Cara Niat Puasa Syaban dan Qadha Ramadhan

AKURAT.CO Puasa di bulan Syaban sering disebut sebagai amalan sunah yang “sunyi peminat”, padahal nilainya strategis. Syaban adalah bulan transisi, jembatan spiritual sebelum Ramadhan. Nabi Muhammad saw. dikenal memperbanyak puasa di bulan ini, bahkan Aisyah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah hampir berpuasa penuh di Syaban kecuali sedikit hari.
Di sisi lain, banyak umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan sebelumnya. Pertanyaannya kemudian muncul: bagaimana cara niat puasa Syaban jika sekaligus ingin qadha Ramadhan? Apakah boleh digabung? Dan bagaimana tata caranya agar sah secara fikih?
Secara prinsip, puasa qadha Ramadhan hukumnya wajib dan harus ditunaikan. Sementara puasa Syaban hukumnya sunah. Dalam kaidah fikih, amalan wajib boleh digabung niatnya dengan amalan sunah, selama tujuan utamanya adalah yang wajib.
Karena itu, mayoritas ulama membolehkan puasa qadha Ramadhan yang dikerjakan di bulan Syaban tetap mendapatkan keutamaan waktu Syaban, meskipun niat utamanya qadha.
Cara niat puasa Syaban dan qadha Ramadhan sebenarnya sederhana. Niat cukup dilakukan di dalam hati sebelum fajar. Tidak harus dilafalkan dengan suara, karena niat tempatnya di hati. Namun, melafalkan niat boleh dilakukan untuk membantu kekhusyukan dan menjaga fokus ibadah.
Baca Juga: 5 Pahala Puasa di Bulan Syaban yang Tidak Dimiliki Puasa-puasa Lain
Jika seseorang ingin menggabungkan niat qadha Ramadhan dengan puasa Syaban, maka niat qadha menjadi niat utama. Redaksi niatnya boleh menggunakan niat qadha Ramadhan, tanpa harus menyebut puasa Syaban secara eksplisit. Keutamaan Syaban tetap diharapkan karena pelaksanaannya berada di bulan Syaban.
Berikut contoh niat puasa qadha Ramadhan yang dikerjakan di bulan Syaban:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi ramadhana lillahi ta‘ala.
Artinya: Saya niat puasa esok hari untuk mengganti puasa fardhu Ramadhan karena Allah Ta‘ala.
Sementara jika seseorang tidak memiliki utang puasa Ramadhan, lalu ingin murni puasa sunah Syaban, niatnya cukup diniatkan sebagai puasa sunah. Niat puasa sunah boleh dilakukan sejak malam hari atau bahkan di siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Syaban juga dinilai efisien secara spiritual. Di satu sisi kewajiban tertunaikan, di sisi lain momentum Syaban tidak terlewatkan. Ini sejalan dengan semangat Islam yang memudahkan, bukan memberatkan.
Yang perlu diperhatikan, jika masih memiliki banyak utang puasa Ramadhan, maka mendahulukan qadha lebih utama dibanding memperbanyak puasa sunah murni. Syaban justru menjadi waktu ideal untuk “bersih-bersih utang” sebelum masuk Ramadhan berikutnya.
Q&A Seputar Niat Puasa Syaban dan Qadha Ramadhan
Q: Apakah boleh puasa Syaban sekaligus qadha Ramadhan?
A: Boleh. Mayoritas ulama membolehkan menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunah Syaban. Niat utamanya adalah qadha, sedangkan keutamaan Syaban mengikuti waktunya.
Q: Apakah harus dua niat saat puasa qadha di bulan Syaban?
A: Tidak harus. Cukup satu niat qadha Ramadhan. Puasa Syaban tidak wajib diniatkan terpisah karena statusnya sunah.
Q: Mana yang lebih utama, qadha Ramadhan atau puasa sunah Syaban?
A: Qadha Ramadhan lebih utama karena hukumnya wajib. Puasa sunah Syaban sebaiknya dilakukan setelah atau sambil menunaikan qadha.
Q: Kapan waktu niat puasa qadha Ramadhan?
A: Niat puasa qadha harus dilakukan sebelum terbit fajar, berbeda dengan puasa sunah yang boleh diniatkan di siang hari.
Q: Jika niat qadha Ramadhan di bulan Syaban, apakah dapat pahala Syaban?
A: Insya Allah tetap mendapatkan keutamaan Syaban, karena ibadah puasa dilakukan di waktu yang mulia, meskipun niat utamanya adalah qadha.
Q: Bagaimana jika lupa niat qadha sebelum subuh?
A: Jika lupa niat sebelum subuh, maka puasa qadha tidak sah dan harus diulang di hari lain.
Q: Apakah boleh menggabungkan qadha Ramadhan dengan puasa Senin Kamis di bulan Syaban?
A: Boleh. Prinsipnya sama, niat qadha sebagai niat utama, sedangkan keutamaan Senin Kamis mengikuti harinya.
Syaban bukan sekadar bulan “nunggu Ramadhan”. Ia adalah fase pemanasan, reset niat, dan momen strategis untuk menyelesaikan tanggungan ibadah. Jadi, daripada galau dan overthinking soal niat, yang paling penting adalah mulai berpuasa dan menata komitmen spiritual dari sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










