Ciri-Ciri, Penyebab, dan Gejala Kanker Ovarium yang Wajib Diketahui Perempuan

AKURAT.CO Kanker ovarium sering disebut sebagai “silent killer” karena gejalanya samar dan sulit dikenali pada tahap awal. Banyak pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah berada di stadium lanjut, sehingga peluang penyembuhan lebih kecil. Padahal, deteksi dini sangat berpengaruh terhadap tingkat kesembuhan.
Salah satu figur publik yang pernah berhadapan langsung dengan penyakit ini adalah Shahnaz Haque, yang hingga kini dikenal sebagai penyintas kanker ovarium. Pengalamannya menjadi bukti bahwa penyakit kritis bisa menyerang siapa saja, bahkan di usia produktif.
Apa Itu Kanker Ovarium?
Kanker ovarium adalah kondisi ketika sel-sel abnormal tumbuh tidak terkendali di indung telur. Ovarium berperan penting dalam sistem reproduksi perempuan karena menghasilkan sel telur sekaligus hormon seperti estrogen dan progesteron.
Ada beberapa jenis kanker ovarium yang paling umum terjadi:
-
Epithelial tumor yang berasal dari lapisan luar ovarium. Ini adalah jenis paling banyak ditemukan.
-
Germ cell tumor yang berkembang dari sel telur, umumnya menyerang perempuan usia lebih muda.
-
Stromal tumor yang berasal dari jaringan penghubung ovarium sekaligus penghasil hormon.
Meskipun tipe-tipe ini berbeda, tantangan terbesar tetap sama: kanker ovarium sulit dikenali pada tahap awal.
Penyebab dan Faktor Risiko
Belum ada penyebab tunggal yang pasti, namun penelitian dari Mayo Clinic dan Johns Hopkins menunjukkan adanya faktor risiko yang memperbesar peluang perempuan terkena kanker ovarium.
-
Usia – Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause.
-
Genetik dan Riwayat Keluarga – Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 berhubungan erat dengan kanker ovarium dan kanker payudara. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalaminya, risiko otomatis meningkat.
-
Faktor Hormonal dan Reproduksi – Tidak pernah hamil, menstruasi dini, atau menopause terlambat membuat ovarium aktif lebih lama. Sementara itu, penggunaan terapi hormon pascamenopause juga dikaitkan dengan peningkatan risiko.
-
Kondisi Medis Tertentu – Endometriosis dan obesitas turut menjadi faktor pendukung.
-
Gaya Hidup – Pola makan tidak sehat, merokok, serta kurang aktivitas fisik bisa berkontribusi.
Gejala Kanker Ovarium
Banyak pasien mengira gejala awal kanker ovarium hanyalah gangguan ringan pada pencernaan atau menstruasi. Namun, jika gejala berlangsung terus-menerus lebih dari dua minggu, kondisi ini harus diwaspadai.
Gejala yang umum meliputi:
-
Perut kembung atau membesar.
-
Rasa cepat kenyang meski makan sedikit.
-
Nyeri pada panggul atau perut bagian bawah.
-
Sering buang air kecil atau merasa mendesak ingin kencing.
-
Perubahan pola buang air besar seperti sembelit.
-
Perdarahan vagina yang tidak normal, terutama setelah menopause.
-
Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
-
Mudah lelah berkepanjangan.
-
Nyeri punggung bagian bawah.
Kisah Shahnaz Haque: Dua Dekade Menjadi Penyintas Kanker Ovarium
Shahnaz Haque didiagnosis kanker ovarium pada 1998. Kala itu, kesibukan membuatnya abai menjaga pola hidup sehat. Ketika dokter menyarankan operasi, rasa takut membuatnya menunda tindakan medis hingga satu tahun. Akibatnya, gejala semakin parah: sulit buang air besar, meningkatnya frekuensi buang air kecil, nyeri pinggang, hingga kesulitan berjalan.
Baru pada 1999 Shahnaz memberanikan diri menjalani operasi. Ia menyadari betapa beruntungnya dirinya karena kanker masih terdeteksi dini. Faktanya, hanya sekitar 20 persen kasus kanker ovarium ditemukan di tahap awal. Jika terdiagnosis sejak dini, tingkat kelangsungan hidup bisa mencapai 94 persen.
Sejak itu, hidupnya berubah total. Ia mulai disiplin dengan pola makan sehat, olahraga teratur, serta menanamkan kebiasaan sehat kepada ketiga putrinya. Riwayat kanker dalam keluarga—ibunya, neneknya, dan mertuanya meninggal karena kanker—membuat kesadaran ini semakin kuat.
Bagi Shahnaz, percakapan tentang kanker bukan lagi hal tabu, melainkan bagian penting dari edukasi keluarga.
Penyakit Kritis Bisa Menyerang Usia Produktif
Kisah Shahnaz sejalan dengan data Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI. Pada 2023, kasus penyakit kritis di Indonesia meningkat 28 persen dibanding tahun sebelumnya. Penyakit jantung menjadi yang paling dominan, diikuti oleh kanker dan penyakit lain yang banyak menyerang kelompok usia produktif.
Hal ini menegaskan bahwa penyakit kritis bukan hanya ancaman bagi usia lanjut, melainkan juga bagi mereka yang sedang berada di puncak aktivitas dan karier.
Pentingnya Proteksi Penyakit Kritis
Shahnaz menekankan bahwa melawan penyakit kritis tidak hanya soal menjaga fisik, tapi juga mental dan finansial. Biaya pengobatan yang besar dapat menguras tabungan keluarga. Karena itu, ia menganggap proteksi kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga.
