AKURAT.CO Dampak polusi udara ternyata tak hanya merusak kesehatan fisik seperti organ pernafasan dan jantung. Tapi, polusi udara juga dapat memengaruhi kesehatan mental.
Dilansir dari American Psychiatric Association, beberapa penelitian menunjukkan dampak polusi udara dapat meningkatkan stres, tekanan psikologis, menambah risiko demensia, alzheimer, depresi, skizofrenia, bipolar dan gangguan kepribadian.
Efek polusi udara tersebut tak hanya membayang-bayangi orang dewasa. Sejumlah penelitian juga membuktikan imbasnya dapat dirasakan anak-anak.
Dokter spesialis paru, Dr. Garinda Alma Duta, Sp. P (K), FISR, menjelaskan bagaimana polusi udara secara tidak langsung bisa memengaruhi kesehatan mental.
"Saat menghirup udara, polutan bisa msuk ke paru-paru dan pembuluh darah, sehingga bisa terbawa sampai ke otak. Di situlah terjadinya gangguan kesehatan mental." kata Garinda, saat berbincang di Live Instagram Kementerian Kesehatan yang dikutip Jumat (1/9/2023).
Lebih lanjut Garinda menyampaikan, ada beberapa polutan atau sumber polusi udara yang dapat memengaruhi kesehatan otak.
Ia menyebutkan, particulate matter atau PM 2.5 yang berukuran sangat kecil atau kurang dari 2,5 mikrometer bisa menembus sistem saraf dan otak. Hal itu dapat menurunkan kemampuan berpikir.
Selain itu, Garinda juga mengatakan paparan gas CO2 saat terhirup bisa menurunkan daya pikir atau kemampuan kognitif.
"Perubahan sel-sel di dalam otak memicu berbagai hal, sehingga dapat menganggu kesehatan mental. Apalagi stres oksidatif naik, akhirnya akan berefek ke seluruh tubuh dan menganggu sistem saraf kita," jelasnya.
Senada dengan pendapat Garinda, sejumlah peneliti di Amerika Serikat dan Denmark menemukan fakta bahwa terdapat mekanisme peradangan saraf yang menghubungkan antara polusi udara dan masalah kejiwaan.
Menurut ahli tersebut, orang yang menghirup polusi udara, bagian otaknya yang bertugas mengendalikan emosi akan mengalami perubahan, sehingga kemungkinan mengalami perubahan mental tertentu.
Terutama pada individu atau orang yang sebelumnya punya riwayat gangguan kecemasan dan depresi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







