Akurat

Perbedaan Shalat Tarawih antara NU dan Muhammadiyah: Pengaruh Tradisi dan Interpretasi

Fajar Rizky Ramadhan | 11 Maret 2024, 15:36 WIB
Perbedaan Shalat Tarawih antara NU dan Muhammadiyah: Pengaruh Tradisi dan Interpretasi

AKURAT.CO Shalat Tarawih, ritual ibadah sunnah yang dilakukan selama bulan Ramadan, memiliki variasi pelaksanaan di antara berbagai kelompok dan organisasi Islam.

Dua organisasi besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memiliki perbedaan dalam pelaksanaan Shalat Tarawih yang mencerminkan perbedaan tradisi, interpretasi, dan tafsir agama.

Nahdlatul Ulama (NU)

NU, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki tradisi yang kuat dalam praktik keagamaan yang berakar pada ajaran Islam yang meliputi tradisi sufi dan warisan keilmuan Islam Nusantara. Dalam hal Shalat Tarawih, NU umumnya melaksanakannya dengan jumlah 20 rakaat, tergantung pada kebiasaan di masing-masing wilayah dan pondok pesantren. Tradisi ini mencerminkan fleksibilitas dalam pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan prinsip "aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah".

Muhammadiyah

Di sisi lain, Muhammadiyah, yang didirikan dengan semangat pembaharuan Islam, cenderung memiliki pendekatan yang lebih tegas terhadap praktik ibadah. Dalam konteks Shalat Tarawih, Muhammadiyah cenderung memegang teguh pada jumlah rakaat yang ditetapkan secara konsisten, yaitu 8 rakaat. Pandangan ini didasarkan pada interpretasi hadis yang mengenai Shalat Tarawih dan penekanan pada kesederhanaan dalam ibadah.

Baca Juga: Lafaz Niat Puasa, untuk Niat Puasa Sehari dan Niat Puasa Sebulan Penuh

Perbedaan Interpretasi

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dalam Shalat Tarawih juga mencerminkan perbedaan dalam pendekatan interpretasi terhadap sumber-sumber Islam, termasuk Al-Quran dan hadis. NU, dengan warisan keilmuan yang kuat, cenderung memiliki ruang yang lebih luas untuk penafsiran lokal dan kontekstual, sementara Muhammadiyah cenderung mengutamakan penafsiran yang lebih literal dan konsisten dengan sumber-sumber primer.

Keharmonisan dalam Perbedaan

Meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan Shalat Tarawih antara NU dan Muhammadiyah, penting untuk dicatat bahwa kedua organisasi ini memiliki komitmen yang sama terhadap nilai-nilai Islam dan tujuan akhir ibadah tersebut. Perbedaan dalam pelaksanaan ibadah tidak mengurangi kesatuan umat Islam Indonesia dalam merayakan bulan Ramadan dan menjalankan ibadah secara khusyuk.

Dalam konteks yang lebih luas, perbedaan ini mencerminkan kekayaan dan keragaman dalam tradisi keagamaan di Indonesia, yang memperkaya landskap keberagaman budaya dan agama di negara ini.

Implikasi Perbedaan dalam Kehidupan Beragama antara NU dengan Muhammadiyah

Perbedaan pelaksanaan Shalat Tarawih antara NU dan Muhammadiyah juga memiliki implikasi dalam kehidupan beragama masing-masing jamaah.

Kebudayaan dan Identitas Keagamaan

Praktik ibadah yang berbeda dapat menjadi bagian dari identitas keagamaan seseorang. Bagi jamaah NU, tradisi pelaksanaan Shalat Tarawih yang fleksibel mungkin merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya keagamaan mereka, sementara bagi jamaah Muhammadiyah, kesetiaan pada jumlah rakaat yang konsisten mungkin menjadi bagian yang penting dari identitas keagamaan mereka.

Keterbukaan dan Toleransi

Perbedaan dalam pelaksanaan ibadah juga dapat menjadi peluang untuk memperkuat keterbukaan dan toleransi antarumat beragama. Menyadari dan menghormati perbedaan praktik ibadah antara kelompok-kelompok Islam dapat memperkuat kerukunan antarumat beragama di masyarakat. Hal ini menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendorong dialog antarkelompok untuk memahami dan menghargai perspektif yang berbeda.

Baca Juga: Doa Menyambut Ramadhan, Mudah Dibaca Siapapun

Penafsiran Agama

Perbedaan dalam pelaksanaan Shalat Tarawih juga menyoroti perbedaan dalam penafsiran agama antara NU dan Muhammadiyah. Meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip Islam, interpretasi yang berbeda terhadap sumber-sumber agama dapat memengaruhi praktik ibadah sehari-hari dan pendekatan terhadap persoalan-persoalan sosial dan moral.

Kesimpulan

Perbedaan dalam pelaksanaan Shalat Tarawih antara NU dan Muhammadiyah mencerminkan keragaman budaya dan interpretasi agama di Indonesia. Sementara perbedaan ini menawarkan cakupan yang lebih luas tentang praktik keagamaan, penting untuk diingat bahwa inti dari ibadah tersebut adalah ketaatan kepada Allah dan pemeliharaan nilai-nilai keagamaan. Dengan memahami dan menghormati perbedaan ini, umat Islam di Indonesia dapat memperkaya kehidupan beragama mereka dan memperkuat persatuan dalam keragaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.