Iran Siapkan Tiga Skenario Konflik, Dari Gencatan Senjata hingga Perang Total

AKURAT.CO Militer Iran menerbitkan pedoman pertahanan pasif nasional yang mengatur langkah antisipasi menghadapi tiga kemungkinan situasi, yakni berakhirnya perang, gencatan senjata, dan perang skala penuh. Arahan terbaru ini muncul di tengah konflik yang masih berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pedoman tersebut diterbitkan oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, yang juga menjabat Ketua Komite Tetap Pertahanan Pasif Iran. Menurut kantor berita Fars pada Selasa, dokumen berisi 10 pasal itu menjadi dasar pelaksanaan program Peringatan Pertahanan Pasif Iran 2026.
Skenario perang total: kegiatan massal dihentikan
Dalam skenario perang skala penuh, pemerintah Iran memerintahkan penghentian seluruh kegiatan publik berskala besar dan acara tatap muka. Sebagai gantinya, seluruh aktivitas diarahkan pada kesiapan operasional, menjaga keberlangsungan layanan penting, pengelolaan sumber daya, bantuan kepada masyarakat, serta koordinasi antarlembaga.
Sementara itu, jika terjadi gencatan senjata tanpa berakhirnya permusuhan secara resmi, fokus utama pemerintah adalah meningkatkan kesiapsiagaan publik, kewaspadaan terhadap perang hibrida, serta penguatan keamanan informasi.
Adapun apabila perang benar-benar dinyatakan berakhir, Iran akan melanjutkan seluruh latihan, pendidikan, dan program sosialisasi pertahanan pasif yang sebelumnya telah direncanakan.
Evaluasi pengalaman dua perang sebelumnya
Pedoman baru itu juga memerintahkan pembaruan rencana operasional berdasarkan pengalaman dari apa yang disebut Iran sebagai "perang kedua dan ketiga yang dipaksakan" terhadap negara tersebut.
Iran sebenarnya rutin menerbitkan arahan serupa setiap tahun dalam rangka Peringatan Pertahanan Pasif, termasuk pada 2024 dan 2025. Namun, edisi 2026 dinilai berbeda karena secara eksplisit menyusun respons untuk tiga skenario konflik yang berbeda di tengah situasi perang aktif.
Konflik Iran-AS-Israel masih berlanjut
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai sasaran di Iran, termasuk gedung pemerintahan, fasilitas militer, infrastruktur rudal, dan sistem pertahanan udara.
Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut terus meluas, meski berbagai upaya diplomatik masih dilakukan untuk mendorong penghentian permusuhan.
Sebelum konflik terbaru ini, Iran dan Israel juga pernah terlibat perang selama 12 hari pada Juni 2025 yang berakhir melalui gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 2Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 3Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 6Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 7Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 8Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






