Niat Puasa Syaban Sekaligus Qadha Ramadhan dan Senin Kamis, Arab dan Artinya

AKURAT.CO Bulan Syaban memiliki posisi istimewa dalam tradisi keislaman. Ia menjadi jembatan spiritual antara bulan Rajab dan Ramadhan, sekaligus momentum persiapan batin sebelum memasuki bulan puasa wajib.
Dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban. Di sisi lain, tidak sedikit umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan tahun sebelumnya dan ingin menunaikannya sebelum Ramadhan kembali datang.
Pertanyaannya kemudian muncul: apakah boleh menggabungkan niat puasa Syaban, qadha Ramadhan, sekaligus puasa sunnah Senin Kamis?
Secara fikih, para ulama membahas hal ini dalam kerangka penggabungan niat (tasyrīk an-niyyah). Mayoritas ulama membolehkan seseorang berniat qadha Ramadhan sekaligus mendapatkan keutamaan puasa sunnah yang bertepatan dengan hari tersebut, seperti puasa Senin Kamis atau puasa di bulan Syaban.
Artinya, niat utama tetap qadha Ramadhan sebagai puasa wajib, sementara pahala sunnah diharapkan mengikuti karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan hari atau bulan yang memiliki keutamaan.
Baca Juga: Jadwal Puasa Bulan Syaban Tahun 2026 Terlengkap, Catat Tanggalnya!
Dalam konteks ini, puasa qadha Ramadhan tetap sah dan kewajiban gugur. Adapun pahala puasa sunnah Syaban dan Senin Kamis, menurut banyak ulama, insyaallah tetap diperoleh sebagai keutamaan tambahan (fadl), meskipun niatnya tidak berdiri sendiri sebagai puasa sunnah murni. Pendekatan ini mencerminkan fleksibilitas syariat yang memudahkan umat tanpa menghilangkan esensi ibadah.
Adapun niat puasa qadha Ramadhan yang dilakukan di bulan Syaban dan bertepatan dengan hari Senin atau Kamis dapat dibaca sebagai berikut.
Niat puasa qadha Ramadhan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa fardhu bulan Ramadhan karena Allah Ta‘ala.
Apabila seseorang ingin menghadirkan kesadaran batin bahwa puasanya juga bertepatan dengan puasa sunnah Syaban dan Senin atau Kamis, maka hal itu cukup dihadirkan dalam hati tanpa harus dilafalkan secara khusus.
Namun, sebagian ulama membolehkan melafalkan niat dengan redaksi yang menggabungkan maksud tersebut, selama niat utamanya tetap qadha Ramadhan. Contoh niat yang sering digunakan di masyarakat adalah sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَعْبَانَ وَسُنَّةِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa fardhu Ramadhan sekaligus puasa sunnah Syaban dan sunnah hari Senin karena Allah Ta‘ala.
Redaksi serupa dapat disesuaikan jika puasa dilakukan pada hari Kamis, dengan mengganti kata يوم الاثنين menjadi يوم الخميس.
Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa inti niat dalam ibadah puasa terletak di dalam hati, bukan semata pada lafaz. Lafaz niat berfungsi membantu menghadirkan kesadaran dan keteguhan hati dalam beribadah.
Baca Juga: Menggabungkan Puasa Sya'ban dengan Puasa Qodho Ramadhan, Apa Boleh?
Oleh karena itu, seseorang yang berniat qadha Ramadhan di bulan Syaban pada hari Senin atau Kamis telah mencukupi secara syariat, meskipun hanya melafalkan niat qadha Ramadhan saja.
Dengan demikian, puasa di bulan Syaban bisa menjadi ruang strategis untuk melunasi utang puasa Ramadhan sekaligus meraih keutamaan waktu yang dicintai Rasulullah SAW.
Di tengah ritme hidup yang padat, praktik ini mencerminkan semangat efisiensi spiritual: kewajiban tertunaikan, sunnah terhidupkan, dan kesiapan menuju Ramadhan semakin dimatangkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









