Kalender Jawa Weton Hari Ini, Apa yang Sebaiknya Dihindari Umat Islam?

AKURAT.CO Hari ini, Kamis 17 Juli 2025, bertepatan dengan 21 Muharram 1447 H dan 21 Suro 1959 dalam penanggalan Jawa.
Dalam sistem kalender Jawa, hari ini jatuh pada Kamis Kliwon—sebuah kombinasi weton yang diyakini membawa ketenangan, keberuntungan, dan kekuatan spiritual yang besar.
Nilai neptu-nya adalah 16, salah satu yang tertinggi dalam hitungan Jawa, dan dianggap istimewa oleh sebagian masyarakat.
Namun, bagaimana sebenarnya umat Islam menyikapi sistem weton seperti ini? Apa yang sebaiknya dihindari agar tidak terjebak pada keyakinan yang bertentangan dengan akidah?
1. Meyakini Hari Tertentu Membawa Sial atau Beruntung
Dalam ajaran Islam, hari atau tanggal tertentu tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat ataupun mudarat secara gaib.
Keyakinan bahwa Kamis Kliwon membawa rezeki atau sebaliknya bisa menyebabkan kesialan, termasuk dalam kategori tathayyur (merasa sial karena waktu, tempat, atau benda tertentu). Ini adalah sesuatu yang dilarang dalam syariat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"لاَ طِيَرَةَ"
"Tidak ada thiyarah (anggapan sial)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menjadikan weton sebagai penentu nasib berarti mengaitkan perkara gaib pada sesuatu yang tidak memiliki dasar syar’i. Maka dari itu, umat Islam sebaiknya menghindari meyakini bahwa hari ini atau hari-hari tertentu lain memiliki kekuatan mistis atau takdir tersendiri.
Baca Juga: Kalender Jawa Kamis 17 Juli 2025: Kamis Kliwon, Weton Rezeki dan Keberuntungan
2. Menunda atau Mempercepat Ibadah Karena Weton
Dalam praktiknya, ada sebagian masyarakat yang menunda kegiatan penting seperti menikah, berhaji, atau bahkan bersedekah karena menunggu hari tertentu yang dianggap baik secara weton. Sebaliknya, ada juga yang mempercepat sesuatu hanya karena meyakini tanggal tertentu lebih mujur.
Padahal, ibadah dalam Islam ditentukan oleh syariat, bukan perhitungan neptu atau pasaran. Menunda ibadah karena alasan mistis bisa termasuk bentuk mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan petunjuk Allah.
Allah berfirman:
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۚ
"Dan mereka tidak berpecah-belah melainkan setelah datang kepada mereka ilmu, karena kedengkian di antara mereka."
(QS. Asy-Syura: 14)
3. Melakukan Ritual Khusus Tanpa Dasar Syariat
Sebagian masyarakat kadang mengadakan ritual tertentu pada hari-hari yang dianggap keramat, seperti Kamis Kliwon atau malam Jumat Kliwon. Misalnya dengan membuat sesajen, menyalakan dupa, atau melakukan tirakat yang tidak diajarkan dalam Islam.
Amalan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan bahkan bercampur dengan unsur mistik, harus dihindari. Islam memiliki aturan jelas tentang ibadah dan bentuk pendekatan kepada Allah, sehingga segala bentuk ritual tambahan yang berasal dari budaya luar agama harus diukur dengan kaidah syariat.
Rasulullah bersabda:
"مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ"
"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami yang tidak berasal darinya, maka amalan itu tertolak."
(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Membaca Kepribadian atau Ramalan Berdasarkan Weton
Beberapa orang menggunakan weton untuk membaca karakter, jodoh, hingga takdir hidup seseorang. Ini biasanya dilakukan melalui konsultasi kepada orang pintar atau dukun. Hal semacam ini termasuk dalam bentuk ramalan, dan Islam sangat tegas dalam mengharamkannya.
Rasulullah bersabda:
"مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ"
"Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Kamis 17 Juli 2025, Begini Hukum Muslim Meyakininya
5. Menggantungkan Keputusan Hidup pada Angka Neptu
Neptu atau nilai angka dari hari dan pasaran weton seringkali dijadikan dasar untuk mengambil keputusan penting—apakah akan melamar kerja, membeli rumah, atau bahkan menamai anak. Ini sebaiknya tidak dijadikan dasar utama dalam hidup seorang Muslim.
Islam mengajarkan kita untuk menggunakan akal, ilmu, istikharah, dan musyawarah dalam mengambil keputusan, bukan angka-angka dari sistem tradisional.
KalenderJawa, termasuk sistem weton, adalah bagian dari warisan budaya Nusantara yang kaya. Ia dapat dipelajari sebagai tradisi, namun tidak boleh diyakini sebagai penentu nasib, rezeki, atau keselamatan.
Sebagai umat Islam, penting untuk memilah antara budaya dan akidah. Selama tradisi tidak melanggar syariat, ia dapat menjadi kearifan lokal. Namun, jika sudah menyentuh wilayah keyakinan yang menggeser keimanan kepada Allah, maka perlu ditinggalkan.
Semoga Allah menjaga kita dari keyakinan yang keliru dan menguatkan kita di atas jalan kebenaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









