoakan almarhum secara singkat tanpa suara keras.
Selain itu, menjaga tutur kata menjadi hal yang sangat penting. Mengenang kebaikan almarhum dengan kalimat yang menyejukkan dapat memberi kekuatan bagi keluarga.
Sebaliknya, membicarakan hal sensitif, membuka aib, atau menyinggung persoalan pribadi almarhum merupakan tindakan yang tidak pantas dalam suasana duka.
Adab lain yang sering terabaikan adalah larangan melakukan dokumentasi tanpa izin. Mengambil foto jenazah atau suasana rumah duka dianggap tidak sopan dan berpotensi melukai perasaan keluarga.
Baca Juga: Penentuan Ahli Waris dalam Islam: Aturan Jelas untuk Cegah Sengketa Keluarga
Momen perpisahan bagi banyak keluarga bersifat sangat personal, sehingga privasi harus dijaga dengan baik.
Dalam kondisi tertentu, keluarga mungkin mengizinkan pelayat menyentuh jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Namun, hal tersebut harus dilakukan dengan izin dan penuh kehati-hatian.
Menyentuh tanpa persetujuan atau membuka kain penutup jenazah tanpa alasan yang jelas merupakan pelanggaran etika.
Saat meninggalkan rumah duka, pelayat tetap diharapkan menjaga sikap.
Tertawa keras, bercanda berlebihan, atau menunjukkan perilaku yang tidak selaras dengan suasana duka sebaiknya dihindari.
Bagi pelayat yang memiliki kedekatan dengan keluarga, memberikan bantuan seperti menyiapkan konsumsi, membantu menerima tamu, atau terlibat dalam prosesi pemakaman dapat menjadi bentuk empati yang nyata.
Dengan menjaga adab dan sikap, kehadiran pelayat tidak hanya menjadi simbol belasungkawa, tetapi juga menghadirkan ketenangan serta dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai









