AKURAT.CO Masjid Nabawi adalah salah satu situs paling suci dalam Islam setelah Masjidil Haram di Mekkah.
Terletak di kota Madinah, Arab Saudi, masjid ini memiliki sejarah yang kaya dan panjang.
Artikel ini akan membahas sejarah berdirinya Masjid Nabawi serta renovasi yang dilakukan dari waktu ke waktu.
Pendirian Masjid Nabawi
Masjid Nabawi didirikan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 Masehi, segera setelah hijrahnya dari Mekkah ke Madinah. Lokasi masjid ini awalnya merupakan tanah kosong milik dua anak yatim dari Bani Najjar. Nabi Muhammad SAW membelinya untuk dijadikan tempat ibadah dan pusat kegiatan umat Islam. Proses pembangunan masjid ini melibatkan Nabi Muhammad SAW sendiri serta para sahabatnya.
Baca Juga: 5 Kesalahan Istri kepada Suami yang Tidak Dapat Dimaafkan dalam Islam
Pada awalnya, Masjid Nabawi dibangun dengan sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari batu bata tanah liat, atapnya dari pelepah kurma, dan lantainya beralaskan pasir. Meski demikian, masjid ini memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam sebagai tempat pertama shalat berjamaah setelah hijrah.
Renovasi dan Perluasan dari Waktu ke Waktu
-
Masa Khulafaur Rasyidin
- Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M): Renovasi pertama dilakukan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Dia memperluas masjid untuk menampung jumlah jamaah yang semakin bertambah. Dinding masjid ditinggikan dan atapnya diperkuat.
- Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M): Utsman bin Affan memperluas masjid lebih lanjut dengan mengganti dinding tanah liat menjadi batu bata dan menggunakan kayu jati untuk atapnya.
-
Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
- Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M): Renovasi besar dilakukan dengan menggunakan bahan bangunan yang lebih kokoh dan ornamen yang lebih indah. Pada masa ini, Masjid Nabawi mengalami perubahan signifikan dalam hal arsitektur, termasuk penambahan menara.
- Dinasti Abbasiyah (750-1258 M): Beberapa renovasi kecil dilakukan untuk memperbaiki struktur bangunan dan memperindah interior masjid.
-
Masa Kesultanan Mamluk dan Ottoman
- Kesultanan Mamluk (1250-1517 M): Beberapa perbaikan dan perluasan dilakukan, termasuk penambahan beberapa elemen dekoratif dan perbaikan struktur atap.
- Kesultanan Ottoman (1517-1918 M): Renovasi besar-besaran dilakukan oleh Sultan Suleiman yang Agung dan Sultan Abdulmecid. Pada masa ini, masjid mengalami transformasi besar dengan penambahan kubah besar berwarna hijau yang menjadi ikon Masjid Nabawi. Pembangunan marmer dan penambahan ornamen kaligrafi juga dilakukan.
-
Era Modern
- Kerajaan Arab Saudi: Sejak berdirinya Kerajaan Arab Saudi, Masjid Nabawi telah mengalami beberapa renovasi besar. Raja Abdul Aziz memulai proyek perluasan besar pada tahun 1951 yang dilanjutkan oleh penerusnya. Raja Fahd memulai perluasan besar pada tahun 1985, yang menambah kapasitas masjid hingga lebih dari satu juta jamaah. Renovasi ini meliputi penambahan area sholat, pembangunan atap baru dengan kubah yang dapat dibuka dan ditutup, serta penambahan menara.
-
Renovasi Kontemporer
- Proyek Raja Abdullah: Pada tahun 2012, Raja Abdullah meluncurkan proyek perluasan besar-besaran yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masjid hingga lebih dari 1,6 juta jamaah. Proyek ini meliputi penambahan sayap baru, perluasan halaman, dan peningkatan fasilitas infrastruktur modern seperti sistem pendingin udara dan teknologi audio-visual canggih.
Baca Juga: 5 Kesalahan Suami kepada Istri yang Tidak Dimaafkan dalam Islam
Masjid Nabawi bukan hanya sebuah bangunan fisik, tetapi juga simbol spiritual dan pusat komunitas umat Islam di seluruh dunia. Sejarah panjangnya mencerminkan perkembangan dan pertumbuhan Islam dari masa ke masa.
Renovasi yang dilakukan sepanjang sejarah bertujuan untuk melestarikan keagungan dan memfasilitasi kebutuhan jamaah yang terus bertambah. Masjid Nabawi akan terus menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang umat Islam dalam menjaga dan merawat warisan agung ini.