Akurat

Riwayat Pendidikan Nasaruddin Umar, Menteri Agama Kabinet Merah Putih

Fajar Rizky Ramadhan | 21 Oktober 2024, 10:00 WIB
Riwayat Pendidikan Nasaruddin Umar, Menteri Agama Kabinet Merah Putih

AKURAT.CO Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA adalah sosok penting dalam dunia Islam di Indonesia. Ia lahir pada 23 Juni 1959 di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan.

Nasaruddin dikenal tidak hanya sebagai ulama dan akademisi, tetapi juga  pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Republik Indonesia pada periode 2011-2014, di bawah Kabinet Indonesia Bersatu II.

Terbaru, Nasaruddin Umar ditunjuk sebagai Menteri Agama Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran.

Riwayat Pendidikan Nasaruddin Umar

Nasaruddin mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri di Ujung-Bone pada tahun 1970.

Setelah itu, ia melanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah di Pesantren As’adiyah Sengkang dan menyelesaikan pendidikan PGA (Pendidikan Guru Agama) selama empat tahun pada 1974, diikuti dengan program enam tahun yang dituntaskannya pada 1976.

Pendidikan di lingkungan pesantren ini membentuk fondasi keilmuan dan spiritualitas yang kuat dalam dirinya.

Baca Juga: Profil Nusron Wahid, Mantan Ketua Umum PMII yang Menjadi Menteri Kabinet Merah Putih

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, Nasaruddin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di IAIN Alauddin Ujung Pandang, mengambil Fakultas Syariah.

Pada 1980, ia memperoleh gelar Sarjana Muda dan pada 1984 berhasil menyelesaikan program sarjana dengan predikat sarjana teladan.

Prestasinya ini semakin memantapkan komitmennya dalam mendalami studi keislaman.

Pada tahun 1990, Nasaruddin melanjutkan pendidikan magisternya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meski tanpa tesis, ia berhasil menyelesaikan program tersebut pada 1992.

Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di institusi yang sama dengan fokus disertasi pada kajian gender dalam perspektif Al-Qur'an.

Disertasinya yang digarap selama periode 1993 hingga 1998 mengangkat isu penting tentang bias gender, menjadikannya salah satu pionir dalam kajian ini di Indonesia.

Untuk memperluas wawasan dan pengalamannya, Nasaruddin mengikuti program akademik di berbagai universitas internasional. Pada 1993-1994, ia menjadi visiting student di McGill University, Kanada.

Selanjutnya, pada 1994-1995, ia belajar di Leiden University, Belanda. Selain itu, ia juga mengikuti program sandwich di Paris University, Prancis, pada 1995.

Pengalaman akademik di luar negeri ini memperkaya perspektifnya dalam memahami teks-teks keagamaan dan isu kontemporer Islam.

Selama karier akademisnya, Nasaruddin juga aktif melakukan riset di berbagai perguruan tinggi dan pusat studi di sejumlah negara. Ia pernah melakukan penelitian di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belgia, Italia, dan Turki.

Ia juga berkunjung ke berbagai negara di Asia, seperti Mesir, Yordania, Palestina, dan Malaysia, untuk memperdalam kajian keislaman dan membangun jejaring internasional.

Pada 12 Januari 2002, Nasaruddin diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang Tafsir di Fakultas Ushuluddin, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Baca Juga: Profil Nusron Wahid, Mantan Ketua Umum PMII yang Menjadi Menteri Kabinet Merah Putih

Pencapaian ini menegaskan reputasinya sebagai akademisi terkemuka di Indonesia, khususnya dalam kajian tafsir Al-Qur'an dan isu gender.

Ia juga dikenal sebagai penulis produktif yang telah menerbitkan lebih dari 12 buku, termasuk karyanya yang terkenal, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an (1999).

Selain berperan sebagai akademisi, Nasaruddin turut aktif dalam upaya memperkuat kerukunan antarumat beragama.

Ia mendirikan organisasi lintas agama yang bertujuan untuk mempromosikan dialog antaragama dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat majemuk. Aktivitas ini menunjukkan kepeduliannya terhadap isu pluralisme dan perdamaian.

Dalam bidang pemerintahan, pengalamannya sebagai Direktur Jenderal di Departemen Agama membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sektor keagamaan di tingkat nasional.

Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota Tim Penasehat Inggris-Indonesia yang dibentuk oleh mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.

Keterlibatannya dalam tim ini menunjukkan bahwa pemikirannya diakui secara internasional dalam upaya menjembatani hubungan antara dunia Barat dan Islam.

Sepanjang kariernya, Nasaruddin Umar telah menerima banyak penghargaan atas kontribusinya dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Kerja keras dan dedikasinya dalam mengembangkan kajian keislaman, mempromosikan dialog lintas agama, serta membangun kerukunan sosial telah menjadikannya sosok yang disegani di Indonesia maupun di dunia internasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.