Akurat

Ramai-ramai Jadikan AI Gacoan dalam Perang Smartphone 2026

Winna Wandayani | 21 Februari 2026, 18:56 WIB
Ramai-ramai Jadikan AI Gacoan dalam Perang Smartphone 2026

AKURAT.CO Perang on-device AI di smartphone pada 2026 tidak lagi berhenti soal fitur generatif yang mencolok saat peluncuran produk. Di balik ringkasan otomatis, edit foto instan, hingga live translation, terjadi perubahan fundamental dalam cara kecerdasan buatan diproses.

Jika sebelumnya sebagian besar komputasi AI mengandalkan cloud, kini industri bergerak ke pemrosesan lokal melalui Neural Processing Unit (NPU). Pergeseran ini menjadikan on-device AI smartphone 2026 sebagai fondasi baru persaingan antarbrand.

AI tidak lagi sekadar fitur tambahan untuk kebutuhan pemasaran, melainkan sistem inti yang menentukan pengalaman pengguna (user experience/UX), efisiensi daya, dan perlindungan data pribadi.

Selama bertahun-tahun, perintah AI di smartphone diproses melalui server pusat data. Model berukuran besar dijalankan di cloud, lalu hasil komputasinya dikirim kembali ke perangkat dalam hitungan detik.

Pendekatan ini memang mendukung kemampuan kompleks dan skalabilitas tinggi. Namun, ketergantungan pada cloud juga memunculkan tantangan: latensi jaringan, konsumsi data besar, hingga kekhawatiran privasi.

Memasuki 2026, pendekatan hybrid memadukan pemrosesan lokal dan cloud menjadi strategi dominan. Qualcomm memperkuat AI Engine dan Hexagon NPU di Snapdragon terbaru agar inferensi AI berjalan langsung di perangkat dengan efisien.

Meski kemampuan NPU meningkat signifikan, tanpa optimalisasi software yang matang, lonjakan spesifikasi belum tentu terasa nyata. Di sinilah perang AI smartphone 2026 menemukan bentuknya, sebagaimana dikutip dari Ars Technica.

Samsung Dorong Galaxy AI sebagai Ekosistem

Samsung menjadi salah satu pemain paling agresif lewat platform Galaxy AI. Awalnya dikenal melalui fitur seperti Circle to Search dan Live Translate, kini Galaxy AI diperluas ke produktivitas, fotografi generatif, hingga optimasi sistem.

Strateginya jelas: AI harus terasa praktis, bukan sekadar demo visual. Integrasi dengan One UI memungkinkan AI membantu menerjemahkan panggilan, merangkum catatan, hingga menyempurnakan komposisi foto secara real-time.

Baca Juga: ByteDance Luncurkan Doubao 2.0, Perkuat Ambisi AI di Era Agen Digital

Samsung juga mengembangkan AI kamera yang lebih canggih, mulai dari pemulihan detail gambar hingga manipulasi pencahayaan generatif. Kombinasi cloud dan pemrosesan lokal membuat respons lebih cepat.

Tantangannya terletak pada konsistensi. Jika fitur hanya optimal di seri flagship seperti Galaxy S atau Z terbaru, diferensiasi AI berisiko terasa eksklusif dan tidak merata di seluruh lini produk.

Apple Intelligence dan Narasi Privasi

Apple mengambil pendekatan berbeda melalui Apple Intelligence. Fokusnya bukan pada banyaknya fitur, melainkan integrasi mendalam dan perlindungan data pengguna.

Apple memprioritaskan pemrosesan on-device untuk tugas personal seperti ringkasan pesan dan notifikasi cerdas. Untuk komputasi berat, perusahaan mengandalkan Private Cloud Compute yang diklaim tetap menjaga privasi.

Pendekatan ini konsisten dengan positioning Apple: AI harus personal, aman, dan seamless dalam ekosistem iOS. Diferensiasi Apple terletak pada pengalaman yang stabil dan terkurasi, bukan pada efek visual paling mencolok.

Namun sejumlah analis menilai pendekatan ini relatif konservatif dibanding kompetitor Android yang agresif menghadirkan fitur generatif visual.

Google Gemini dan AI Native di Pixel

Google memiliki keunggulan historis di bidang AI. Melalui Gemini Nano yang berjalan di perangkat Pixel, Google menghadirkan fitur seperti Magic Editor, Magic Compose, hingga asisten kontekstual yang memahami isi layar.

Integrasi langsung dengan Search, Photos, dan Workspace membuat implementasi AI di Pixel terasa natural. Keunggulan Google terletak pada pemahaman konteks dan data.

Namun pengalaman terbaik sering kali maksimal di perangkat Pixel saja. Di luar itu, Android secara umum belum tentu menghadirkan kualitas AI yang sama.

Baca Juga: Smartphone Premium Kembali Diminati, Fitur-fitur Ini Jadi Unggulan

Manfaat On-Device AI

Secara teknis, manfaat on-device AI cukup jelas:

1. Respons lebih cepat tanpa selalu bergantung pada jaringan.

2. Privasi lebih terjaga karena data tidak terus-menerus dikirim ke server.

3. Efisiensi energi lebih baik berkat NPU yang dirancang khusus untuk beban AI.

Namun peningkatan UX sangat bergantung pada relevansi fitur. Ringkasan otomatis membantu profesional. Generative photo editing menarik bagi kreator konten. Live translation relevan untuk traveler dan pebisnis global.

Masalahnya, tidak semua pengguna membutuhkan semua fitur setiap hari. Jika tidak kontekstual, AI berisiko menjadi gimmick pemasaran.

Ars Technica menyoroti bahwa peningkatan spesifikasi NPU tidak otomatis menghasilkan pengalaman AI yang jauh lebih baik. Tanpa optimalisasi software yang matang, lonjakan hardware belum tentu berdampak signifikan.

Brand China vs Brand Global: Dua Gaya Perang AI Smartphone

Brand China seperti Xiaomi dan Honor agresif mempromosikan AI on-device sebagai nilai jual utama. Xiaomi mengintegrasikan AI di HyperOS untuk optimasi performa dan kamera, sementara Honor fokus pada personalisasi antarmuka.

Strategi mereka cenderung cepat dan eksploratif. Fitur diluncurkan lebih banyak dan berani dibanding brand global seperti Apple yang lebih terkontrol.

Perbedaan ini menciptakan dua pendekatan utama dalam perang AI smartphone 2026, yaknio model agresif dan eksperimental serta model terintegrasi dan terkurasi.

Pada akhirnya, konsumen tidak hanya menilai kecanggihan fitur, tetapi juga stabilitas dan konsistensi pengalaman.

AI Jadi Pembeda, Apakah Revolusioner?

Perang on-device AI smartphone 2026 semakin intens. Dari Samsung dengan Galaxy AI, Apple lewat Apple Intelligence, hingga Google melalui Gemini serta para pemain China yang agresif, semuanya berlomba menjadikan AI sebagai diferensiasi utama.

Namun AI baru benar-benar menjadi pembeda jika relevan dan terasa membantu dalam penggunaan sehari-hari. Jika 2024–2025 adalah fase demonstrasi, maka 2026 menjadi fase pembuktian: siapa yang mampu menghadirkan AI paling kontekstual, efisien, dan benar-benar meningkatkan user experience.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.