Peran Perempuan di Bidang STEM pada Masa Nabi dan Sahabatnya

AKURAT.CO Peran perempuan di bidang STEM di masa nabi dan para sahabatnya cukup jelas dan konkrit.
Perdebatan tentang partisipasi perempuan dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sering kali dianggap sebagai isu modern.
Namun, jika kita menengok kembali ke masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, sejarah menunjukkan bahwa perempuan telah berkontribusi signifikan dalam bidang-bidang yang sejalan dengan konsep STEM.
Dalam Islam, pencarian ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan (HR. Ibnu Majah: 224).
Oleh karena itu, perempuan pada masa awal Islam tidak hanya berperan dalam urusan domestik tetapi juga terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Artikel ini berusaha mengungkap peran perempuan di bidang STEM pada masa Nabi dan sahabat dengan mengacu pada sumber-sumber ilmiah, seperti kitab klasik dan kajian akademis kontemporer.
Baca Juga: Distribusi Bantuan Pangan Non Tunai di Masa Sahabat Nabi Muhammad SAW
Perempuan dan Sains (Ilmu Pengetahuan Alam)
Peran perempuan dalam bidang sains terlihat dalam aktivitas mereka dalam bidang pengobatan dan kesehatan. Salah satu tokoh perempuan yang terkenal adalah Rufaidah binti Sa’ad Al-Aslamiyah.
Rufaidah dikenal sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam dan berperan penting dalam merawat para pejuang yang terluka dalam peperangan, seperti dalam Perang Khandaq (Ibn Hajar Al-Asqalani, Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah).
Rufaidah tidak hanya terbatas pada perawatan medis tetapi juga memiliki keterampilan dalam diagnosa dan pengobatan penyakit.
Dia mengembangkan metode perawatan yang sistematis dan mendirikan semacam tenda medis yang berfungsi seperti rumah sakit lapangan.
Dalam kajian modern, kontribusi Rufaidah sering disebut sebagai fondasi awal ilmu keperawatan dalam tradisi Islam (Al-Khathib, 2011).
Perempuan dan Teknologi
Teknologi pada masa Nabi Muhammad SAW tentu berbeda dengan definisi modern, tetapi inovasi dan keterampilan teknis sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk teknologi pada masa itu adalah manajemen sistem irigasi dan pertanian, di mana perempuan juga berperan.
Asma’ binti Abu Bakr dikenal tidak hanya sebagai pendukung perjuangan Islam tetapi juga terampil dalam mengelola sumber daya seperti air dan logistik selama masa hijrah (Ibn Sa’ad, Tabaqat al-Kubra).
Kemampuan perempuan dalam bidang ini menunjukkan bahwa mereka memiliki pemahaman teknis dalam mengelola peralatan pertanian dan distribusi air, yang pada dasarnya merupakan bagian dari teknologi pada masa itu.
Perempuan dan Matematika
Meskipun tidak banyak catatan spesifik tentang perempuan dalam bidang matematika pada masa Nabi, konsep faraidh (ilmu waris) menuntut pemahaman mendalam tentang matematika.
Aisyah binti Abu Bakr dikenal sebagai salah satu perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadits dan ahli dalam ilmu faraidh.
Pengetahuan tentang pembagian warisan dalam Islam membutuhkan penguasaan perhitungan yang akurat dan logis, yang menunjukkan keterlibatan perempuan dalam aspek matematis hukum Islam (Al-Suyuti, Tadrib al-Rawi).
Perempuan dan Rekayasa (Engineering)
Dalam bidang rekayasa, kontribusi perempuan terlihat dalam pengembangan arsitektur dan konstruksi rumah serta fasilitas umum. Ummu Sinan Al-Aslamiyah dikenal membantu pembangunan tenda dan struktur dalam berbagai ekspedisi militer Nabi Muhammad SAW.
Kemampuan ini menunjukkan pemahaman tentang desain, struktur, dan material yang dapat dikategorikan sebagai aspek awal dalam bidang rekayasa (Al-Baladhuri, Futuh al-Buldan).
Implikasi dan Relevansi Kontemporer
Peran perempuan dalam bidang STEM pada masa Nabi dan sahabat membuktikan bahwa Islam sejak awal telah mendukung keterlibatan perempuan dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Islam tidak pernah membatasi perempuan untuk berkontribusi dalam bidang-bidang strategis dan intelektual.
Saat ini, dengan meningkatnya kesadaran tentang kesetaraan gender di bidang STEM, pelajaran dari sejarah Islam ini menjadi relevan. Perempuan Muslim dapat mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh seperti Rufaidah, Aisyah, dan Asma’ untuk berkiprah dalam bidang sains, teknologi, matematika, dan rekayasa.
Akhirnya, studi tentang peran perempuan di bidang STEM pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat mengungkapkan betapa luas dan beragam kontribusi mereka.
Melalui kajian historis dan ilmiah, kita dapat melihat bahwa Islam telah mengangkat derajat perempuan dalam ranah intelektual dan teknis sejak awal.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengembangkan potensi perempuan dalam bidang STEM dengan semangat yang sama seperti yang dicontohkan oleh para perempuan pada masa awal Islam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