“Pengalaman pribadi saya membuka mata bahwa risiko penyakit kritis bisa datang tanpa diduga, bahkan di usia yang masih produktif. Biaya pengobatan yang besar, mulai dari konsultasi dokter hingga terapi lanjutan, dapat menguras emosi dan finansial. Oleh karena itu, menurut saya, memiliki perlindungan yang tepat, seperti asuransi penyakit kritis, sudah menjadi suatu kebutuhan yang wajib disiapkan," ujar Shahnaz dalam konferensi pers Zurich Asuransi Indonesia dan Bank Danamon di Jakarta, Kamis, 18 September 2025.
PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich) bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) meluncurkan produk Perlindungan Optimal Penyakit Kritis yang dirancang untuk membantu masyarakat menghadapi risiko ini.
Beberapa manfaat produk ini antara lain:
-
Premi mulai dari Rp250 ribu per bulan.
-
Perlindungan hingga Rp1 miliar.
-
Cakupan 34 penyakit kritis dari tahap awal hingga terminal.
-
Proses pendaftaran mudah tanpa medical check-up.
-
Konsultasi medis kedua.
-
Pengembalian premi 25% jika tidak ada klaim dalam dua tahun.
-
Santunan hidup hingga 400 kali premi bulanan.
-
Fasilitas double claim untuk fleksibilitas lebih besar.
Dengan proteksi ini, masyarakat bisa merasa lebih aman saat mengejar impian, meski risiko kesehatan tetap ada.
Kesimpulan
Kanker ovarium adalah penyakit serius yang sering sulit dideteksi pada tahap awal. Mengenali ciri-ciri, memahami faktor risiko, dan mewaspadai gejalanya adalah langkah awal untuk pencegahan. Kisah Shahnaz Haque menjadi bukti nyata bahwa deteksi dini bisa menyelamatkan hidup, sementara proteksi kesehatan membantu menjaga kestabilan finansial keluarga.
Penyakit kritis bisa datang kapan saja. Karena itu, menjaga pola hidup sehat dan memiliki perlindungan kesehatan yang tepat adalah dua hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Kalau kamu ingin selalu update soal kesehatan dan proteksi finansial, jangan lupa ikuti terus berita terbaru di media terpercaya agar tetap waspada dan siap menghadapi masa depan.
Baca Juga: Ini Kelebihan Enteromix, Vaksin Kanker Rusia dengan Efektivitas 100%
Baca Juga: Rusia Umumkan Vaksin Kanker Kolorektal Siap Digunakan
FAQ
1. Siapa Shahnaz Haque dan apa kaitannya dengan kanker ovarium?
Shahnaz Haque adalah figur publik Indonesia yang pernah didiagnosis kanker ovarium pada tahun 1998. Ia berhasil menjadi penyintas setelah menjalani operasi dan kini aktif mengkampanyekan pentingnya gaya hidup sehat serta proteksi penyakit kritis.
2. Apa gejala awal kanker ovarium yang dialami Shahnaz Haque?
Shahnaz merasakan gejala seperti sulit buang air besar, frekuensi buang air kecil meningkat, sakit pinggang, dan kesulitan berjalan. Gejala ini sering kali samar sehingga banyak perempuan tidak menyadari keberadaannya pada tahap awal.
3. Mengapa kanker ovarium sulit terdeteksi pada tahap awal?
Kanker ovarium memiliki gejala yang mirip dengan gangguan kesehatan umum seperti gangguan pencernaan atau kembung. Hanya sekitar 20% kasus yang terdeteksi pada stadium awal, padahal peluang kesembuhan dapat mencapai 94% bila ditemukan sejak dini.
4. Apa yang dilakukan Shahnaz Haque setelah sembuh dari kanker ovarium?
Setelah sembuh, Shahnaz menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga pola makan, dan menanamkan kesadaran kesehatan kepada anak-anaknya. Ia juga aktif mengingatkan pentingnya deteksi dini dan proteksi kesehatan.
5. Mengapa proteksi penyakit kritis dianggap penting?
Proteksi penyakit kritis seperti asuransi membantu meringankan beban biaya pengobatan yang sering kali sangat besar. Hal ini juga melindungi kondisi finansial keluarga agar tetap stabil meskipun terjadi risiko kesehatan.
6. Apa saja manfaat produk Perlindungan Optimal Penyakit Kritis dari Zurich dan Danamon?
Produk ini menawarkan premi mulai dari Rp250 ribu per bulan, perlindungan hingga Rp1 miliar, cakupan 34 penyakit kritis (dari tahap awal hingga terminal), proses pendaftaran cepat tanpa medical check-up, santunan hidup hingga 400 kali premi bulanan, dan pengembalian premi 25% bila tidak ada klaim dalam dua tahun.
7. Siapa saja yang sebaiknya mempertimbangkan proteksi penyakit kritis?
Setiap orang, khususnya mereka yang berada di usia produktif, disarankan memiliki proteksi penyakit kritis karena risiko penyakit berat dapat datang tanpa peringatan, terlepas dari kondisi kesehatan saat ini.
8. Bagaimana cara mencegah kanker ovarium?
Pencegahan meliputi pemeriksaan kesehatan rutin, mengenali gejala sejak dini, menjaga pola makan seimbang, berolahraga teratur, serta menghindari kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau konsumsi alkohol berlebihan.
9. Apa pesan utama dari kisah Shahnaz Haque?
Kisah Shahnaz menegaskan pentingnya deteksi dini, pola hidup sehat, dan proteksi finansial untuk menghadapi risiko penyakit kritis. Perlindungan kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keberlangsungan keluarga dan masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








