Akurat

Raja Salman Bangun “Ka'bah Baru” di Jeddah, Apa dan untuk Apa?

Fajar Rizky Ramadhan | 16 November 2025, 09:00 WIB
Raja Salman Bangun “Ka'bah Baru” di Jeddah, Apa dan untuk Apa?

AKURAT.CO Setiap kali Arab Saudi meluncurkan proyek raksasa, selalu ada satu pertanyaan yang muncul: ini pembangunan atau simbol politik?

Begitu pula dengan The Mukaab—struktur kubus raksasa yang memicu kontroversi karena bentuknya dianggap mirip Ka'bah.

Di media sosial, sebagian orang menyebutnya sebagai “Ka'bah baru,” padahal realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar kemiripan bentuk.

Sebelum buru-buru menuduh Arab Saudi bikin kiblat tandingan, mari kita bedah duduk perkaranya secara lebih tenang.

1. The Mukaab Bukan Bangunan Ibadah

The Mukaab adalah landmark utama megacity New Murabba di Riyadh, bukan di Makkah. Artinya, dari awal ia tidak dimaksudkan sebagai bangunan religius. Fungsi utamanya adalah pusat hiburan, teknologi digital, ruang publik futuristik, dan area komersial.

Struktur kubusnya bukan simbol ritual, melainkan inspirasi dari arsitektur Najdi—gaya bangunan tradisional gurun yang memang banyak memakai bentuk kubus masif.

Bentuknya memang bikin orang refleks membandingkan dengan Ka'bah, tapi konteksnya berbeda jauh: Ka'bah adalah tempat ibadah inti umat Islam, sementara The Mukaab adalah megaproyek teknologi dan ekonomi.

Baca Juga: Mengenal 5 Kategori Petugas Haji dan Tugas Resminya Menjelang Musim 2026

2. Bagian dari Visi Saudi 2030: Transformasi Ekonomi Total

Saudi sedang ngebut keluar dari ketergantungan minyak. Untuk itu, mereka butuh kota baru yang:
– menarik investasi,
– mengundang turis,
– memamerkan teknologi,
– dan memproyeksikan power baru di kancah global.

The Mukaab adalah ikon branding. Dalam bahasa Gen Z: semacam “logo raksasa” untuk masa depan Saudi. Targetnya juga bukan kecil: kontribusi ke PDB non-migas lebih dari 180 miliar riyal, membuka lebih dari 300 ribu lapangan kerja, dan jadi motor urbanisasi baru.

3. Progres di Lapangan: Ribuan Pekerja, Deadline 2030

Sampai Oktober 2025, pekerjaan tanahnya sudah 86% rampung. Ada 900 pekerja dan 250 ekskavator yang beroperasi tiap hari—itu level proyek yang benar-benar masif.

Mereka juga menggandeng konsultan kelas dunia seperti AECOM dan Jacobs untuk mengerjakan desain inti, terowongan, dan infrastruktur rumit lain.

Dengan kata lain: ini bukan proyek simbolik, tapi proyek teknologis yang benar-benar dikebut.

4. Kenapa Disebut “Ka'bah Baru”?

Istilah ini muncul dari dua sisi:

  1. kemiripan bentuk kubus raksasa yang bikin publik langsung teringat pada Ka'bah,

  2. kritik dari sebagian akademisi dan komentator yang menganggap Arab Saudi terlalu kapitalistik dalam pendekatannya.

Ada yang menyindir Mukaab sebagai “kiblat kapitalisme”—bukan dalam makna ibadah, tapi sebagai simbol prioritas ekonomi yang terlalu dominan. Kritik ini mencerminkan kecemasan lama: apakah modernisasi ekstrem akan menggerus otentisitas spiritual Saudi?

Namun fakta terpenting: tidak ada aktivitas ritual yang direncanakan. Tidak ada ibadah, tidak ada prosesi keagamaan, tidak ada kaitan dengan manasik. Semua yang terjadi hanyalah persepsi publik yang mencampur simbol dengan fungsi.

5. Bagaimana Respon Arab Saudi?

Saudi tidak mau terjebak dalam drama simbolik. Mereka menegaskan desainnya terinspirasi arsitektur tradisional Najdi, dan bahwa proyek ini punya orientasi budaya, ekonomi, dan teknologi—bukan spiritual.

Selain itu, lokasi The Mukaab berada jauh dari Makkah. Jadi, dari sisi syariat maupun geopolitik, kecil kemungkinan ada maksud “menggantikan” apa pun.

6. Apakah Berbahaya Bagi Islam?

Secara teologis: tidak.
Ka'bah tetap satu-satunya qiblat, dijaga syariat, dan posisinya tidak berubah sedikit pun.

Secara sosial: debatnya lebih ke arah etika modernisasi dan kapitalisme ekstrem, bukan ancaman aqidah.

Pertanyaannya bukan “bolehkah,” tapi “perlukah.” Apakah transformasi harus selalu spektakuler sampai membuat orang bingung soal simbol?

Di sinilah kita perlu sikap kritis. Modernisasi besar-besaran memang kadang kehilangan sensitivitas terhadap simbol-simbol religius. Tapi memvonis proyek ini sebagai tandingan Ka'bah jelas terlalu jauh.

Baca Juga: Hukum Menggunakan Ijazah Palsu dalam Islam

7. Intinya: Ini Proyek Ekonomi, Bukan Proyek Sakral

“Ka'bah baru” hanyalah istilah hiperbolis media dan warganet. The Mukaab sendiri hanyalah bangunan raksasa yang kebetulan berbentuk kubus—ikon modernisasi yang ingin membuat Saudi tampil sebagai pusat global teknologi dan urban futuristik.

Jika ada yang perlu diwaspadai, itu bukan soal aqidah, melainkan soal arah peradaban: apakah modernisasi ekstrem masih mampu merawat nilai-nilai spiritual, atau justru merapuhkan identitas yang selama ini dijaga?

Pertanyaan inilah yang layak direnungkan. Karena bentuk kubus bisa dibuat siapa saja, tapi makna Ka'bah hanya ada satu—dan tidak akan pernah tergantikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.