Akurat

Thailand Mulai Rewilding, Hiu Macan Tutul Terancam Punah Dilepas ke Alam

Fitra Iskandar | 26 Januari 2026, 12:53 WIB
Thailand Mulai Rewilding, Hiu Macan Tutul Terancam Punah Dilepas ke Alam

AKURAT.CO Seekor hiu macan tutul Indo-Pasifik muda meluncur ke perairan biru di sekitar Pulau Maiton, Thailand selatan, setelah hitungan mundur singkat dilakukan para pegiat konservasi. Pelepasan ini menandai upaya perdana Thailand untuk “rewilding” atau mengembalikan spesies hiu yang terancam punah itu ke habitat alaminya.

Hiu berbintik yang dulu kerap dijumpai para penyelam dan snorkeler ini mengalami penurunan tajam populasi di alam liar selama satu dekade terakhir. Penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat menjadi penyebab utama, meski populasinya justru berkembang di akuarium-akuarium swasta.

“Populasi hiu hasil penangkaran di akuarium menunjukkan kondisi yang baik. Mengapa tidak dimanfaatkan untuk dikembalikan ke alam agar populasi liar bisa pulih?” ujar Manajer Proyek StAR Project Thailand, Metavee Chuangcharoendee.

StAR Project Thailand merupakan kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan akuarium yang diluncurkan tahun lalu untuk menyelamatkan hiu macan tutul Indo-Pasifik.

Pelepasan terbaru pada Desember lalu melibatkan empat hiu muda bernama Maiton, Hope, Spot, dan Toty, masing-masing berusia hampir dua tahun. Mereka termasuk dalam tujuh anakan hiu yang sejauh ini telah dilepasliarkan setelah dibesarkan di akuarium selama sekitar satu tahun.

Sebelum dilepas, hiu-hiu tersebut menjalani pelatihan selama berbulan-bulan untuk mempelajari perilaku yang dibutuhkan di alam liar. Proses adaptasi dilakukan di keramba laut dekat dermaga Maiton Resort, tempat mereka diperkenalkan secara bertahap dengan kondisi lingkungan alami.

“Keramba laut ini dibangun untuk membantu hiu beradaptasi dengan lingkungannya. Para perawat hiu bertugas memberi makan setiap hari, memantau pertumbuhan, serta mencatat kondisi kesehatan mereka agar siap hidup di alam,” kata Metavee.

Dua hari sebelum dilepas ke laut lepas, tim dokter hewan kelautan melakukan pemeriksaan kesehatan terakhir. Pemeriksaan tersebut meliputi pemindaian ultrasonografi untuk mengevaluasi kondisi organ dalam, pemasangan alat pelacak akustik, pengambilan sampel DNA, serta pengukuran tubuh.

Meski hiu macan tutul Indo-Pasifik telah dilindungi oleh undang-undang konservasi satwa liar Thailand, Metavee menekankan bahwa perlindungan hukum saja tidak cukup. Upaya pelestarian habitat, pengurangan polusi, dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dinilai krusial bagi kelangsungan hidup spesies ini.

Bagi Metavee, keberhasilan program ini tidak diukur dari jumlah hiu yang dilepas, melainkan dari tanda-tanda pemulihan nyata di alam.

“Jika penyelam kembali sering melihat hiu ini, jika ada bukti mereka berkembang biak di alam, dan jika hiu macan tutul tidak lagi ditemukan di pasar ikan, itulah keberhasilan jangka panjang,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.