Akurat

Validitas Peristiwa Isra Mi'raj Berdasarkan Keilmuan Sains, Membungkam yang Menolak

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Januari 2025, 10:45 WIB
Validitas Peristiwa Isra Mi'raj Berdasarkan Keilmuan Sains, Membungkam yang Menolak

AKURAT.CO Peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu kejadian luar biasa dalam tradisi Islam yang diceritakan terjadi pada Nabi Muhammad SAW.

Dalam peristiwa ini, beliau dikisahkan melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), dilanjutkan dengan perjalanan menembus langit hingga Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah SWT (Mi'raj).

Bagi umat Muslim, Isra Mi'raj adalah peristiwa spiritual yang melampaui batasan fisik, namun ketika ditinjau melalui perspektif sains, narasi ini seringkali memunculkan pertanyaan tentang validitasnya dari sisi ilmiah.

Perspektif Relativitas dan Waktu

Teori relativitas yang dikembangkan oleh Albert Einstein memberikan kerangka ilmiah untuk memahami bagaimana waktu dan ruang dapat berubah dalam kondisi tertentu.

Dalam teori ini, waktu bersifat relatif dan dapat melambat ketika seseorang bergerak mendekati kecepatan cahaya.

Konsep ini membuka peluang untuk memahami perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW sebagai sesuatu yang secara teoretis mungkin terjadi dalam dimensi yang berbeda.

Jika perjalanan Isra Mi'raj terjadi di luar kerangka ruang-waktu normal, maka pengalaman tersebut tidak sepenuhnya tunduk pada hukum fisika yang biasa kita pahami.

Baca Juga: 25 Quotes Isra Mi'raj, Penuh Makna dan Cocok Diposting di Sosial Media

Penjelasan ini didukung oleh ide-ide modern mengenai lubang cacing (wormholes), yaitu jembatan teoretis yang menghubungkan dua titik berbeda di ruang-waktu.

Dalam jurnal Physical Review Letters (Morris, Thorne, & Yurtsever, 1988), dijelaskan bahwa keberadaan lubang cacing memungkinkan perjalanan yang sangat cepat antara dua titik yang berjauhan.

Meskipun konsep ini masih berupa teori dan belum terbukti secara empiris, ia memberikan kemungkinan bahwa perjalanan Isra Mi'raj dapat melibatkan mekanisme serupa.

Pengalaman Spiritual dan Kesadaran

Dari sudut pandang neurosains, pengalaman Isra Mi'raj dapat ditinjau sebagai pengalaman transendental yang melibatkan dimensi kesadaran yang lebih tinggi.

Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology (2020) menunjukkan bahwa pengalaman mistis atau spiritual sering kali melibatkan aktivasi bagian otak tertentu, seperti korteks prefrontal dan limbik, yang bertanggung jawab atas rasa keterhubungan dan makna mendalam.

Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW selama Isra Mi'raj mungkin melibatkan aspek kesadaran yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sains materialistik.

Kecepatan Cahaya dan Teknologi Masa Depan

Dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra' (17:1), Allah menyebutkan perjalanan Nabi Muhammad SAW sebagai "diperjalankan" (asra), yang menunjukkan bahwa beliau tidak melakukan perjalanan ini dengan upaya fisiknya sendiri.

Hal ini dapat diasosiasikan dengan teknologi atau mekanisme yang melampaui pemahaman manusia saat itu.

Sains modern telah mencatat bahwa kecepatan cahaya (299.792.458 m/s) adalah batas kecepatan maksimum di alam semesta, namun konsep ini terus diuji dalam penelitian fisika kuantum.

Penemuan partikel subatomik seperti neutrino dan pengembangan teknologi teleportasi kuantum membuka kemungkinan bahwa perjalanan lintas ruang-waktu dapat diwujudkan di masa depan.

Dalam konteks Isra Mi'raj, hal ini memberikan kerangka bahwa perjalanan tersebut mungkin menggunakan mekanisme yang saat ini belum dapat dijelaskan oleh sains.

Baca Juga: Isra Mi'raj 2025 Kapan? Ini 5 Tema Menarik untuk Peringatan Isra Mi'raj

Kesimpulannya, Isra Mi'raj adalah peristiwa yang melibatkan dimensi spiritual, fisik, dan metafisik.

Meskipun sains modern belum mampu memberikan penjelasan komprehensif, berbagai teori seperti relativitas waktu, lubang cacing, dan kesadaran transendental memberikan kerangka ilmiah untuk memahami aspek-aspek peristiwa tersebut.

Dalam perspektif iman, Isra Mi'raj adalah mukjizat yang menunjukkan kebesaran Allah SWT dan keterbatasan ilmu manusia.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, mungkin saja suatu hari nanti sains dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai fenomena luar biasa ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.