Apa Nama Instrumen Skrining Risiko Jatuh pada Lansia? Kenali TUG Test dan Cara Pemeriksaannya

AKURAT.CO Lansia yang masih bisa berjalan sendiri belum tentu memiliki mobilitas yang aman. Masalah keseimbangan kadang baru terlihat ketika seseorang harus bangkit dari kursi, berjalan beberapa meter, berbalik, lalu kembali duduk. Karena itu, instrumen skrining risiko jatuh lansia diperlukan untuk mendeteksi lebih awal adanya gangguan mobilitas dan keseimbangan.
Instrumen yang umum digunakan untuk membantu skrining risiko jatuh pada lansia adalah Timed Up and Go (TUG) Test. Tes ini menilai mobilitas fungsional dengan mengukur waktu yang dibutuhkan lansia untuk berdiri dari kursi, berjalan sekitar 3 meter, berbalik, kembali ke kursi, dan duduk. Dalam panduan CDC STEADI, waktu 12 detik atau lebih menunjukkan peningkatan risiko jatuh.
Ringkasan
Timed Up and Go atau TUG Test adalah pemeriksaan sederhana untuk menilai mobilitas fungsional lansia dan membantu mengidentifikasi masalah berjalan serta keseimbangan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melalui program STEADI (Stopping Elderly Accidents, Deaths & Injuries) menempatkan TUG sebagai salah satu pemeriksaan fungsional dalam upaya pencegahan jatuh pada lansia. CDC menyebut TUG sebagai tes mobilitas yang dapat membantu mengidentifikasi gangguan pada gait atau pola berjalan dan keseimbangan.
Alat yang dibutuhkan juga sederhana, yakni:
kursi dengan sandaran dan lengan;
stopwatch;
lintasan berjalan sekitar 3 meter atau 10 kaki;
alat bantu berjalan jika memang biasa digunakan lansia.
CDC juga menekankan bahwa pemeriksa harus tetap berada di dekat lansia selama tes untuk menjaga keselamatan.
Kesederhanaan inilah yang membuat TUG menarik digunakan dalam konteks pelayanan primer maupun kegiatan masyarakat. Pemeriksaan tidak membutuhkan mesin khusus untuk memperoleh gambaran awal mengenai kemampuan mobilitas seseorang.
Bagaimana Cara Melakukan TUG Test pada Lansia?
Prosedurnya relatif singkat. Dalam panduan CDC, lansia diminta duduk bersandar pada kursi standar, sementara garis atau titik tujuan ditempatkan sekitar 3 meter di depannya.
Ketika pemeriksa memberikan aba-aba, lansia melakukan rangkaian berikut:
Berdiri dari kursi.
Berjalan menuju garis dengan kecepatan normal.
Berbalik.
Berjalan kembali menuju kursi.
Duduk kembali.
Waktu mulai dihitung ketika lansia mulai bergerak setelah aba-aba dan dihentikan ketika lansia sudah kembali duduk. Selain mencatat waktu, pemeriksa juga dapat mengamati kestabilan postur, pola berjalan, panjang langkah, ayunan tubuh, hingga cara berbalik.
Hal yang sering terlewat adalah bahwa TUG bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan angka waktu tercepat.
Cara lansia melakukan gerakan juga memberikan informasi. Misalnya, lansia tampak harus berpegangan pada dinding, berjalan dengan langkah sangat pendek, kehilangan keseimbangan, atau kesulitan berbalik. CDC mencantumkan beberapa observasi tersebut sebagai hal yang perlu diperhatikan selama pemeriksaan.
Berapa Batas Waktu TUG yang Menunjukkan Risiko Jatuh?
Dalam protokol TUG dari CDC STEADI, waktu 12 detik atau lebih menunjukkan peningkatan risiko jatuh.
Namun, angka tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai batas yang menentukan secara mutlak bahwa seseorang pasti akan jatuh.
Misalnya, seseorang menyelesaikan TUG dalam 11 detik. Hasil tersebut tidak otomatis berarti orang tersebut bebas dari risiko jatuh. Sebaliknya, waktu 13 detik tidak berarti lansia pasti akan mengalami jatuh.
Mengapa?
Karena jatuh merupakan masalah multifaktor. Riwayat jatuh sebelumnya, kekuatan otot, gangguan penglihatan, obat-obatan, tekanan darah saat berubah posisi, kondisi rumah, serta faktor lain juga dapat berkontribusi.
CDC sendiri menggunakan pendekatan yang lebih luas. Selain TUG, penilaian dapat mencakup riwayat jatuh, gangguan gait, kekuatan dan keseimbangan, serta faktor lain yang dapat dimodifikasi.
