Temulawak dan Kunyit Aman Dikonsumsi di Tengah Wabah Covid-19

AKURAT.CO Di tengah mewabahnya covid-19, beredar kabar melalui pesan singkat bahwa mengonsumsi temulawak dan kunyit tidak baik untuk kesehatan.
Hal tersebut dikarenakan temulawak dan kunyit mengandung senyawa aktif curcumin yang mana apat meningkatkan ekspresi enzim ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme-2) yang merupakan receptor covid-19, sehingga lebih mudah terpapar virus tersebut.
Dr. Inggrid Tania, M.Si. (Herbal) sebagai Ketua Umum PDPOTJI (Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia) pun mendapatkan pesan singkat yang membuat resah masyarakat.
Untuk itu, beberapa hal penting ini disampaikan oleh Dokter Inggrid untuk meluruskan kebenaran dari temulawak dan kunyit.
1. Jamu yang mengandung temulawak dan kunyit sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad dan terbukti aman dan bermanfaat terhadap kesehatan, di antaranya memelihara kesehatan, kebugaran/vitalitas dan bahkan memelihara kesehatan liver dan pencernaan (empirical experimental evidence).
2. Baik temulawak maupun kunyit mengandung ratusan senyawa bioaktif, salah satunya adalah senyawa Curcumin.
3. Berbagai penelitian (terutama penelitian in-vitro dan praklinis) di dunia terhadap Curcumin menunjukkan bahwa Curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur dan antioksidan (scientific evidence).
4. Salah satu manfaat Curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator (clinical evidence).
5. Penelitian terakhir terhadap virus SARS-CoV-2 yang menjadi agen/penyebab penyakit Covid-19 menunjukkan bahwa reseptor SARS-CoV-2 adalah suatu enzim yang bernama ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme-2) yang terdapat pada sel inang (sel manusia, terutama sel alveolus dalam paru). Namun, pintu masuk (cell entry) virus SARS-CoV-2 tidak hanya bergantung pada ikatan protein spike virus dengan reseptor pada sel inang (ACE2), tapi juga bergantung pada priming protein spike oleh protease sel inang (TMPRSS2).
6. Secara fungsional, ada 2 (dua) bentuk ACE2, yakni bentuk fixed (menempel pada permukaan sel) dan bentuk soluble (bentuk bebas dalam darah). ACE2 bentuk soluble diproyeksikan menjadi salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2 melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.
7. Penelitian bio-informatika yang dipublikasikan bulan Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebutkan Curcumin sebagai salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2, maka diharapkan Curcumin mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed yang terdapat pada permukaan sel inang.
8. Adapun kepustakaan jurnal yang dijadikan acuan oleh para penulis pesan singkat di berbagai media sosial (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4651552/ dengan Xue-Fen Pang sebagai Peneliti Utama) berisi penelitian yang sebatas menyimpulkan Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel miokardium hewan tikus (ACE2 bentuk fixed pada sel otot jantung tikus). Sebagai catatan khusus, Peneliti Utama tersebut pernah memiliki riwayat retracted article (ditariknya publikasi artikel dari jurnal) atas dasar diragukannya integritas dari hasil penelitian.
9. Oleh karena itu, adalah suatu penarikan kesimpulan yang terlalu dini, oversimplifikasi dan jump to conclusion jika para penulis pesan singkat menyimpulkan bahwa Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel alveolus dalam paru manusia dengan hanya berdasarkan artikel yang menyebutkan bahwa Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel otot jantung tikus.
10.Sehingga, larangan konsumsi jamu temulawak dan kunyit serta suplemen Curcumin dengan alasan menimbulkan kerentanan terhadap Covid-19 merupakan suatu larangan yang tidak rasional, karena belum ada satupun penelitian yang mengkonfirmasi dampak buruk temulawak, kunyit maupun Curcumin terhadap Covid-19.
Dokter Inggrid berharap semoga bangsa Indonesia dapat mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, seperti sumber daya manusia, alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, pengetahuan kesehatan tradisional dan kearifan lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 7Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana




