Akurat

Hati-hati, Dampak Polusi Udara Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

| 1 September 2023, 22:33 WIB
Hati-hati, Dampak Polusi Udara Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

AKURAT.CO Dampak polusi udara ternyata tak hanya merusak kesehatan fisik seperti organ pernafasan dan jantung. Tapi, polusi udara juga dapat memengaruhi kesehatan mental. 

Dilansir dari American Psychiatric Association, beberapa penelitian menunjukkan dampak polusi udara dapat meningkatkan stres, tekanan psikologis, menambah risiko demensia, alzheimer, depresi, skizofrenia, bipolar dan gangguan kepribadian.

Efek polusi udara tersebut tak hanya membayang-bayangi orang dewasa. Sejumlah penelitian juga membuktikan imbasnya dapat dirasakan anak-anak.

Dokter spesialis paru, Dr. Garinda Alma Duta, Sp. P (K), FISR, menjelaskan bagaimana polusi udara secara tidak langsung bisa memengaruhi kesehatan mental.

"Saat menghirup udara, polutan bisa msuk ke paru-paru dan pembuluh darah, sehingga bisa terbawa sampai ke otak. Di situlah terjadinya gangguan kesehatan mental." kata Garinda, saat berbincang di Live Instagram Kementerian Kesehatan yang dikutip Jumat (1/9/2023).

Lebih lanjut Garinda menyampaikan, ada beberapa polutan atau sumber polusi udara yang dapat memengaruhi kesehatan otak.

Ia menyebutkan, particulate matter atau PM 2.5 yang berukuran sangat kecil atau kurang dari 2,5 mikrometer bisa menembus sistem saraf dan otak. Hal itu dapat menurunkan kemampuan berpikir. 

Selain itu, Garinda juga mengatakan paparan gas CO2 saat terhirup bisa menurunkan daya pikir atau kemampuan kognitif. 

"Perubahan sel-sel di dalam otak memicu berbagai hal, sehingga dapat menganggu kesehatan mental. Apalagi stres oksidatif naik, akhirnya akan berefek ke seluruh tubuh dan menganggu sistem saraf kita," jelasnya.

Senada dengan pendapat Garinda, sejumlah peneliti di Amerika Serikat dan Denmark menemukan fakta bahwa terdapat mekanisme peradangan saraf yang menghubungkan antara polusi udara dan masalah kejiwaan. 

Menurut ahli tersebut, orang yang menghirup polusi udara, bagian otaknya yang bertugas mengendalikan emosi akan mengalami perubahan, sehingga kemungkinan mengalami perubahan mental tertentu. 

Terutama pada individu atau orang yang sebelumnya punya riwayat gangguan kecemasan dan depresi. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Editor
Wahyu SK