Akurat Logo

Efek Asap Karhutla bagi Kesehatan, Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung

Nurma Nafisa Faradilla | 26 Agustus 2026, 15:07 WIB
Efek Asap Karhutla bagi Kesehatan, Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung
Ilustrasi asap karhutla. - Pixabay

AKURAT.CO Bahaya asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan pada saluran pernapasan. Paparan kabut asap juga membawa partikel halus dan polutan yang dapat berdampak pada sistem kardiovaskular, terutama ketika seseorang terpapar asap dalam konsentrasi tinggi.

American Heart Association atau AHA mengingatkan bahwa partikel mikroskopis dalam asap kebakaran hutan dapat berkaitan dengan peningkatan risiko masalah jantung. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak kabut asap perlu mengenali gejala gangguan kesehatan dan tidak mengabaikan tanda-tanda yang mengarah pada kondisi darurat.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Pengamanan Lahan Konsesi Harus Lebih Ekstra untuk Cegah Karhutla

Mengapa Asap Karhutla Bisa Berdampak pada Jantung?

Asap kebakaran hutan membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus yang ukurannya sangat kecil. Polutan tersebut dapat terbawa angin hingga jauh dari lokasi kebakaran.

AHA menjelaskan bahwa meskipun gangguan pernapasan sering dianggap sebagai dampak utama asap kebakaran hutan, kesehatan kardiovaskular juga perlu diperhatikan.

Paparan partikel halus dalam asap dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular. Dampaknya dapat menjadi perhatian terutama ketika seseorang terpapar asap pekat.

Risiko Henti Jantung Dapat Meningkat

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan yang pekat dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen.

Peningkatan tersebut dilaporkan terjadi pada pria maupun wanita, terutama kelompok usia 35 hingga 64 tahun.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak seharusnya hanya dilihat dari munculnya batuk atau sesak napas. Masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda yang berhubungan dengan kondisi jantung.

Baca Juga: Kemenhub Pastikan Transportasi di Kalimantan Tetap Berjalan Normal

Gejala Gangguan Jantung yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat yang terpapar kabut asap perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang mengarah pada gangguan jantung akut.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada

Keluhan dapat berupa tekanan, rasa tertekan, penuh, atau nyeri di bagian tengah dada. Rasa tidak nyaman tersebut dapat berlangsung selama beberapa menit atau muncul dan menghilang.

Nyeri yang Menjalar

Rasa sakit dapat menjalar dari dada ke bagian tubuh lain, seperti satu atau kedua lengan, punggung, leher, rahang, hingga bagian ulu hati atau perut.

Sesak Napas

Kesulitan bernapas juga menjadi tanda yang harus diperhatikan. Sesak dapat muncul bersamaan dengan rasa tidak nyaman di dada maupun tanpa disertai nyeri dada.

Keringat Dingin dan Mual

Gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain keringat dingin yang muncul secara tiba-tiba, mual, serta rasa lelah yang tidak biasa.

Jantung Berdebar dan Pusing

Detak jantung yang terasa cepat atau tidak teratur, pusing, serta sensasi kepala terasa ringan juga perlu mendapat perhatian, terutama jika muncul bersama gejala lainnya.

Jika mengalami tanda-tanda darurat seperti nyeri dada, sesak berat, atau gejala lain yang mengarah pada serangan jantung, segera cari bantuan medis darurat.

Asap Karhutla Bisa Terbawa Jauh

Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah dampak asap tidak selalu terbatas pada wilayah yang berdekatan dengan titik kebakaran.

Partikel dan polutan dari kebakaran hutan dapat terbawa angin hingga jarak yang jauh. Karena itu, kondisi kualitas udara di suatu wilayah dapat memburuk meskipun sumber kebakaran berada di daerah lain.

Situasi tersebut membuat pemantauan kualitas udara menjadi penting, terutama ketika terjadi karhutla dalam skala besar.

Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Selain orang dengan penyakit jantung, masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan juga perlu mengurangi paparan kabut asap.

Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit serta memperburuk penyakit pernapasan seperti ISPA, asma, dan PPOK.

Masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara tidak sehat dan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara serta perkembangan karhutla.

Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?

Jangan menunggu kondisi semakin parah apabila muncul gejala yang mengarah pada gangguan jantung atau gangguan pernapasan berat.

Nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, jantung berdebar tidak teratur, pusing, atau rasa lelah ekstrem perlu mendapat perhatian. Terlebih apabila beberapa gejala muncul secara bersamaan.

Pertolongan medis segera diperlukan jika gejala tersebut mengarah pada kondisi darurat.

Baca Juga: Pimpinan DPR Gelar Audiensi Bahas Kondisi PT Pos Indonesia, Soroti Nasib 31 Ribu Karyawan

FAQ

Apakah asap karhutla bisa menyebabkan gangguan jantung?

Paparan partikel halus dari asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular dan dapat menjadi perhatian khusus ketika asap sangat pekat.

Apa gejala gangguan jantung akibat paparan asap?

Gejalanya dapat berupa nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, nyeri yang menjalar ke lengan atau rahang, keringat dingin, mual, jantung berdebar, pusing, dan kelelahan ekstrem.

Berapa besar peningkatan risiko henti jantung akibat asap kebakaran?

Penelitian yang dikutip dalam bahan menunjukkan paparan asap kebakaran hutan yang pekat dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen.

Apakah asap karhutla hanya berbahaya bagi paru-paru?

Tidak. Selain mengganggu sistem pernapasan, paparan asap karhutla juga dapat mengiritasi mata dan kulit serta berkaitan dengan risiko gangguan kardiovaskular.

Apa yang harus dilakukan saat kabut asap semakin pekat?

Kurangi paparan asap, batasi aktivitas di luar ruangan, pantau kualitas udara, dan segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala berat atau tanda-tanda kondisi darurat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.