Akurat

WHO: Perempuan di Bangladesh Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi Virus Nipah

Kumoro Damarjati | 7 Februari 2026, 17:14 WIB
WHO: Perempuan di Bangladesh Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi Virus Nipah

AKURAT.CO Seorang perempuan meninggal dunia di Bangladesh bagian utara bulan lalu setelah terinfeksi virus Nipah yang mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi kasus tersebut di tengah peningkatan pemantauan potensi wabah di kawasan Asia Selatan.

WHO dalam keterangan resminya menyebutkan, pasien berusia antara 40 hingga 50 tahun itu mulai mengalami gejala pada 21 Januari. Gejala awal berupa demam dan sakit kepala, yang kemudian berkembang menjadi hipersalivasi, disorientasi, dan kejang.

Perempuan tersebut meninggal sekitar sepekan setelah gejala muncul. Infeksi virus Nipah dikonfirmasi sehari setelah kematiannya, menurut otoritas setempat.

Pasien dilaporkan tidak memiliki riwayat perjalanan. Namun, ia diketahui mengonsumsi nira kurma mentah (raw date palm sap), yang kerap dikaitkan dengan penularan virus Nipah. Sebanyak 35 orang yang melakukan kontak erat telah dilacak dan dipantau. Seluruhnya dinyatakan negatif, dan hingga kini belum ditemukan kasus tambahan, menurut WHO.

Kasus di Bangladesh ini muncul setelah dua kasus virus Nipah terdeteksi di negara tetangga, India. Temuan tersebut mendorong peningkatan skrining kesehatan di sejumlah bandara di kawasan Asia.

Kementerian Kesehatan India bulan lalu menyatakan sekitar 200 orang menjalani karantina setelah sedikitnya dua kasus Nipah ditemukan di negara bagian Benggala Barat, yang berbatasan langsung dengan Bangladesh.

Virus Nipah tergolong patogen berisiko tinggi menurut WHO. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus. Infeksi pada manusia tergolong jarang dan umumnya terjadi akibat penularan dari kelelawar, sering kali melalui buah atau bahan pangan yang terkontaminasi.

Tingkat kematian akibat virus ini dapat mencapai hingga 75 persen. Meski demikian, penularan antarmanusia relatif tidak mudah terjadi. Badan Keamanan Kesehatan Inggris menyebut para penyintas dapat mengalami dampak neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian.

Dalam kasus langka, radang otak (ensefalitis) dilaporkan dapat kambuh kembali beberapa bulan hingga bertahun-tahun setelah infeksi awal, baik karena relaps maupun reaktivasi virus.

Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Thailand, Indonesia, Singapura, dan Pakistan, telah menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara. Pemerintah Singapura juga mewajibkan pekerja migran yang datang dari Benggala Barat menjalani pengecekan suhu harian dan pemantauan gejala selama 14 hari.

WHO menilai risiko penyebaran lintas negara saat ini masih rendah dan belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan berdasarkan informasi yang tersedia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.