Akurat

5 Hal Ini Bisa Merusak Pahala Puasa, Nomor 3 Sering Dilakukan Muslim Tapi Banyak Tidak Merasa

Hadits Abdillah | 13 Maret 2024, 12:22 WIB
5 Hal Ini Bisa Merusak Pahala Puasa, Nomor 3 Sering Dilakukan Muslim Tapi Banyak Tidak Merasa

AKURAT.CO Dalam ajaran agama Islam, Ramadhan diyakini sebagai bulan yang penuh berkah serta ampunan dari Allah SWT. Sehingga hampir seluruh umat muslim menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan spiritualitas serta membersihkan dari dosa-dosa yang telah diperbuat.

Pada bulan Ramadhan, umat muslim juga diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh oleh Allah SWT. Perintah ini bahkan telah tertulis dalam Al-Qur’an, yakni pada surat Al-Baqarah ayat 183. Puasa disini bukan hanya sekedar menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang berhubungan dengan hawa nafsu.

Dalam pelaksanaannya, terdapat banyak umat muslim yang telah melaksanakan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa, sebab pada saat berpuasa melakukan hal-hal yang merusak pahala puasa. Sehingga yang didapat hanyalah rasa lapar dan haus. Lantas, hal-hal apa saja yang dapat merusak pahala puasa?

Dilansir dari NU Online, Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Ad-Dailami berikut:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu” (HR Ad-Dailami).

Baca Juga: Keutamaan Shalat Tarawih Hari Pertama sampai Kesepuluh, Catat Agar Semangat Menjalankan Ibadah Sunah di Bulan Puasa Ramadhan

Hadits di atas telah menjelaskan mengenai hal-hal apa saja yang dapat merusak hingga membatalkan ibada puasa. Jika dirinci, hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ghibah atau Membicarakan orang lain

Ghibah merupakan kegiatan membicarakan keburukan ataupun aib orang lain. Ghibah kemudian menjadi bagian dari perilaku tercela yang dilarang dalam ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT menganalogikan pelaku ghibah seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

2. Adu Domba atau Fitnah

Adu domba atau fitnah adalah tindakan menyebarkan berita ataupun cerita yang berisi kebohongan mengenai orang lain dengan tujuan menimbulkan kebencian terhadap korban. Adu domba cenderung didasari oleh rasa kebencian, iri, ataupun penyakit hati lain yang dapat mengakibatkan penderitanya tidak senang melihat kesenangan orang lain.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bahkan mengatakan bahwa pelaku adu domba akan diganjar dengan neraka. Allah SWT juga telah menghimbau umat muslim untuk selalu meneliti berita yang disampaikan oleh orang fasik, sebagaimana firman-Nya berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat, 49:6).

3. Berdusta

Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi perilaku dan perkataan jujur. Sehingga berdusta menjadi tindakan yang dilarang, sebab hal ini dapat menjadi induk dari perbuatan-perbuatan maksiat yang lain.

Baca Juga: Keutamaan Shalat Tarawih Hari Pertama sampai Kesepuluh, Catat Agar Semangat Menjalankan Ibadah Sunah di Bulan Puasa Ramadhan

Berdusta menjadi salah satu hal yang dapat merusak atau bahkan menghilangkan pahala puasa umat muslim. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda : “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta bertindak bodoh, maka bagi Allah tiada gunanya ia meninggalkan makan dan minum.”” (HR. Bukhari).

4. Memandang dengan Syahwat

Memandang dengan syahwat berarti memandang untuk menikmati keindahan yang ada pada lawan jenis disertai dengan fantasi-fantasi yang dilarang oleh agama. Tindakan ini termasuk ke dalam perbuatan tercela yang dapat menghilangkan pahala puasa.

5. Sumpah Palsu

Hal terakhir yang dapat merusak pahala puasa adalah melakukan sumpah palsu, apalagi jika sumpah itu membawa nama Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah melarang umat muslim untuk melakukan sumpah palsu.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰۤىِٕكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”

Demikian penjelasan mengenai hal-hal yang dapat merusak pahala puasa. Semoga di bulan yang suci ini kita senantiasa dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela yang menjadikan puasa sia-sia oleh Allah SWT.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Lufaefi
Editor
Lufaefi