Malam Nisfu Syaban, Apa Tanda-Tanda Amalan Seseorang Diterima Allah?

AKURAT.CO Malam Nisfu Syaban adalah salah satu malam yang penuh dengan keberkahan dan ampunan dari Allah.
Pada malam ini, banyak umat Islam yang meningkatkan ibadah, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memohon ampun kepada Allah.
Namun, setelah menjalankan berbagai ibadah tersebut, muncul satu pertanyaan yang sering mengusik hati: apakah amal ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah?
Dalam Al-Qur’an dan hadis, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa suatu amalan diterima oleh Allah. Salah satu tanda utama diterimanya amal adalah adanya perubahan dalam diri seseorang menuju kebaikan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma'idah: 27)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan adalah kunci utama dalam diterimanya amal. Jika setelah malam Nisfu Syaban seseorang merasa lebih dekat kepada Allah, lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, dan lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan, itu adalah salah satu tanda bahwa amalannya diterima.
Selain itu, tanda lain dari diterimanya amal adalah bertambahnya keikhlasan dalam beribadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ."
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap wajah-Nya." (HR. Nasa’i).
Baca Juga: Malam Nisfu Syaban Lupa Baca Surah Yasin 3 Kali, Bagaimana Solusinya?
Ikhlas berarti seseorang beribadah bukan karena ingin dipuji atau mendapatkan keuntungan duniawi, tetapi semata-mata untuk mencari ridha Allah.
Jika setelah malam Nisfu Syaban seseorang semakin menyadari pentingnya melakukan segala sesuatu karena Allah, itu adalah indikasi bahwa amalannya diterima.
Tanda berikutnya adalah munculnya rasa takut dan harap kepada Allah. Orang yang amalnya diterima tidak akan merasa sombong atau puas diri, tetapi justru semakin rendah hati dan berharap agar Allah senantiasa menerima ibadahnya. Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan sifat orang-orang beriman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Artinya: "Dan orang-orang yang memberikan (sedekah atau amal) dengan hati yang penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mu’minun: 60)
Jika setelah beribadah seseorang merasa semakin takut akan amalannya yang mungkin belum sempurna dan berharap ampunan serta rahmat Allah, maka itu adalah pertanda bahwa ia termasuk hamba yang beriman.
Selain itu, diterimanya amal juga ditandai dengan munculnya kecintaan kepada amal saleh dan kebencian terhadap kemaksiatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ."
Artinya: "Jika engkau merasa senang ketika melakukan kebaikan dan merasa sedih ketika melakukan dosa, maka engkau adalah seorang mukmin." (HR. Ahmad)
Jika setelah malam Nisfu Syaban seseorang merasa lebih ringan dalam beribadah, lebih mencintai kebaikan, dan semakin menjauhi maksiat, maka itu adalah tanda bahwa amalannya diterima oleh Allah.
Tanda terakhir adalah doa yang dipermudah dan hati yang merasa tenteram. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Baca Juga: Menuju Malam Nisfu Syaban: Amalan dan Doa yang Dianjurkan
Jika setelah malam Nisfu Syaban hati seseorang menjadi lebih damai, lebih yakin kepada takdir Allah, dan lebih mudah untuk berdoa serta beribadah, maka itu adalah pertanda bahwa amalnya diterima oleh Allah.
Dengan demikian, seseorang yang telah beribadah di malam Nisfu Syaban dapat melihat tanda-tanda ini dalam dirinya.
Jika ia merasakan perubahan menuju kebaikan, lebih ikhlas, semakin takut kepada Allah, lebih mencintai amal saleh, dan hatinya lebih tenteram, maka itu adalah bukti bahwa Allah menerima amalannya.
Namun, seorang mukmin sejati tidak akan berhenti di satu malam saja, melainkan terus meningkatkan ibadahnya sepanjang tahun agar selalu mendapatkan ridha dan rahmat dari Allah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









