Akurat

Mengapa 17 Ramadhan Disebut Malam Nuzulul Quran? Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Fajar Rizky Ramadhan | 17 Maret 2025, 07:25 WIB
Mengapa 17 Ramadhan Disebut Malam Nuzulul Quran? Berikut Penjelasan Ilmiahnya

AKURAT.CO Mengapa 17 Ramadhan disebut Malam Nuzulul Quran? Berikut penjelasan ilmiahnya.

Sejak dahulu, diyakini bahwa tanggal 17 Ramadhan adalah malam turunnya Al-Qur’an, atau yang dikenal dengan istilah Nuzulul Quran.

Hal ini jelas-jelas nyata, sehingga di berbagai wilayah, peringatan Nuzulul Quran dijadikan momen refleksi spiritual.

Namun, apakah benar Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan? Dan bagaimana penjelasan ilmiah serta historis terkait hal ini?

Asal-Usul Keyakinan 17 Ramadhan

Salah satu rujukan utama yang sering dikutip untuk menetapkan 17 Ramadhan sebagai malam Nuzulul Quran adalah QS. Al-Anfal ayat 41, yang berbunyi:

"...jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan..."

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2025 Jakarta dan Sekitarnya, Senin 17 Maret 2025

Ayat ini merujuk pada Perang Badar, yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah.

Dalam beberapa tafsir, seperti Tafsir al-Maraghi dan Tafsir al-Muyassar, hari Furqan (hari pembeda) ini dikaitkan dengan turunnya Al-Qur’an pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari sinilah muncul keyakinan bahwa wahyu pertama, yakni QS. Al-‘Alaq ayat 1-5, juga turun pada tanggal 17 Ramadhan.

Selain itu, dalam riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, beliau mengutip pendapat beberapa ulama yang menyatakan bahwa wahyu pertama turun pada malam 17 Ramadhan, berdasarkan perhitungan sejarah Islam dan periwayatan dari sahabat.

Pendapat Lain: Al-Qur’an Diturunkan di Lailatul Qadar

Namun, jika merujuk pada QS. Al-Qadr ayat 1:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar."

Maka muncul pertanyaan, apakah Lailatul Qadar sama dengan 17 Ramadhan? Banyak ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa Nuzulul Quran tidak terjadi pada 17 Ramadhan, melainkan pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pendapat ini diperkuat dengan konsep bahwa Al-Qur’an turun dalam dua fase:

  1. Nazil Jam’i (Turun Sekaligus) – Al-Qur’an dikatakan turun secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada Lailatul Qadar.
  2. Nazil Tanjimi (Turun Bertahap) – Dari Baitul ‘Izzah, wahyu kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun.

Berdasarkan konsep ini, beberapa ulama seperti Imam As-Suyuthi dalam "Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an" berpendapat bahwa wahyu pertama (Iqra’) bisa jadi turun pada Lailatul Qadar, yang belum tentu bertepatan dengan 17 Ramadhan.

Baca Juga: Ustazah Desi Purnama: Tak Hanya Mewajibkan Puasa, Allah Ingin Kita Bertakwa

Meskipun ada berbagai pendapat mengenai kapan tepatnya wahyu pertama turun, tanggal 17 Ramadhan tetap diakui sebagai momentum penting dalam sejarah Islam.

Peringatan Nuzulul Quran di tanggal ini lebih bersifat sebagai peneguhan tradisi Islam yang berkembang di berbagai komunitas Muslim, khususnya di Indonesia dan Malaysia.

Dari sisi ilmiah, tidak ada kepastian absolut bahwa 17 Ramadhan adalah tanggal pasti turunnya wahyu pertama.

Namun, dalam studi sejarah Islam, penetapan tanggal ini memiliki dasar yang cukup kuat dari sumber-sumber tafsir dan hadis.

Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Quran lebih merupakan bentuk penghormatan terhadap momen awal turunnya wahyu, bukan penegasan tentang kepastian tanggalnya.

Bagaimanapun, baik itu pada 17 Ramadhan maupun di Lailatul Qadar, yang lebih utama adalah bagaimana kita memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Karena esensi dari Nuzulul Quran bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghidupkan nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan nyata.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.