Akurat

KH Anwar Manshur: Ulama Sepuh Lirboyo, Penjaga Tradisi dan Moral Bangsa

Fajar Rizky Ramadhan | 18 Oktober 2025, 06:02 WIB
KH Anwar Manshur: Ulama Sepuh Lirboyo, Penjaga Tradisi dan Moral Bangsa

AKURAT.CO Nama KH Anwar Manshur kembali mencuat di tengah sorotan publik atas polemik tayangan Trans7 yang dianggap menyinggung kehidupan pesantren. Namun, jauh sebelum perdebatan itu mencuat, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo ini sudah lama dikenal sebagai sosok ulama sepuh yang menjadi rujukan lintas generasi — dari santri hingga pejabat tinggi negara.

Mbah Anwar, begitu ia akrab disapa, dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam klasik dan guru besar moral bangsa. Sosoknya yang tenang, sederhana, dan istiqamah membuatnya dihormati di kalangan pesantren Nahdlatul Ulama (NU) serta menjadi panutan dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia.

Lahir pada 1 Maret 1938, KH Anwar Manshur merupakan cucu langsung pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim. Ayahnya, KH Manshur Jombang, dan ibunya, Nyai Salamah, juga dikenal sebagai ulama dan pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk Islam. Dari darah dan lingkungan seperti itulah Mbah Anwar tumbuh sebagai pewaris tradisi ilmu dan spiritualitas pesantren.

Baca Juga: Imbas Polemik Pesantren Lirboyo, DPR Minta Komdigi dan KPI Evaluasi Izin Siar Trans7

Ia menempuh pendidikan di berbagai pesantren besar, termasuk Pacul Gowang dan Tebuireng Jombang, sebelum akhirnya kembali ke Lirboyo untuk mengajar. Meski telah berusia lanjut, Mbah Anwar tetap mengajar kitab kuning setiap pagi. Salah satu kitab yang rutin beliau ajarkan adalah Dalailul Khairat, yang dibacakan dengan penuh kelembutan dan kesabaran khas pesantren.

Bagi para santri, KH Anwar bukan sekadar guru, tetapi teladan hidup. “Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga adab dan kesabaran,” ujar seorang alumni Lirboyo yang kini menjadi dosen di UIN Malang. Setiap hari, sebelum fajar, Mbah Anwar selalu menunaikan salat tahajud, kemudian mengajar hingga siang hari tanpa jeda.

Kharisma KH Anwar menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan tokoh besar NU. Ia memiliki hubungan dekat dengan ulama kharismatik seperti KH Maimoen Zubair, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Abdul Hamid Pasuruan, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kedekatan ini lahir bukan dari kepentingan politik, melainkan karena kesamaan visi menjaga moralitas dan keseimbangan dalam kehidupan beragama dan bernegara.

Lirboyo sendiri sudah lama menjadi poros keilmuan dan moral NU di Jawa Timur. Banyak tokoh nasional yang datang sowan ke pesantren ini untuk meminta doa dan nasihat, termasuk Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Imin). Dalam setiap pertemuan itu, Mbah Anwar selalu tampil sederhana, menegaskan nilai adab di atas segalanya.

Dalam sebuah kunjungan, Presiden Prabowo Subianto bahkan tampak menundukkan kepala dan mencium tangan KH Anwar Manshur—sebuah gestur simbolik yang mencerminkan penghormatan seorang pemimpin bangsa terhadap ulama sepuh penjaga nurani rakyat.

Pada 2024, KH Anwar terpilih secara aklamasi sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, menggantikan KH Marzuki Mustamar. Penunjukan ini diterima luas sebagai bentuk penghormatan kepada ulama yang istiqamah dan tidak pernah mengejar kedudukan.

Sebagai Rais Syuriyah, beliau selalu mengingatkan pentingnya kesejukan dalam beragama dan bernegara. Dalam pandangannya, perbedaan harus dikelola dengan adab, bukan dengan amarah. “Pesantren mengajarkan keseimbangan: di mana ada rakyat santun, di situ lahir pemimpin berwibawa,” ucapnya dalam sebuah forum keislaman.

Selain membina pesantren putra, KH Anwar juga mendirikan Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo, sebuah langkah yang menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan perempuan. Baginya, kemajuan bangsa hanya bisa dicapai bila ilmu dan adab diajarkan secara seimbang kepada laki-laki dan perempuan.

Polemik tayangan Trans7 baru-baru ini justru memperlihatkan betapa besar pengaruh Mbah Anwar dalam menjaga marwah pesantren. Ribuan santri dan alumni bangkit membela beliau, bukan karena kultus individu, tetapi karena nilai-nilai yang beliau wakili: keikhlasan, kesabaran, dan kehormatan. Dalam menghadapi kritik, beliau tidak bereaksi dengan kemarahan, tetapi dengan ketenangan khas seorang ulama sejati.

“Kami tidak menuntut balas jasa atas khidmah kami kepada bangsa ini. Kami hanya ingin terus berbuat kebaikan demi kemaslahatan umat,” tuturnya dalam salah satu tausiyah di bulan Ramadan lalu.

Baca Juga: Pimpinan DPR Gelar Audiensi Buntut Polemik Trans7 dan Pesantren Lirboyo

Hingga kini, Pondok Pesantren Lirboyo yang diasuh KH Anwar Manshur tetap menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia, menampung lebih dari 35 ribu santri dari berbagai provinsi. Dalam kepemimpinannya, pesantren ini mampu beradaptasi dengan modernitas tanpa kehilangan ruh keilmuannya.

KH Anwar Manshur bukan hanya ulama besar NU, tetapi juga penjaga akhlak bangsa. Sosoknya adalah refleksi keseimbangan antara spiritualitas, budaya, dan kebangsaan—nilai-nilai yang semakin penting di tengah tantangan moral dan sosial Indonesia hari ini.

Ia meninggalkan teladan abadi bahwa ilmu harus disertai adab, dan kekuasaan harus tunduk pada nilai moral. Dari Lirboyo, ia menebarkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa kemajuan sejati bangsa tidak lahir dari kecerdasan semata, tetapi dari hati yang bersih dan jiwa yang tunduk pada kebenaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.