Akurat

Sejarah Penyebaran Islam di Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Fajar Rizky Ramadhan | 22 November 2024, 10:00 WIB
Sejarah Penyebaran Islam di Kabupaten Bandung, Jawa Barat

AKURAT.CO Kabupaten Bandung, yang terletak di Provinsi Jawa Barat, merupakan salah satu daerah dengan sejarah panjang terkait penyebaran Islam di Nusantara.

Wilayah ini memiliki peran penting dalam pembentukan identitas Islam di Tatar Sunda, yang berkembang melalui proses akulturasi budaya lokal dengan ajaran Islam.

1. Awal Masuknya Islam di Tatar Sunda

Islam masuk ke Tatar Sunda melalui jalur perdagangan pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Para pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, dan Persia membawa agama Islam ke Nusantara, termasuk ke wilayah Jawa Barat.

Berdasarkan catatan sejarah, Kerajaan Sunda pada masa itu memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Banten dan Cirebon, yang menjadi pintu gerbang utama penyebaran Islam di kawasan ini (Kusnadi, 2007).

Namun, penyebaran Islam di pedalaman seperti Kabupaten Bandung memerlukan waktu lebih lama dibandingkan daerah pesisir. Hal ini disebabkan oleh akses geografis yang sulit serta keberadaan sistem kepercayaan lokal yang kuat, seperti Sunda Wiwitan.

Baca Juga: Hari Guru Nasional, Mengapa Guru Harus Dimuliakan? Ini Jawabannya menurut Islam

2. Peran Kesultanan Cirebon dan Demak

Kesultanan Cirebon dan Demak memainkan peran penting dalam memperluas Islam ke wilayah pedalaman Sunda, termasuk Bandung.

Para ulama dan wali dari kedua kesultanan ini menggunakan pendekatan dakwah kultural yang bersifat damai, seperti melalui seni, pertunjukan wayang, dan musik tradisional Sunda. Mereka juga mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam di wilayah ini (Yusup, 2010).

Pesantren-pesantren awal seperti di daerah Ciparay dan Dayeuhkolot didirikan oleh para ulama untuk menyebarkan ajaran Islam. Pesantren ini menjadi titik awal penyebaran Islam di wilayah Kabupaten Bandung.

3. Islamisasi di Era Mataram Islam

Pada abad ke-17, ekspansi Kerajaan Mataram Islam ke Jawa Barat juga berkontribusi pada Islamisasi di wilayah Bandung. Saat itu, Mataram berhasil memperluas pengaruhnya hingga ke Priangan melalui perjanjian dengan VOC.

Dalam proses ini, terjadi penyebaran ajaran Islam dengan cara pengiriman para ulama dan pembentukan sistem pemerintahan Islam di tingkat lokal (Kartodirdjo, 1987).

Para tokoh ulama seperti Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan, Tasikmalaya, juga memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Bandung dan sekitarnya. Mereka dikenal sebagai tokoh sufi yang menyebarkan ajaran tarekat kepada masyarakat lokal.

4. Penyebaran Islam di Masa Kolonial Belanda

Pada masa kolonial Belanda, Islam terus berkembang di Kabupaten Bandung meskipun mengalami berbagai tantangan. Kolonial Belanda cenderung membatasi aktivitas Islam yang dianggap dapat memobilisasi perlawanan rakyat.

Namun, pesantren tetap menjadi pusat pendidikan dan perlawanan kultural terhadap penjajahan.

Tokoh-tokoh lokal, seperti K.H. Hasan Mustapa, memainkan peran penting dalam mempertahankan tradisi Islam Sunda. Beliau tidak hanya seorang ulama, tetapi juga seorang sastrawan yang menulis karya-karya sufi berbahasa Sunda (Fathurahman, 2008).

Baca Juga: Kecelakaan Ngaliyan Semarang Tewaskan 2 Orang, Ini Doa Selamat dalam Perjalanan

5. Dampak Islamisasi terhadap Budaya Lokal

Proses Islamisasi di Kabupaten Bandung tidak menghilangkan budaya lokal, melainkan menciptakan akulturasi unik antara Islam dan tradisi Sunda. Misalnya, tradisi nyantri dan upacara adat seperti seren taun diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam.

Adanya pengaruh tarekat seperti Naqsyabandiyah dan Qadiriyah di Bandung juga menunjukkan bahwa masyarakat Sunda cenderung menerima Islam dalam kerangka sufisme, yang selaras dengan karakter spiritual mereka.

Sejarah penyebaran Islam di Kabupaten Bandung merupakan hasil dari perjalanan panjang yang melibatkan berbagai faktor, seperti peran pedagang, ulama, dan kerajaan Islam.

Islamisasi di daerah ini berlangsung melalui pendekatan damai, yang memungkinkan terjadinya akulturasi budaya antara Islam dan tradisi Sunda.

Pesantren sebagai pusat pendidikan Islam memainkan peran kunci dalam menyebarkan ajaran Islam dan melestarikan nilai-nilai lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.