Mantan Penasihat Keamanan Israel Sebut Arab Saudi “Macan Kertas” Meski Punya Senjata Modern dan Dana Besar

AKURAT.CO Mantan penasihat keamanan nasional Israel, Brigadir Jenderal (purn.) Prof. Jacob Nagel, menilai kekuatan militer Arab Saudi tidak sebesar yang terlihat dari jumlah persenjataan dan kekuatan ekonominya. Pernyataan itu disampaikan saat membahas perjanjian pertahanan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan yang baru saja disepakati di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Dalam wawancara dengan radio Israel 103FM pada Jumat, Nagel menyebut Arab Saudi memiliki banyak senjata canggih dan sumber daya finansial besar, tetapi menurutnya masih menghadapi keterbatasan dalam kemampuan operasional militer.
“Arab Saudi, meskipun memiliki kekayaan dan persenjataan yang besar, dalam banyak hal adalah macan kertas. Mereka memiliki banyak senjata dan uang, tetapi secara militer mereka tidak mampu bertahan menghadapi tantangan secara mandiri,” ujar Nagel.
Kritik terhadap Kemampuan Militer Arab Saudi Hadapi Houthi
Nagel mencontohkan pengalaman Arab Saudi dalam konflik melawan kelompok Houthi di Yaman. Menurutnya, Riyadh gagal memanfaatkan keunggulan teknologi militer yang dimiliki meski telah mengoperasikan berbagai sistem persenjataan modern.
“Jika melihat perang ketika Saudi mencoba melawan Houthi, mereka gagal meskipun memiliki kemampuan canggih,” katanya.
Ia menilai Arab Saudi memang memiliki berbagai aset militer, mulai dari pesawat tempur, sistem pertahanan udara, hingga kemampuan intelijen, tetapi menghadapi kesulitan dalam menerjemahkan keunggulan tersebut menjadi efektivitas di medan perang.
Nagel juga meragukan kemungkinan Turki akan langsung mengerahkan kekuatan militernya untuk menyerang Houthi hanya karena kelompok tersebut menyerang Arab Saudi.
“Saya tidak melihat Turki mengirim angkatan lautnya untuk menyerang Houthi hanya karena mereka menyerang Saudi. Itu tidak sesuai dengan pandangan realistis saya mengenai kawasan ini,” ujarnya.
Saudi Cari Dukungan Baru di Tengah Ancaman Keamanan
Menurut Nagel, langkah Arab Saudi memperkuat hubungan pertahanan dengan negara lain menunjukkan kekhawatiran Riyadh terhadap kondisi keamanan dan ekonomi.
Ia mengatakan Arab Saudi merasa semakin rentan terhadap ancaman Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Teheran di berbagai wilayah Timur Tengah.
Nagel juga menyinggung keputusan Arab Saudi sebelumnya untuk memperbaiki hubungan dengan Iran. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena Riyadh merasa menghadapi ancaman nyata dari jaringan milisi yang didukung Iran.
“Masalah Saudi adalah mereka memiliki peralatan paling canggih, pesawat, dan intelijen, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menggunakan kekuatan itu secara efektif di lapangan,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kerja sama pertahanan baru dengan Turki dan Pakistan tetap memiliki nilai strategis, terutama sebagai pesan politik kepada Amerika Serikat.
Perjanjian Saudi-Turki-Pakistan Dinilai Sebagai Sinyal ke AS
Nagel menyebut kesepakatan pertahanan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan lebih merupakan langkah diplomasi untuk memberikan tekanan kepada pemerintahan Amerika Serikat.
Menurutnya, Riyadh kecewa terhadap kebijakan Washington, terutama terkait kekhawatiran mengenai ketersediaan persenjataan pertahanan seperti rudal dan pencegat di negara-negara Barat.
“Saudi ingin menunjukkan bahwa mereka tidak akan sendirian menghadapi konflik dengan poros Syiah,” ujar Nagel.
Perjanjian tersebut ditandatangani di Arab Saudi pada Jumat dan melibatkan tiga kekuatan regional utama: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Perang Iran-AS Dorong Kerja Sama Pertahanan Regional
Kesepakatan pertahanan Saudi-Turki-Pakistan muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Sumber yang dekat dengan pemerintah dan militer Saudi mengatakan kepada AFP bahwa pembahasan mengenai perjanjian tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama, tetapi perkembangan terbaru di kawasan mempercepat proses penandatanganannya.
Dua sumber regional lain yang mengetahui pembicaraan tersebut juga menyebut perkembangan keamanan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama percepatan kesepakatan.
Dalam pertemuan tersebut, Erdogan melakukan kunjungan kerja singkat ke Arab Saudi dengan didampingi sejumlah pejabat senior Turki. Sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersama Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir telah tiba di Arab Saudi sehari sebelumnya.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan bahwa kunjungan tersebut memiliki arti lebih luas dibanding sekadar merespons krisis jangka pendek di kawasan.
Sumber: JPost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Prediksi Prancis vs Italia 3 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat






