Akurat

Serangan Udara Israel Tewaskan 30 Warga Palestina, Termasuk Anak-anak

Fitra Iskandar | 1 Februari 2026, 07:20 WIB
Serangan Udara Israel Tewaskan 30 Warga Palestina, Termasuk Anak-anak

AKURAT.CO Serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026), menewaskan sedikitnya 30 warga Palestina, termasuk sejumlah anak-anak. Jumlah korban ini menjadi salah satu yang tertinggi sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu, di tengah tudingan Israel terhadap Hamas atas dugaan pelanggaran terbaru kesepakatan damai.

Pihak rumah sakit di Gaza menyebut serangan terjadi di berbagai lokasi, mulai dari sebuah gedung apartemen di Kota Gaza hingga kamp tenda pengungsian di Khan Younis. Korban tewas berasal dari dua keluarga berbeda, termasuk dua perempuan dan enam anak-anak. Serangan lain juga dilaporkan menghantam sebuah kantor polisi di Kota Gaza, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai sejumlah lainnya.

Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, Mohamed Abu Selmiya, mengatakan korban di kantor polisi mencakup polisi perempuan, warga sipil, serta para tahanan. Selain itu, satu orang dilaporkan tewas akibat serangan di wilayah timur kamp pengungsi Jabaliya.

Serangan tersebut terjadi sehari sebelum rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir. Selama hampir seluruh masa perang, seluruh pintu perbatasan Gaza ditutup. Bagi warga Palestina, Rafah dipandang sebagai jalur vital, terutama bagi puluhan ribu warga yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza setelah sebagian besar fasilitas kesehatan hancur.

Pembukaan penyeberangan Rafah, meski masih terbatas, direncanakan bertepatan dengan masuknya gencatan senjata Israel-Hamas ke fase kedua. Namun, fase lanjutan ini dihadapkan pada sejumlah isu krusial, termasuk wacana demiliterisasi Gaza pasca hampir dua dekade kekuasaan Hamas serta pembentukan pemerintahan baru untuk mengawasi proses rekonstruksi.

Mesir dan Qatar, dua negara mediator gencatan senjata, sama-sama mengecam keras serangan Israel tersebut. Pemerintah Mesir menilai serangan itu sebagai ancaman langsung terhadap proses politik perdamaian, sementara Qatar menyebutnya sebagai eskalasi berbahaya yang dapat menggagalkan gencatan senjata.

Di Khan Younis, Rumah Sakit Nasser melaporkan serangan terhadap kamp tenda pengungsi memicu kebakaran yang menewaskan tujuh orang, termasuk seorang ayah, tiga anaknya, dan tiga cucunya. Seorang warga, Atallah Abu Hadaiyed, mengaku baru selesai menunaikan salat ketika ledakan terjadi.

“Kami berlari dan menemukan keluarga kami tergeletak di mana-mana, api menyala di sekitar mereka. Kami tidak tahu apakah ini perang atau damai. Di mana gencatan senjata yang mereka janjikan?” ujarnya.

Sementara itu, serangan di sebuah apartemen di Kota Gaza menewaskan tiga anak perempuan bersama bibi dan nenek mereka. Seorang kerabat korban mengatakan keluarga tersebut adalah warga sipil dan tidak memiliki keterkaitan dengan Hamas.

Hamas mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata dan mendesak Amerika Serikat serta negara-negara mediator untuk menekan Israel agar menghentikan serangan.

Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, menyatakan bahwa situasi saat ini lebih mencerminkan kondisi perang dibandingkan perdamaian, seraya mempertanyakan legitimasi badan internasional yang diusulkan Amerika Serikat untuk mengelola Gaza pascaperang.

Militer Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata. Menurut pihak Israel, sehari sebelumnya pasukan mereka menewaskan sejumlah militan yang disebut muncul dari terowongan di wilayah Rafah serta mendekati pasukan Israel di sekitar garis demarkasi.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata dimulai hingga Jumat lalu, sedikitnya 520 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel. Data korban yang dirilis kementerian tersebut dinilai cukup andal oleh badan PBB dan para ahli independen.

Perang ini bermula dari serangan Hamas ke wilayah selatan Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, serta menyandera 251 orang. Awal pekan ini, Israel mengumumkan telah menemukan jenazah sandera terakhir yang ditahan di Gaza.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.