Naskah Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Memaknai Kurban di Era Modern

AKURAT.CO Berikut naskah khutbah Jumat bulan Dzulhijjah dengan jduul Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Memaknai Kurban di Era Modern.
Khutbah Pertama
الحمد لله الذي جعل مناسك الحج والنسك عبادةً يتقرب بها العبد إلى ربه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، أمر بالتقوى، وجعلها مفتاحًا لكل خير. وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي المقصرة بتقوى الله عز وجل، فهي وصية الله للأولين والآخرين، قال تعالى:
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا ٱللَّهَ
(النساء: 131)
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah." (QS. An-Nisa: 131)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bulan Dzulhijjah adalah bulan pengorbanan, bulan yang mengingatkan kita pada keteladanan Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail ‘alaihimassalam.
Salah satu ibadah utama di bulan ini adalah kurban, yaitu menyembelih hewan sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah.
Namun, bagaimana kita memaknai kurban di tengah era modern seperti sekarang, saat segala hal bisa dilakukan instan, online, bahkan tanpa menyentuh hewan kurban itu sendiri?
Allah SWT berfirman:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
(الحج: 37)
Artinya: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)
Jelas bahwa esensi kurban bukanlah pada daging dan darah semata, tapi pada niat, ketulusan, dan nilai ketakwaan yang mengiringi setiap tetes darah hewan kurban.
Di era modern ini, kita menghadapi tantangan baru: kurban menjadi formalitas, sekadar transfer uang, bahkan kadang diserahkan sepenuhnya kepada panitia tanpa keterlibatan hati. Padahal ruh dari ibadah kurban adalah penyerahan diri dan kesadaran pengorbanan.
Apa makna kurban bagi kita saat ini?
Pertama, kurban adalah simbol willingness kita untuk melepas apa yang kita cintai demi keridhaan Allah. Dalam dunia modern yang serba konsumtif dan hedonis, pengorbanan menjadi kata yang langka. Kurban melatih kita untuk melepaskan ego, mengalahkan cinta harta, dan membiasakan memberi, bukan mengambil.
Baca Juga: Khutbah Jumat Bulan Dzulhijjah: Pelajaran Penting dari Perjuangan Nabi Ibrahim AS
Kedua, kurban mengajarkan kepekaan sosial. Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial, kurban mengingatkan kita bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Kurban adalah cara konkret berbagi dengan mereka yang jarang makan daging, yang hidup dalam kekurangan.
Ketiga, kurban adalah aktualisasi nilai spiritual di tengah modernitas. Di dunia yang makin sekuler, kurban adalah cara untuk menegaskan identitas tauhid, bahwa kita tetap tunduk kepada Allah di tengah teknologi dan kemajuan.
Ma’asyiral muslimin,
Kurban bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah manifestasi dari prinsip hidup: bahwa kita harus rela melepaskan sebagian nikmat dunia untuk mencapai ridha Allah. Jangan sampai kita ikut kurban hanya karena ikut-ikutan, karena gengsi, atau karena ingin dipuji. Tanamkan niat ikhlas, sertakan hati dalam setiap rupiah yang kita keluarkan, dan doakan agar setiap tetesan darah kurban menjadi saksi keikhlasan kita di hadapan Allah kelak.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله الذي هدانا لهذا، وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita teguhkan kembali niat kita di bulan Dzulhijjah ini. Jika kita memiliki kemampuan, berkurbanlah. Jika belum mampu, tanamkan niat dan teruslah berdoa agar Allah memberi kita rezeki dan kesempatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ
(HR. Tirmidzi)
Artinya: "Tidak ada amal anak Adam yang lebih dicintai Allah pada hari Idul Adha daripada menyembelih hewan kurban." (HR. Tirmidzi)
Mari jadikan kurban sebagai momentum memperkuat solidaritas, memperdalam ketakwaan, dan membangun kesadaran berbagi. Bukan hanya berbagi daging, tetapi juga berbagi perhatian, empati, dan kepedulian kepada sesama.
Baca Juga: Contoh Naskah Khutbah Jumat 23 Mei 2025: Kurban Tanda Penyerahan Diri Sepenuhnya kepada Allah!
Jika kita belum bisa menyembelih hewan kurban, mari kita "sembelih" sifat egois kita, "sembelih" hawa nafsu, dan "sembelih" kecintaan yang berlebihan kepada dunia.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَوَفِّقْنَا لِأَنْ نُقَدِّمَ أَحَبَّ مَا عِنْدَنَا فِي سَبِيلِكَ، كَمَا فَعَلَ خَلِيلُكَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









