Penentuan Ahli Waris dalam Islam: Aturan Jelas untuk Cegah Sengketa Keluarga

AKURAT.CO Penentuan ahli waris dalam Islam kerap menjadi persoalan yang memicu perdebatan, terutama saat keluarga menghadapi proses pembagian harta peninggalan.
Untuk mencegah konflik, Islam telah mengatur tata cara penetapan ahli waris secara rinci melalui Al-Qur’an, hadis, dan ijmak ulama.
Aturan tersebut tidak hanya menentukan siapa yang berhak menerima warisan, tetapi juga mengatur besaran bagian masing-masing ahli waris secara jelas dan terukur.
Dalam hukum waris Islam, ahli waris dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kedudukan dan hubungan dengan pewaris.
Penentuan dimulai dari hubungan darah, ikatan pernikahan, hingga garis keturunan terdekat.
Suami atau istri menjadi pihak yang dipastikan sebagai ahli waris selama ikatan perkawinan masih sah saat pewaris meninggal dunia.
Setelah itu, anak menempati posisi paling kuat dalam garis keturunan.
Anak laki-laki dan perempuan sama-sama berhak menerima warisan, meskipun dengan besaran yang berbeda sesuai ketentuan faraid.
Dalam kondisi tertentu, cucu dari garis anak laki-laki dapat menjadi ahli waris pengganti apabila ayahnya telah meninggal lebih dahulu.
Sementara itu, orang tua pewaris, baik ayah maupun ibu, juga memiliki bagian yang telah ditetapkan dalam syariat.
Islam juga mengatur mekanisme ahli waris pengganti. Namun, ketentuannya berbeda dengan hukum waris nasional.
Dalam hukum Islam, cucu dari anak perempuan tidak menggantikan posisi ibunya sebagai ahli waris.
Para ulama menegaskan bahwa penerima warisan adalah mereka yang termasuk dalam daftar ahli waris syar’i, selama hubungan darah dan status pernikahan sah dapat dibuktikan.
Penetapan ahli waris dilakukan dengan memastikan siapa saja yang masih hidup saat pewaris meninggal dunia.
Hal ini menjadi syarat utama, karena hanya mereka yang hidup pada saat itu yang berhak menerima bagian warisan.
Setelah daftar ahli waris ditentukan, langkah berikutnya adalah menghitung pembagian sesuai aturan faraid, seperti setengah, seperempat, atau seperdelapan, tergantung pada komposisi ahli waris yang ada.
Dalam praktiknya, masyarakat dianjurkan untuk melibatkan ahli fikih, tokoh agama, atau lembaga terkait guna memastikan pembagian warisan dilakukan secara tepat.
Pendampingan ini penting untuk menghindari kesalahan perhitungan maupun perbedaan tafsir yang berpotensi menimbulkan konflik keluarga.
Dengan memahami ketentuan dasar ini, proses penentuan ahli waris dapat berjalan lebih tertib, adil, dan sesuai dengan syariat.
Islam sendiri telah menyediakan kerangka hukum yang jelas untuk menjaga keharmonisan keluarga, bahkan dalam situasi sensitif seperti pembagian warisan.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








