AKURAT.CO Lily Jay, seorang publik figur asal Australia, baru-baru ini menarik perhatian publik setelah bertanya kepada ChatGPT mengenai agama.
Dalam percakapan tersebut, ia menanyakan terkait agama Islam melalui platform kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Jawaban yang diberikan ternyata mengejutkan banyak pihak.
ChatGPT, yang dirancang untuk memberikan informasi berdasarkan data yang ada, merespons dengan pendekatan netral.
Namun, perdebatan muncul mengenai apakah penggunaan teknologi ini sesuai untuk belajar agama, yang seringkali dianggap sebagai sesuatu yang harus dipelajari dari sumber asli seperti Al-Qur’an, Hadis, atau guru agama.
Hukum Belajar Agama Lewat Teknologi Menurut Pandangan Islam
Dalam Islam, belajar agama adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122).
Baca Juga: Viral Video Pria Terbaring di Ciampea Bogor, Diduga Korban Begal
Ayat ini menekankan pentingnya memperdalam ilmu agama. Namun, cara dan sarana yang digunakan dalam belajar agama juga harus diperhatikan.
Dalam konteks ini, beberapa ulama berpendapat bahwa belajar agama melalui teknologi boleh saja, selama sumber yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalil Hadis Tentang Menuntut Ilmu
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini memperkuat kewajiban belajar bagi setiap Muslim, namun tidak membatasi cara menuntut ilmu tersebut. Akan tetapi, yang harus diutamakan adalah memastikan bahwa ilmu yang diperoleh bersumber dari yang benar.
ChatGPT Sebagai Alat Pembantu Belajar
Menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu dalam belajar agama mungkin dapat membantu mendapatkan informasi awal, namun bukan satu-satunya sumber yang dapat diandalkan.
ChatGPT dapat memberikan jawaban berdasarkan data yang ada, tetapi penjelasan mendalam dan penafsiran yang tepat sebaiknya diperoleh dari guru agama atau ulama yang ahli di bidangnya.
Dalam hal ini, teknologi hanyalah alat yang memudahkan akses terhadap informasi. Namun, untuk urusan agama yang kompleks dan terkait dengan akidah, penting untuk merujuk pada sumber-sumber yang sahih.
Baca Juga: Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad di Luar Bulan Rabi'ul Awal?
Belajar agama melalui ChatGPT atau teknologi lainnya diperbolehkan selama informasi yang didapatkan berasal dari sumber yang terpercaya dan dipertanggungjawabkan.
Namun, bagi seorang Muslim, menuntut ilmu agama secara langsung dari para ulama atau ahli agama tetap dianjurkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis, menuntut ilmu adalah kewajiban. Namun, umat Islam harus bijak dalam menggunakan teknologi untuk belajar agama dan memastikan bahwa sumber-sumber yang digunakan sesuai dengan ajaran Islam.