Makna Meteor Jatuh di Cirebon dalam Al-Qur’an dan Hadis

AKURAT.CO Fenomena meteor jatuh yang sempat menggetarkan langit Cirebon baru-baru ini bukan sekadar peristiwa astronomis. Bagi seorang mukmin, setiap peristiwa di langit adalah tanda kekuasaan Allah, ayat kauniyah yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa segala yang terjadi di langit dan bumi memiliki makna, dan tidaklah Allah menciptakannya dengan sia-sia.
Meteor, yang secara ilmiah disebut batuan luar angkasa yang terbakar saat memasuki atmosfer bumi, dalam bahasa Al-Qur’an memiliki padanan istilah “syihaab” atau “syihaab tsaqib”, yang berarti nyala api yang menembus. Dalam surah Al-Mulk ayat 5 Allah berfirman:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat pelempar setan.” (QS. Al-Mulk: 5)
Ayat ini menggambarkan dua makna sekaligus. Pertama, meteor dan bintang adalah hiasan langit yang menunjukkan keindahan ciptaan Allah. Kedua, fenomena itu adalah simbol penjagaan atas keteraturan kosmos, sebagaimana Allah menjaga langit dari campur tangan makhluk jahat.
Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa istilah “rujum li al-syayathin” bukan berarti bintang dilemparkan secara fisik, tetapi menunjukkan bentuk perlindungan metafisik dari gangguan makhluk halus yang mencoba mencuri berita langit.
Baca Juga: Cek Fakta: Viral Dentuman di Cirebon Diduga Meteor Jatuh, BRIN dan BMKG Ungkap Hal Ini!
Ayat lain yang menegaskan hal ini adalah surah As-Saffat ayat 6–10:
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ وَحِفْظًا مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan hiasan berupa bintang-bintang dan memeliharanya dari setiap setan yang durhaka.” (QS. As-Saffat: 6–7)
Dalam konteks ini, para mufassir seperti Ibnu Katsir memaknai meteor sebagai tanda kekuasaan Allah yang berfungsi menjaga keteraturan langit. Ia bukan sekadar fenomena fisik, melainkan manifestasi kehendak Ilahi yang mengatur jagat raya dengan keseimbangan yang sempurna.
Sementara dari sisi hadis, Rasulullah SAW juga pernah bersabda tentang bintang yang terjatuh sebagai tanda penjagaan Allah terhadap wahyu dari pencurian berita oleh jin. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa para sahabat pernah melihat bintang jatuh, lalu Rasulullah bersabda:
“Bukan karena kelahiran atau kematian seseorang bintang itu terjatuh, tetapi Allah menembakkannya untuk mengusir setan yang berusaha mencuri dengar berita dari langit.” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan agar umat Islam tidak menafsirkan fenomena langit dengan mitos atau tahayul. Meteor bukan pertanda sial, bukan pula alamat kematian seseorang, melainkan fenomena yang menegaskan keteraturan ciptaan Allah.
Dari sudut pandang ilmiah, meteor terbentuk ketika benda langit kecil memasuki atmosfer bumi dan terbakar karena gesekan udara. Namun dari sisi teologis, kehadirannya mengingatkan manusia akan keagungan Tuhan. Seperti ditegaskan dalam QS. Ali Imran ayat 190–191:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190).
Baca Juga: Ini Kata BMKG Setempat soal Meteor Jatuh di Cirebon
Fenomena meteor di Cirebon seharusnya menjadi momentum bagi manusia untuk merenung. Di balik dentuman dan cahaya singkatnya, tersimpan pesan spiritual tentang kekuasaan dan keteraturan semesta. Alam tidak berbicara dengan kata-kata, tetapi dengan tanda-tanda. Dan hanya mereka yang mau berpikir yang dapat menangkap pesan itu.
Dengan demikian, meteor bukan pertanda bencana atau azab, melainkan simbol kebesaran Allah yang menunjukkan bahwa segala sesuatu di langit dan bumi tunduk kepada-Nya. Seperti langit yang dijaga dari kekacauan, manusia pun diajak menjaga dirinya dari kekacauan moral dan spiritual agar tetap seimbang sebagaimana keteraturan langit ciptaan Tuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