Jadi, TUG lebih tepat dipahami sebagai alat skrining atau functional assessment, bukan alat untuk meramalkan secara pasti apakah seseorang akan jatuh.
Baca Juga: Kategori Usia Menurut WHO: Bayi, Anak, Remaja, Dewasa hingga Lansia
Baca Juga: Warga Kupang Rasakan Manfaat Program Cek Kesehatan Gratis, Para Lansia Merasa Aman
Mengapa TUG Bisa Membantu Mendeteksi Risiko Jatuh?
Keunggulan TUG terletak pada satu rangkaian gerakan yang sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Berdiri dari kursi
Lansia harus mampu mengubah posisi dari duduk menjadi berdiri. Gerakan ini membutuhkan kemampuan fisik dan kontrol tubuh.
Jika seseorang membutuhkan usaha berlebihan untuk bangkit, hal tersebut dapat menjadi petunjuk adanya masalah fungsi fisik.
Berjalan
Setelah berdiri, lansia harus berjalan dengan kecepatan normal. Di sini pemeriksa dapat melihat pola berjalan dan kestabilan tubuh.
Berbalik
Berbalik bukan gerakan sesederhana yang terlihat. Lansia harus mengendalikan tubuh ketika mengubah arah.
Kesulitan berbalik atau kehilangan keseimbangan saat melakukan manuver tersebut dapat menjadi informasi penting dalam penilaian mobilitas.
Kembali duduk
Tahap terakhir mengharuskan lansia mengontrol gerakan sampai kembali ke posisi duduk.
Dengan demikian, TUG secara praktis menggabungkan beberapa kemampuan dalam satu tes singkat.
Inilah salah satu alasan mengapa tes tersebut berguna sebagai skrining awal: pemeriksa tidak hanya memperoleh satu angka, tetapi juga dapat mengamati bagaimana lansia bergerak.
Apakah TUG Satu-satunya Instrumen Skrining Risiko Jatuh?
Tidak. TUG bukan satu-satunya instrumen untuk menilai risiko jatuh pada lansia.
CDC STEADI juga mencantumkan 30-Second Chair Stand Test dan 4-Stage Balance Test sebagai pemeriksaan fungsional.
Instrumen | Fokus utama | Kelebihan |
|---|---|---|
Timed Up and Go (TUG) | Mobilitas, gait, dan keseimbangan | Cepat dan sederhana |
30-Second Chair Stand | Kekuatan serta daya tahan tungkai | Praktis dan tidak membutuhkan alat rumit |
4-Stage Balance Test | Keseimbangan dalam beberapa posisi berdiri | Sederhana dilakukan |
Berg Balance Scale | Keseimbangan fungsional | Penilaian lebih luas |
SPPB | Fungsi fisik, termasuk keseimbangan dan kemampuan berjalan | Menggabungkan beberapa komponen fungsi fisik |
CDC menjelaskan bahwa 30-Second Chair Stand digunakan untuk menilai kekuatan dan daya tahan kaki, sedangkan 4-Stage Balance Test menilai kemampuan mempertahankan keseimbangan dalam posisi berdiri yang tingkat kesulitannya meningkat.
Artinya, pemilihan instrumen sebaiknya disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan dan kondisi lansia.
Apa Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Skrining Risiko Jatuh Lansia?
Kesalahan paling mendasar adalah menganggap satu hasil tes sudah cukup untuk menentukan seluruh risiko jatuh seseorang.
Padahal, dua lansia dengan waktu TUG yang sama dapat mempunyai profil risiko yang sangat berbeda.
Misalnya, lansia pertama memiliki waktu TUG 11 detik, tidak pernah jatuh, penglihatan baik, dan kondisi rumah relatif aman.
Lansia kedua juga mencatat 11 detik, tetapi pernah jatuh beberapa kali, sering merasa pusing ketika berdiri, menggunakan sejumlah obat, dan memiliki kamar mandi dengan lantai licin.
Angka TUG keduanya sama. Profil risikonya jelas berbeda.
CDC bahkan memberikan contoh bahwa riwayat jatuh dapat mengarahkan pemeriksa pada penilaian lebih lanjut, seperti pemeriksaan keamanan rumah, evaluasi obat, atau pemeriksaan tekanan darah ortostatik tergantung situasi jatuh yang dialami.
Karena itu, skrining seharusnya menjadi pintu masuk menuju penilaian yang lebih lengkap, bukan titik akhir.
Bagaimana Contoh Skrining Risiko Jatuh di Masyarakat?
