Akurat

Siapa Saja yang Menolak Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW?

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Januari 2025, 10:30 WIB
Siapa Saja yang Menolak Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW?

AKURAT.CO Peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam.

Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW, dalam satu malam, diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra), kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu (Mi'raj).

Peristiwa ini termaktub dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra ayat 1, serta dijelaskan dalam berbagai hadis. Namun, tidak semua orang pada masa itu menerima peristiwa ini begitu saja.

Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan pengalaman luar biasanya kepada kaum Quraisy, banyak di antara mereka yang langsung menolak dan mencemoohnya.

Kaum kafir Quraisy, yang sejak awal memang bersikap skeptis terhadap kenabian Muhammad SAW, menjadikan peristiwa ini sebagai bahan ejekan.

Menurut mereka, perjalanan sejauh itu, yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, tidak mungkin dilakukan hanya dalam satu malam. Mereka menganggap cerita itu sebagai sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal berdasarkan logika manusia.

Baca Juga: Isra Mi'raj 2025 Kapan? Ini 5 Tema Menarik untuk Peringatan Isra Mi'raj

Salah satu tokoh Quraisy yang terang-terangan menolak adalah Abu Jahal. Ketika mendengar kisah Isra Mi'raj, ia segera menggunakan hal tersebut untuk memperolok Nabi di depan khalayak.

Abu Jahal bahkan mengumpulkan orang-orang untuk mendengarkan cerita Nabi, berharap mereka juga akan mengejeknya.

Ia berkata, "Apakah kalian percaya bahwa Muhammad mengaku telah pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam?" Pertanyaan retoris ini disampaikan untuk menggiring opini negatif terhadap Nabi.

Tidak hanya Abu Jahal, sebagian besar masyarakat Mekkah pada saat itu, terutama yang belum menerima Islam, juga menolak peristiwa ini.

Bagi mereka, kepercayaan terhadap mukjizat seperti Isra Mi'raj bertentangan dengan pandangan dunia materialistis yang mereka anut.

Meski demikian, ada pula yang mendengarkan kisah tersebut dengan penuh perhatian tetapi tetap bingung, seperti halnya beberapa orang yang berada di ambang keimanan dan kekufuran.

Namun, dalam situasi yang penuh skeptisisme ini, muncul pembelaan yang tegas dari Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ketika orang-orang Quraisy datang kepadanya dan berkata, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan sahabatmu? Ia mengaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam satu malam," Abu Bakar tanpa ragu menjawab, "Jika Muhammad yang berkata demikian, maka aku mempercayainya."

Keyakinan Abu Bakar terhadap kebenaran Nabi begitu kuat sehingga ia mendapat gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan).

Penolakan terhadap Isra Mi'raj tidak hanya datang dari kalangan Quraisy. Sebagian kelompok Yahudi di Madinah yang sudah mengenal konsep kenabian tetapi menolak keras kerasulan Muhammad SAW juga menganggap kisah ini sebagai bahan untuk mendiskreditkan beliau.

Padahal, mereka sebenarnya memahami mukjizat seperti itu bukanlah hal baru dalam tradisi keagamaan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa penolakan mereka lebih bersifat ideologis ketimbang rasional.

Di sisi lain, bagi umat Islam yang beriman, peristiwa Isra Mi'raj menjadi ujian keimanan yang luar biasa.

Baca Juga: Isra Mi'raj 2025 Kapan? Ini Contoh Rangkaian Acara Isra Mi'raj

Mereka yang benar-benar percaya kepada Nabi Muhammad SAW tetap teguh dalam keyakinan meskipun menghadapi cemoohan dan tekanan dari lingkungan sekitar.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika manusia; ia membutuhkan keyakinan yang melampaui keterbatasan akal.

Hingga kini, peristiwa Isra Mi'raj tetap menjadi perbincangan yang sarat makna. Bagi kaum Muslim, ia adalah lambang kebesaran Allah dan bukti kenabian Muhammad SAW.

Namun, bagi mereka yang menolak, baik pada masa lalu maupun sekarang, mukjizat ini sering kali hanya dianggap sebagai mitos atau alegori belaka. Ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap kebenaran sering kali dipengaruhi oleh sikap hati dan pandangan hidup seseorang, bukan semata-mata oleh bukti atau argumentasi logis.

Dengan demikian, peristiwa Isra Mi'raj bukan hanya tentang perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perjalanan spiritual umat manusia dalam memahami iman, ilmu, dan kebenaran ilahi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.