Iran Buka Peluang Negosiasi dengan AS, Selat Hormuz Bisa Kembali Aman dalam Dua Hari

AKURAT.CO Iran mulai membuka peluang negosiasi dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk melakukan perundingan dengan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian waktu setempat dalam pertemuan dengan para gubernur dan wali kota, Senin (2/11/2026). Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pemerintah berupaya menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi.
"Pemerintah sedang berupaya menyelesaikan persoalan ini melalui dialog, dan Pemimpin Tertinggi Revolusi telah memberikan sejumlah kewenangan kepada pemerintah dalam hal ini," kata Pezeshkian.
Meski demikian, Pezeshkian tidak menjelaskan secara terperinci batas kewenangan yang diberikan maupun apakah persyaratan Iran untuk berunding dengan Amerika Serikat mengalami perubahan.
Bloomberg melaporkan, Ali Vaez, Direktur Iran Project di International Crisis Group (ICG), menilai kewenangan tersebut kemungkinan bersifat terbatas dengan sejumlah batasan yang telah ditentukan.
Iran tawarkan pemulihan keamanan Selat Hormuz dalam dua hari
Di tengah peluang negosiasi, Iran menawarkan pemulihan keamanan di Selat Hormuz dalam waktu dua hari apabila Amerika Serikat bersedia menerima dan melaksanakan tuntutan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan proposal tujuh poin yang diajukan Iran pada September masih menjadi dasar perundingan. Namun, waktu pelaksanaannya kini dipersingkat dari sebelumnya tujuh hari menjadi hanya dua hari.
Iran mengajukan sejumlah tuntutan kepada Washington, termasuk pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, izin untuk kembali mengekspor minyak mentah, serta akses terhadap sebagian aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat.
"Segalanya bergantung pada sikap politik Amerika Serikat yang rasional," ujarnya.
Araghchi juga memperingatkan Iran akan memberikan respons lebih keras dibandingkan sebelumnya jika Washington memilih operasi militer daripada jalur diplomasi.
Trump pertimbangkan kesepakatan, Netanyahu dorong serangan
Di Washington, Presiden Donald Trump membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran. Ia juga menyatakan tidak akan terburu-buru mengambil keputusan untuk kembali melancarkan serangan militer.
Namun, Trump belum menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika perundingan tidak menghasilkan kesepakatan.
Situasi semakin rumit karena Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mendorong dimulainya kembali serangan udara terhadap Iran segera setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.
Perbedaan sikap tersebut memperlihatkan bahwa peluang penyelesaian konflik masih dibayangi ketegangan di antara pihak-pihak yang terlibat.
Persoalan program nuklir Iran dan urutan pencabutan blokade maritim juga masih menjadi ganjalan utama dalam upaya mencapai kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Harga minyak dunia turun, negara Teluk siaga
Harapan terhadap dimulainya kembali perundingan Iran dan Amerika Serikat turut memengaruhi pasar energi global. Harga minyak internasional dilaporkan turun lebih dari 7 persen menyusul optimisme bahwa kedua negara dapat mencapai kesepakatan.
Meski demikian, negara-negara Teluk tetap meningkatkan kesiagaan menghadapi kemungkinan serangan balasan apabila konflik kembali meningkat.
Perkembangan ini membuat situasi di kawasan Timur Tengah masih sulit diprediksi. Di satu sisi, Iran dan Amerika Serikat mulai menunjukkan sinyal membuka ruang diplomasi. Namun, ancaman operasi militer dan dorongan Israel untuk kembali menyerang Iran menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik belum sepenuhnya mereda.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November







