Akurat

Ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin di Hari Raya Idul Fitri 2025 Berasal dari Mana? Kapan Pertama Kali Lebaran Dirayakan?

Fajar Rizky Ramadhan | 24 Maret 2025, 13:25 WIB
Ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin di Hari Raya Idul Fitri 2025 Berasal dari Mana? Kapan Pertama Kali Lebaran Dirayakan?

AKURAT.CO Ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin di Hari Raya Idul Fitri 2025 berasal dari mana? Kapan pertama kali lebaran dirayakan?

Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan berbagai tradisi, termasuk saling mengucapkan selamat setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Salah satu ucapan yang sering terdengar di Indonesia adalah "Minal ‘Aidin wal Faizin." Namun, dari mana sebenarnya ucapan ini berasal?

Apakah ada dasar historis atau dalil Islam yang mendukung penggunaannya? Selain itu, kapan pertama kali umat Islam merayakan Idul Fitri?

Asal-Usul Ucapan "Minal ‘Aidin wal Faizin"

Ucapan "Minal ‘Aidin wal Faizin" bukanlah doa yang berasal langsung dari hadis Nabi Muhammad saw. Secara harfiah, frasa ini berasal dari bahasa Arab:

  • مِنَ العَائِدِينَ وَالفَائِزِينَ (Minal ‘Aidin wal Faizin)
  • Artinya: "Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan memperoleh kemenangan."

Ucapan ini merupakan bagian dari frasa yang lebih panjang:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَجَعَلَنَا مِنَ العَائِدِينَ وَالفَائِزِينَ

(Taqabbalallahu minna wa minkum wa ja’alana minal ‘aidin wal faizin), yang berarti:

"Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan memperoleh kemenangan."

Meskipun ungkapan ini tidak secara langsung diajarkan dalam hadis Nabi, umat Islam telah menggunakannya sebagai bagian dari budaya Islam yang berkembang, terutama di dunia Arab dan Asia Tenggara.

Baca Juga: 50 Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 2025 yang Islami dan Sesuai Sunnah

Apakah Ucapan Ini Diajarkan dalam Islam?

Jika merujuk pada riwayat dari para sahabat, ucapan yang lebih mendekati sunnah adalah:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

(Taqabbalallahu minna wa minkum), yang artinya:

"Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian."

Ucapan ini dikatakan berasal dari kebiasaan para sahabat Nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Jubair bin Nufair, dikisahkan bahwa mereka saling mengucapkan kalimat ini setelah Idul Fitri. (HR. Al-Faryabi dalam Ahkam Al-Idain).

Namun, karena makna "Minal ‘Aidin wal Faizin" juga baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, ucapan ini tetap populer dan digunakan secara luas dalam perayaan Idul Fitri, terutama di Indonesia dan Malaysia.

Sejarah Perayaan Idul Fitri: Kapan Lebaran Pertama Kali Dirayakan?

Perayaan Idul Fitri pertama kali terjadi pada tahun 2 Hijriah (623 Masehi), setelah Allah mewajibkan puasa Ramadan kepada umat Islam.

Menurut berbagai sumber sejarah, Nabi Muhammad saw. dan para sahabat merayakan Idul Fitri pertama kali di Madinah. Rasulullah saw. memberikan khutbah, memerintahkan zakat fitrah, dan mengajak kaum Muslimin untuk bersuka cita setelah satu bulan penuh beribadah.

Dari sinilah tradisi Idul Fitri berkembang, termasuk shalat Id berjamaah, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Bagaimana Perayaan Idul Fitri Berkembang di Indonesia?

Di Indonesia, istilah Lebaran lebih umum digunakan dibanding Idul Fitri. Kata "Lebaran" sendiri berasal dari tradisi Jawa dan kemungkinan berasal dari kata dalam bahasa Kawi yang berarti "selesai" atau "usai."

Tradisi perayaan Idul Fitri di Nusantara diperkirakan mulai berkembang sejak Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang Arab, Gujarat, dan ulama dari Timur Tengah sekitar abad ke-13 hingga 15 Masehi.

Wali Songo berperan besar dalam menyebarkan Islam dan membentuk budaya Lebaran yang khas, seperti:

  • Mudik – Tradisi pulang kampung yang menggambarkan hubungan sosial yang erat.
  • Ketupat dan Opor – Simbolisasi permintaan maaf dan penyucian diri.
  • Halal Bihalal – Budaya saling bersilaturahmi dan memaafkan yang unik di Indonesia.

Baca Juga: 20 Desain Amplop Lebaran 2025 yang Menarik dan Lucu, Gratis Unduh!

Ucapan "Minal ‘Aidin wal Faizin" bukan berasal dari hadis Nabi secara langsung, tetapi merupakan bagian dari budaya Islam yang berkembang. Ucapan yang lebih sesuai sunnah adalah "Taqabbalallahu minna wa minkum."

Perayaan Idul Fitri pertama kali dirayakan pada tahun 2 Hijriah di Madinah, sementara di Indonesia, tradisi Lebaran berkembang melalui pengaruh Wali Songo dan akulturasi budaya Islam dengan tradisi lokal.

Meskipun berbagai tradisi berkembang di setiap negara, esensi Idul Fitri tetap sama: merayakan kemenangan spiritual, kembali ke fitrah, dan memperkuat tali silaturahmi dengan sesama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.