Bayangkan seorang lansia berusia 70 tahun mengikuti pemeriksaan kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam TUG Test, ia membutuhkan waktu 13 detik. Selama pemeriksaan, ia juga terlihat berhati-hati ketika berbalik.
Jika hanya melihat angka, hasilnya menunjukkan bahwa ia melewati ambang 12 detik yang digunakan dalam STEADI.
Tetapi pemeriksaan sebaiknya tidak berhenti di sana.
Petugas atau tenaga kesehatan dapat menggali informasi lain sesuai kewenangan dan protokol, misalnya apakah lansia pernah jatuh sebelumnya, apakah memiliki kesulitan berjalan, apakah menggunakan alat bantu, atau apakah terdapat kondisi lingkungan yang berpotensi meningkatkan risiko.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan arah WHO melalui Integrated Care for Older People (ICOPE). Edisi kedua panduan ICOPE yang diterbitkan pada September 2025 secara khusus mendukung penerapan penilaian berbasis bukti di pelayanan primer, termasuk komunitas, untuk mendeteksi penurunan kemampuan intrinsik dan menyusun rencana perawatan yang dipersonalisasi.
Tes yang Sederhana Justru Tidak Boleh Ditafsirkan Secara Sederhana
Ada paradoks dalam penggunaan TUG.
Semakin sederhana sebuah alat skrining, semakin mudah alat tersebut digunakan dalam skala luas. Tetapi kesederhanaan prosedurnya tidak berarti interpretasinya boleh dilakukan secara sembarangan.
TUG hanya membutuhkan kursi, lintasan pendek, dan stopwatch. Itu merupakan keunggulan besar ketika pemeriksaan dilakukan dalam pelayanan primer atau lingkungan masyarakat.
Namun, risiko jatuh tidak hanya berasal dari kemampuan berjalan.
WHO menjelaskan bahwa kemampuan fungsional lansia merupakan hasil interaksi antara kapasitas intrinsik seseorang dan lingkungan tempat ia hidup. Lingkungan tersebut mencakup rumah, komunitas, serta faktor sosial dan fisik di sekitarnya.
Dengan kata lain, seorang lansia dengan kemampuan fisik cukup baik tetap dapat menghadapi risiko apabila lingkungan rumahnya tidak aman.
Karena itu, nilai terbesar TUG bukan sebagai “mesin peramal jatuh”, melainkan sebagai sinyal awal bahwa kemampuan mobilitas seseorang perlu diperhatikan lebih lanjut.
Mengapa Skrining Risiko Jatuh Penting bagi Lansia?
Jatuh merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang besar.
WHO memperkirakan sekitar 684.000 orang meninggal akibat jatuh setiap tahun di dunia. Lebih dari 80% kematian tersebut terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Orang berusia di atas 60 tahun mengalami jumlah kematian akibat jatuh terbesar.
WHO juga memperkirakan terdapat sekitar 37,3 juta kejadian jatuh setiap tahun yang cukup parah hingga membutuhkan perhatian medis.
Angka tersebut menunjukkan mengapa deteksi dini penting.
Masalahnya bukan hanya cedera yang terjadi pada saat jatuh. Setelah jatuh, seorang lansia dapat mengalami penurunan aktivitas, kehilangan kepercayaan diri untuk berjalan, menjadi lebih bergantung kepada keluarga, atau mengalami penurunan kemampuan fungsional.
Karena itu, pencegahan jatuh berkaitan erat dengan tujuan mempertahankan kemandirian lansia.
WHO menempatkan kemampuan bergerak sebagai bagian dari functional ability dalam konsep healthy ageing.
Apa yang Dilakukan Setelah Lansia Teridentifikasi Berisiko?
Hasil skrining yang menunjukkan adanya risiko sebaiknya menjadi alasan untuk melakukan penilaian lebih lanjut, bukan langsung memberikan kesimpulan medis.
Faktor yang dapat diperhatikan antara lain:
riwayat jatuh;
kemampuan berjalan;
keseimbangan;
kekuatan tungkai;
penggunaan obat;
gangguan penglihatan;
tekanan darah saat perubahan posisi;
kondisi lingkungan rumah;
kebutuhan alat bantu mobilitas.
WHO dalam ICOPE menekankan pentingnya pendekatan terpadu dan berulang untuk mendeteksi penurunan kemampuan lansia serta melakukan intervensi yang sesuai. Panduan edisi kedua juga menempatkan komunitas sebagai bagian penting dalam proses tersebut.
Artinya, pemeriksaan risiko jatuh bukan kegiatan yang idealnya hanya dilakukan sekali lalu selesai.
