Akurat

Sejarah Hari Santri Nasional dan Makna Peringatannya bagi Indonesia

Fajar Rizky Ramadhan | 20 Oktober 2025, 09:00 WIB
Sejarah Hari Santri Nasional dan Makna Peringatannya bagi Indonesia

AKURAT.CO Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober, sebagai bentuk penghormatan terhadap peran besar para santri dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan karakter bangsa.

Penetapan hari bersejarah ini didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk meneladani semangat keikhlasan dan pengabdian para santri yang telah turut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peringatan Hari Santri pertama kali diinisiasi oleh kalangan pesantren sebagai wujud penghargaan terhadap jasa dan dedikasi para ulama serta santri.

Mereka bukan hanya tokoh spiritual, melainkan juga pelaku sejarah yang berperan aktif dalam mempertahankan kemerdekaan.

Melalui peringatan ini, masyarakat diingatkan agar semangat jihad, keilmuan, dan keikhlasan yang melekat pada diri santri terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Kemenag Segera Bentuk Ditjen Pesantren, Wamenag: Hadiah Hari Santri dari Presiden Prabowo

Pada tahun 2025, peringatan Hari Santri mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”. Tema ini menegaskan bahwa santri tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai tradisi keagamaan, tetapi juga aktor penting dalam membangun peradaban global.

Frasa “mengawal Indonesia merdeka” menggambarkan tanggung jawab moral santri untuk menjaga kemerdekaan bangsa, tidak hanya dari ancaman fisik, tetapi juga dari tantangan ideologis, disrupsi teknologi, dan arus globalisasi yang berpotensi mengikis nilai-nilai kebangsaan.

Sementara “menuju peradaban dunia” menunjukkan visi santri untuk berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih beradab melalui ilmu, akhlak mulia, dan sikap toleran.

Berbagai kegiatan digelar di seluruh daerah untuk memeriahkan Hari Santri, mulai dari zikir dan shalawat bersama, lomba keagamaan, hingga refleksi sejarah perjuangan santri. Tradisi ini menjadi sarana pengingat bahwa santri adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Secara historis, gagasan penetapan Hari Santri lahir dari Pondok Pesantren Babussalam di Desa Banjarejo, Malang, pada tahun 2014. Saat itu, para santri mengusulkan agar 1 Muharram dijadikan sebagai Hari Santri.

Namun, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemudian mengajukan tanggal 22 Oktober, yang dinilai lebih tepat karena memiliki nilai historis yang kuat.

Pada tanggal tersebut, tepatnya tahun 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad, sebuah seruan monumental kepada umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman pasukan Sekutu.

Resolusi jihad inilah yang menjadi titik penting perjuangan rakyat Indonesia pasca-Proklamasi. Ribuan santri turun ke medan pertempuran dalam peristiwa 10 November di Surabaya, yang kemudian diakui sebagai Hari Pahlawan.

Karena itu, peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober merupakan bentuk penghormatan terhadap peran besar santri dan ulama dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri diartikan sebagai seseorang yang mendalami ilmu agama Islam, dikenal saleh, rajin beribadah, serta berperilaku santun. Karakter santri dikenal teosentris, yakni berpusat pada keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari kehendak Allah SWT.

Baca Juga: Trans7 Dikecam, Santri Serukan Boikot dan LBH Ansor Layangkan Somasi Usai Tayangan XPOSE Lecehkan Kiai Lirboyo

Santri juga dikenal sebagai pribadi yang ikhlas, bijak, sederhana, dan mandiri. Pola hidup pesantren yang serba terbatas membentuk kepribadian yang kuat dan rendah hati, sekaligus menumbuhkan semangat pengabdian kepada masyarakat dan negara.

Hari Santri dengan demikian bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat pembentukan karakter, moralitas, dan kebangsaan.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, dan cinta tanah air yang diajarkan di pesantren tetap relevan untuk menjaga moral generasi muda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.