Amnesty International Tuding Negara-Negara Teluk Tangkap Ratusan Orang karena Unggah Video Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Amnesty International menuduh sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) memanfaatkan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah untuk memperketat pembatasan kebebasan berekspresi. Organisasi hak asasi manusia tersebut mengungkap bahwa lebih dari 700 orang telah ditangkap karena membagikan informasi, video, atau komentar terkait konflik regional.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, Amnesty International menuding pemerintah di Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, dan Oman melakukan kriminalisasi secara luas terhadap pertukaran informasi dengan dalih menjaga keamanan nasional.
Direktur Regional Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Heba Morayef, mengatakan gelombang penangkapan tersebut mencerminkan pola represi yang telah berlangsung lama di kawasan Teluk.
"Pemerintah-pemerintah ini memanfaatkan eskalasi ketegangan regional untuk memperketat kontrol yang sudah sangat menyesakkan terhadap kebebasan berekspresi demi mempertahankan citra mereka sebagai wilayah yang aman dan stabil," kata Morayef.
UEA dan Qatar Catat Jumlah Penangkapan Terbanyak
Laporan Amnesty menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab dan Qatar menyumbang mayoritas kasus yang didokumentasikan, dengan total lebih dari 700 penangkapan.
Otoritas di Kuwait, Bahrain, UEA, dan Qatar diketahui mengumumkan penahanan ratusan orang yang dituduh merekam, menyebarkan, atau membagikan video terkait pencegatan rudal serta dampak serangan proyektil yang terjadi selama konflik Timur Tengah.
Sejumlah warga juga ditangkap atas tuduhan "mengagungkan negara musuh dan pemimpin militernya", yang menurut Amnesty kemungkinan merujuk pada ekspresi simpati terhadap Iran.
Di UEA, sedikitnya 375 orang ditahan antara 3 Maret hingga 8 April 2026 karena diduga mempublikasikan atau membagikan video serta konten visual terkait konflik regional. Puluhan warga negara Inggris termasuk dalam daftar mereka yang ditangkap.
Sementara itu, Qatar menangkap 313 orang dari berbagai kewarganegaraan antara 28 Februari hingga 9 Maret. Mereka dituduh menyebarkan informasi yang dianggap menyesatkan atau memicu rumor terkait situasi keamanan.
Amnesty: Berbagi Video Bukan Tindak Pidana
Amnesty International menegaskan bahwa tindakan membagikan foto, video, maupun komentar mengenai peristiwa konflik bukanlah pelanggaran pidana menurut hukum internasional.
Organisasi tersebut menilai pemerintah negara-negara Teluk menggunakan pasal-pasal yang dianggap terlalu luas dan samar dalam undang-undang siber, antiterorisme, serta keamanan nasional untuk membenarkan penangkapan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Ijazah Gibran Dipersoalkan, Politisi PSI Singgung Riwayat Pendidikan BJ Habibie
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