Pemantauan berkala dapat membantu melihat apakah kemampuan fungsional lansia mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Cara Menjaga Nafsu Makan Lansia yang Praktis dan Aman di Rumah
Baca Juga: Ini Syarat Khusus untuk Calon Petugas Haji 2027 Layanan Jemaah Lansia dan Disabilitas
FAQ
Apa nama alat untuk skrining risiko jatuh pada lansia?
Salah satu instrumen yang digunakan untuk membantu skrining risiko jatuh pada lansia adalah Timed Up and Go (TUG) Test. Tes ini menilai mobilitas fungsional dengan mengukur waktu yang diperlukan seseorang untuk berdiri dari kursi, berjalan sekitar 3 meter, berbalik, kembali, dan duduk. CDC STEADI menggunakan TUG sebagai salah satu functional assessment untuk mengidentifikasi masalah gait dan keseimbangan.
Apa kepanjangan TUG pada pemeriksaan lansia?
TUG merupakan singkatan dari Timed Up and Go. Pemeriksaan ini dirancang untuk menilai mobilitas seseorang melalui rangkaian gerakan berdiri, berjalan, berbalik, kembali berjalan, dan duduk. Selain waktu, pemeriksa dapat mengamati aspek seperti kestabilan postur dan pola berjalan selama tes.
Bagaimana cara melakukan Timed Up and Go Test?
Lansia duduk di kursi, kemudian ketika mendapat aba-aba berdiri, berjalan menuju garis sekitar 3 meter, berbalik, berjalan kembali, dan duduk. Waktu dihitung sejak mulai bergerak hingga kembali duduk. CDC menyarankan pemeriksa tetap berada dekat lansia selama tes untuk menjaga keselamatan.
Berapa detik TUG yang menunjukkan risiko jatuh?
Dalam protokol CDC STEADI, waktu 12 detik atau lebih pada TUG menunjukkan peningkatan risiko jatuh. Namun, hasil tersebut tidak berarti lansia pasti akan jatuh. Nilai TUG harus dipertimbangkan bersama riwayat jatuh dan faktor risiko lainnya.
Apakah TUG dapat menentukan lansia pasti akan jatuh?
Tidak. TUG merupakan pemeriksaan mobilitas yang dapat membantu mengidentifikasi peningkatan risiko, bukan alat untuk memprediksi secara pasti bahwa seseorang akan jatuh. Risiko jatuh dipengaruhi banyak faktor, termasuk kemampuan fisik, obat-obatan, penglihatan, riwayat jatuh, serta kondisi lingkungan.
Apa saja alat lain untuk menilai risiko jatuh lansia?
Selain TUG, terdapat 30-Second Chair Stand Test untuk menilai kekuatan dan daya tahan tungkai serta 4-Stage Balance Test untuk menilai keseimbangan. Instrumen lain seperti Berg Balance Scale dan SPPB juga dapat digunakan sesuai tujuan serta konteks penilaian. CDC STEADI menggunakan beberapa functional assessment agar penilaian tidak hanya bergantung pada satu jenis tes.
Mengapa skrining risiko jatuh penting bagi lansia?
Skrining membantu menemukan tanda awal gangguan mobilitas dan keseimbangan sebelum masalah berkembang menjadi jatuh yang menyebabkan cedera atau kehilangan kemandirian. WHO mencatat sekitar 684.000 kematian akibat jatuh terjadi setiap tahun secara global dan orang berusia di atas 60 tahun mengalami jumlah kematian akibat jatuh terbesar.
Kesimpulan
Jika pertanyaannya adalah “apa nama instrumen atau alat bantu yang digunakan untuk melakukan skrining deteksi dini risiko jatuh pada lansia di masyarakat?”, salah satu jawaban utamanya adalah Timed Up and Go (TUG) Test.
TUG merupakan pemeriksaan sederhana yang menilai mobilitas fungsional melalui aktivitas berdiri, berjalan sekitar 3 meter, berbalik, kembali, dan duduk. Dalam pedoman CDC STEADI, waktu ≥12 detik menjadi indikator peningkatan risiko jatuh.
Tetapi poin terpentingnya adalah TUG bukan satu-satunya penentu risiko jatuh. Lansia perlu dinilai secara lebih menyeluruh karena jatuh merupakan masalah multifaktor yang melibatkan kondisi fisik, obat, penglihatan, riwayat jatuh, serta lingkungan.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah WHO yang mendorong penilaian lansia secara terpadu di pelayanan primer dan komunitas.
Pantau terus informasi berbasis bukti mengenai kesehatan, keselamatan, dan kemandirian lansia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





