AKURAT.CO Mengapa awal Ramadhan Muhammadiyah sering berbeda dengan ketetapan Pemerintah? Begini jawabannya penulis ulas dalam artikel berikut.
Hampir setiap tahun, muncul perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan antara Muhammadiyah dengan ketetapan pemerintah di Indonesia.
Perbedaan ini menciptakan kebingungan bagi banyak orang, terutama bagi umat Muslim yang ingin memulai ibadah puasa dengan tepat. Lalu, mengapa hal ini terjadi?
Metode Perhitungan yang Berbeda
Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan matematika) dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Metode ini mengacu pada perhitungan astronomi untuk menentukan posisi hilal atau bulan sabit yang menandai awal bulan hijriyah. Sedangkan pemerintah seringkali mengadopsi metode rukyatul hilal, yaitu mengamati langsung hilal dengan mata telanjang.
Baca Juga: Ragam Tradisi Masyarakat Pulau Jawa dalam Menyambut Ramadhan
Kriteria Keberadaan Hilal
Perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan juga bisa disebabkan oleh kriteria yang berbeda dalam menganggap hilal terlihat atau tidak. Beberapa lembaga atau organisasi menggunakan standar ketat dalam melihat hilal, sementara yang lain lebih cenderung untuk menerima laporan atau data yang mendukung penampakan hilal, meskipun sulit untuk diamati secara langsung.
Faktor Lokal dan Regional
Kondisi geografis, cuaca, dan atmosfer setempat juga dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melihat hilal. Hal ini bisa menyebabkan perbedaan dalam laporan atau pengamatan tentang penampakan hilal di berbagai wilayah, sehingga Muhammadiyah dan pemerintah seringkali memiliki hasil yang berbeda.
Tradisi dan Kebiasaan Lokal
Beberapa organisasi, seperti Muhammadiyah, cenderung mempertahankan tradisi tertentu dalam menentukan awal bulan Ramadhan yang telah lama mereka anut. Hal ini bisa berbeda dengan kebijakan pemerintah yang mungkin lebih berorientasi pada konsistensi dan keseragaman di seluruh negara.
Kemajuan Teknologi dan Kehadiran Global
Dengan kemajuan teknologi, pengamatan dan perhitungan astronomi dapat dilakukan dengan lebih tepat dan akurat. Namun, masih ada perbedaan dalam interpretasi data dan penggunaan teknologi tersebut di antara lembaga-lembaga yang berbeda.
Baca Juga: Begini Tips Menjaga Kesehatan Jelang Ramadhan
Dalam keadaan seperti ini, penting bagi umat Muslim untuk memahami bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan tidak mengurangi nilai spiritual dari ibadah puasa itu sendiri. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan tekad untuk menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan dan ketekunan, terlepas dari perbedaan pandangan tentang metode atau tanggal awal Ramadhan.