Akurat

Tarique Rahman Kembali ke Bangladesh Setelah 17 Tahun Pengasingan, Gimiknya Menarik

Fitra Iskandar | 26 Desember 2025, 10:07 WIB
Tarique Rahman Kembali ke Bangladesh Setelah 17 Tahun Pengasingan,  Gimiknya Menarik

AKURAT.CO Tarique Rahman kembali ke Bangladesh setelah 17 tahun hidup di pengasingan di Inggris. Kepulangan putra mantan Perdana Menteri Khaleda Zia dan Presiden Ziaur Rahman itu disambut ribuan pendukungnya dalam sebuah acara akbar di Purbachal, Dhaka, Kamis waktu setempat.

Ada gimik menarik dalam momen itu. Tarique menyingkirkan kursi mewah yang telah disiapkan panitia dan memilih duduk di kursi plastik biasa.

“Kami ingin membangun sebuah negara di mana setiap ibu merasa yakin akan keselamatan anaknya. Hindu, Muslim, Buddha, Kristen, warga pegunungan maupun dataran rendah, semuanya memiliki hak yang setara,” ujar Tarique Rahman dalam pidato publik pertamanya sejak Tarique Rahman kembali ke Bangladesh.

Tarique, yang menjabat sebagai Ketua Pelaksana Partai Nasionalis Bangladesh (BNP), meninggalkan negaranya pada 2008 setelah menghadapi sejumlah tuduhan kasus suap dan pencucian uang. Sejak itu, Bangladesh mengalami berbagai krisis berkepanjangan, mulai dari melemahnya institusi publik, sentralisasi kekuasaan yang korup, pemilu yang dipertanyakan, hingga menyempitnya ruang kebebasan sipil.

Situasi politik memuncak pada Juli tahun lalu lewat gelombang pemberontakan rakyat yang menggulingkan Perdana Menteri Sheikh Hasina dari Partai Liga Awami. Namun, pemerintahan sementara yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus dinilai gagal memenuhi janji perubahan. Kekosongan politik justru dimanfaatkan kelompok kanan jauh, memicu kekerasan, perusakan tempat ibadah, serta meningkatnya intimidasi terhadap kelompok minoritas.

Dalam kondisi penuh ketegangan itu, kepulangan Tarique Rahman kembali ke Bangladesh justru menjadi harapan baru bagi pendukung BNP. Sejak malam sebelumnya, kader dan simpatisan partai dari berbagai daerah memadati Dhaka. Mereka bertahan di tengah udara dingin, tidur di jalanan dengan alas seadanya demi menyaksikan langsung kepulangan tokoh yang selama ini dijuluki “pangeran pengasingan” BNP.

Tarique tiba di Dhaka sekitar pukul 11.40 waktu setempat dan disambut layaknya pahlawan. Pada sore harinya, ia berpidato di hadapan massa besar. Pidato itu ia awali dengan sapaan “Dear Bangladesh” dan refleksi atas perjuangan kemerdekaan 1971, sembari mengucap syukur kepada Tuhan atas kepulangannya ke tanah air.

Dalam pidatonya, Tarique mengingatkan bahwa Bangladesh berulang kali berhasil keluar dari rezim non-demokratis dan otoriter, termasuk pada 1975, 1990, dan terakhir 2024. Ia menekankan pentingnya menjaga harmoni antarumat beragama serta menjamin keamanan perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan masyarakat kecil tanpa memandang latar belakang.

Ia juga mengenang Sharif Osman Hadi, tokoh pemuda yang tewas ditembak sepekan sebelumnya, dan menegaskan bahwa pengorbanan para syuhada, baik pada 1971 maupun dalam rezim-rezim otoriter setelahnya, harus dibalas dengan membangun negara yang aman dan bermartabat.

Tarique menyerukan kesabaran dan kewaspadaan, terutama kepada kader BNP. Ia mengingatkan adanya potensi sabotase dan konspirasi dari kekuatan hegemonik yang masih aktif. Kepada generasi muda, ia menyerukan peran aktif dalam membangun bangsa serta menjaga ketertiban dan perdamaian.

Sejak tiba, Tarique menunjukkan sejumlah gestur simbolik, termasuk menyentuh tanah Bangladesh dengan kaki telanjang sebelum memulai agenda resminya. Ia juga dijadwalkan mengunjungi makam ayahnya, Presiden Ziaur Rahman, serta memberikan penghormatan kepada para pahlawan kemerdekaan di Savar.

Meski lama berada di luar negeri, Tarique tetap memimpin BNP secara aktif melalui koordinasi digital. Julukan sinis “pemimpin Zoom” yang pernah disematkan kepadanya justru menjadi bukti bahwa partai itu mampu bertahan dan bangkit di tengah tekanan politik berkepanjangan.

Kepulangan Tarique Rahman menempatkannya kembali di pusat panggung politik nasional menjelang pemilu mendatang. Di tengah lemahnya pemerintahan sementara, tertutupnya peluang kembalinya Liga Awami, dan keterbatasan kekuatan Jamaat-e-Islami, BNP dinilai sebagai kekuatan moderat paling siap bersaing.

Dengan kerangka reformasi 31 poin yang ia usung, Tarique mengisyaratkan transisi dari politik perlawanan menuju tata kelola pemerintahan. Penekanannya pada supremasi hukum, akuntabilitas, dan pemulihan sosial-ekonomi menjadikan Tarique Rahman kembali ke Bangladesh bukan sekadar peristiwa personal, melainkan momentum penting bagi arah demokrasi negara itu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.