Akurat Logo

Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dengan Qodho Puasa Ramadhan?

Fajar Rizky Ramadhan | 14 April 2024, 14:00 WIB
Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dengan Qodho Puasa Ramadhan?

AKURAT.CO Bolehkah menggabungkan puasa Syawal dengan qodho puasa Ramadhan? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini dengan seksama.

Para ulama menyebut hukum pengamalan kedua puasa tersebut berbeda. Puasa Syawal hukumnya sunah sedangkan puasa ganti Ramadan dikenai hukum wajib.

Penggabungan amalan sunah dan wajib tersebut memiliki ikhtilat atau perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi'i.

Menurut Ibnu Hajar al Haitamiy dan Syekh Ar Ramli dalam Kitab I'anatut Thalibin, berniat puasa Syawal dapat digabung sekaligus dengan niat mengganti puasa Ramadan. Kebolehan dilakukan tanpa mengurangi pahala keduanya.

Baca Juga: Niat Puasa Syawal dengan Bahasa Arab, Latin, dan Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

"Pendapat yang memiliki wajah penyengajaan dalam niat adalah adanya puasa di dalamnya maka sama seperti salat tahiyat masjid. Bila diniati kesunahan keduanya juga mendapatkan pahala, bila tidak diniati maka gugur tuntutannya," bunyi keterangannya yang diterjemahkan Gus Arifin dalam buku Naungan Bulan Kemuliaan: Fikih Ramadan 4 Mazhab.

Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani berpendapat serupa. Menurutnya, pahala puasa Syawal tetap diperoleh meskipun puasa yang dijalani adalah puasa ganti Ramadan.

Sementara itu, Abu Makhramah dalam Bughyah al Mustarsyidin yang diterjemahkan Agus Arifib dalam buku Step By Step Fiqih Puasa Edisi Revisi berpendapat sebaliknya. Ia berkeyakinan bahwa niat yang digabung bersamaan akan menggugurkan pahala dari puasa yang dilakukan.

Untuk itu, Abu Makhramah menganjurkan muslim untuk mendahulukan puasa yang sifatnya wajib yakni, mengganti puasa Ramadan. Setelahnya, muslim baru dapat melanjutkan puasa Syawal yang berhukum sunah selama enam hari.

Meski demikian, mendahulukan puasa Syawal dibandingkan membayar utang Ramadan tetap dibolehkan dalam kondisi tertentu.

Hal ini dijelaskan Abu Malik Kamal ibn Sayyid Salim dalam Fiqh as Sunnah li an-Nisa' terjemahan Firdaus. Ia berpendapat, puasa Syawal boleh diutamakan khususnya bagi mereka yang memiliki waktu sempit di bulan Syawal sehingga tidak memungkinkan untuk mengganti puasa Ramadan terlebih dahulu.

Niat Puasa Syawal dan Ganti Puasa Ramadan

1. Niat Puasa Syawal

نوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an adaa-i sunnatisy syawwaali lillaahi ta'aalaa

Artinya: "Aku niat berpuasa besok hari di bulan Syawal sunah karena Allah Ta'ala."

Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri dalam kitab Minhajul Muslim terjemahan Musthofa Aini, Amir Hamzah, dan Kholif Mutaqin, niat puasa sunah dapat dibaca saat setelah fajar atau terbitnya matahari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan kata lain, niat puasa Syawal tidak harus dibaca pada malam hari sebelum hari berpuasa sebagaimana puasa wajib Ramadan.

Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat Jelaskan Besarnya Puasa Syawal, Yuk Simak!

2. Niat Ganti Puasa Ramadan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shouma ghodin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan besok karena Allah SWT."

Menurut Syekh Abdurrahman Al-Juzair dalam buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2 terjemahan Chatibul Umam, membaca niat ini harus dilakukan pada malam hari sampai batas terbit fajar. Keterangan tersebut dari sabda Rasulullah SAW,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: "Barangsiapa yang belum berniat (untuk puasa) di malam hari sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya." (HR Ad-Daru Quthni dan Al- Baihaqi)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.