Ustadz Fatih Karim, Pendakwah yang Lahir dari Rahim Hizbut Tahrir

AKURAT.CO Ustadz Fatih Karim dikenal sebagai salah satu tokoh yang erat dengan organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Sosoknya banyak dikenang, terutama oleh para mantan aktivis HTI, termasuk Ustadz Felix Siauw.
Perjalanan pendidikan Ustadz Fatih tak dimulai dari jalur keagamaan. Ia menyelesaikan pendidikan D3 Agribisnis di Universitas Padjadjaran dan meraih gelar S1 dari Institut Pertanian Bogor (IPB) di bidang yang sama. Namun, ilmu pertanian ini bukanlah jalan utama dalam karier hidupnya.
Bergabung dengan HTI dan Awal Cinta pada Islam
Pada tahun 1997, Ustadz Fatih memulai babak baru dalam hidupnya dengan bergabung bersama HTI.
Organisasi inilah yang membuka jalan baginya untuk mempelajari agama Islam. Di bawah binaan HTI, ia mempelajari berbagai aspek keislaman, termasuk akidah, akhlak, dakwah, dan syariah.
Di samping itu, ia juga mendalami disiplin ilmu seperti Ulumul Qur’an, Hadits, Ushul Fiqh, Tafsir, Sirah Nabi, dan konsep politik Islam seperti Khilafah.
Menurut Ustadz Fatih, Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Baca Juga: Viral Tren TikTok 'Nikah Muda', Ternyata Ini Usia yang Tepat untuk Menikah Menurut Islam
Keyakinannya ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad yang menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang tertinggi dan tidak ada yang melebihinya (HR Bukhari).
Sejak saat itu, kecintaannya terhadap Islam semakin tumbuh, disertai dengan semangat untuk menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Khilafah dan Pandangan Politis dalam Dakwah
Salah satu fokus dakwah Ustadz Fatih adalah ide Khilafah, sistem pemerintahan yang diperjuangkan oleh HTI.
Pandangan ini sering dianggap kontroversial karena bertentangan dengan sistem demokrasi dan republik yang berlaku di Indonesia.
Bagi Ustadz Fatih, menolak Khilafah sama dengan menolak ajaran Islam, karena ia memandang Khilafah sebagai bagian integral dari ajaran agama, sejajar dengan kewajiban seperti shalat dan puasa.
Meski HTI resmi dibubarkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2017, Ustadz Fatih tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang diajarkan oleh organisasi tersebut.
Ia menganggap HTI sebagai "ibu" yang telah melahirkan dan membesarkannya dalam dunia dakwah. Baginya, HTI bukan hanya mengajarkan Khilafah, tetapi juga menyerukan umat untuk hidup di bawah naungan aturan-aturan Allah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dakwah sebagai Tugas dan Pengabdian
Ustadz Fatih melihat dakwah sebagai kewajiban setiap Muslim, bukan sekadar tugas individual atau pesanan penguasa.
Ia menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan tulus karena Allah, bukan untuk kepentingan duniawi.
Pesan ini sejalan dengan ajaran HTI yang terus aktif berdakwah di berbagai negara, meskipun sering menghadapi tantangan dan penolakan.
Bagi Ustadz Fatih, perjuangan dakwah ini bukanlah aktivitas yang merugikan negara. Ia menegaskan bahwa dakwah HTI bebas dari kekerasan, korupsi, dan tindakan kriminal.
Bahkan, ia menilai gerakan ini berperan positif dalam melawan ideologi kapitalisme dan berbagai sistem yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Perjalanan hidup Ustadz Fatih Karim adalah kisah tentang seseorang yang menemukan panggilan hidupnya di luar jalur pendidikan formalnya.
Dari seorang mahasiswa agribisnis, ia bertransformasi menjadi pendakwah yang berjuang untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam bersama HTI.
Meski dakwahnya sering dipandang kontroversial karena sarat dengan nuansa politis, bagi Ustadz Fatih, hal itu adalah bagian dari pengabdian dan perjuangan untuk menegakkan Islam secara utuh.
Hingga kini, ia tetap konsisten menjalankan dakwah dan menyebarkan ajaran-ajaran yang ia yakini sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup yang sejati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







