Akurat

Pembunuh Mantan PM Jepang Shinzo Abe Segera Divonis, Simpati Publik Terbelah

Fitra Iskandar | 21 Januari 2026, 08:17 WIB
Pembunuh Mantan PM Jepang Shinzo Abe Segera Divonis, Simpati Publik Terbelah

AKURAT.CO Tetsuya Yamagami, pria yang membunuh mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada 2022, diyakini akan dinyatakan bersalah. Yamagami sendiri telah mengakui perbuatannya sejak sidang perdana yang digelar tahun lalu.

Pria berusia 45 tahun itu dijadwalkan menerima putusan hukuman pada Rabu. Namun, vonis yang pantas baginya masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat Jepang. Sebagian memandang Yamagami sebagai pembunuh berdarah dingin, sementara yang lain menunjukkan simpati terhadap latar belakang hidupnya yang penuh masalah.

Jaksa menuntut hukuman penjara seumur hidup atas “tindakan kejahatan berat” berupa penembakan yang menewaskan Abe. Sebagai salah satu tokoh publik paling berpengaruh di Jepang—negara yang hampir tidak mengenal kejahatan senjata api—pembunuhan Abe mengejutkan publik nasional dan internasional.

Sebaliknya, tim kuasa hukum Yamagami meminta keringanan hukuman. Mereka menilai kliennya sebagai korban “pelecehan berbasis agama”. Ibu Yamagami diketahui menjadi penganut fanatik Gereja Unifikasi, yang disebut telah membuat keluarganya bangkrut akibat sumbangan besar-besaran. Dari situ, Yamagami menyimpan dendam terhadap Abe setelah mengetahui adanya hubungan mantan perdana menteri tersebut dengan gereja kontroversial itu.

Pembunuhan Abe yang terjadi di ruang terbuka saat kampanye politik di Kota Nara pada 8 Juli 2022 memicu penyelidikan luas terhadap Gereja Unifikasi dan praktik-praktiknya, termasuk dugaan permintaan sumbangan yang menyebabkan kehancuran finansial para pengikutnya.

Kasus ini juga menyeret dunia politik Jepang. Sejumlah politisi dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa terungkap memiliki kaitan dengan gereja tersebut, dan beberapa menteri kabinet akhirnya mengundurkan diri.

Jurnalis Eito Suzuki, yang mengikuti hampir seluruh persidangan Yamagami, menggambarkan suasana sidang sebagai penuh keputusasaan. Menurutnya, Yamagami terlihat pasrah dan lelah secara mental sepanjang proses hukum.

“Semua itu benar. Tidak ada keraguan bahwa saya yang melakukannya,” kata Yamagami dengan nada datar pada hari pertama persidangan, Oktober 2025. Ia menggunakan senjata rakitan buatan sendiri dari dua pipa logam dan lakban untuk menembak Abe dua kali.

Pembunuhan terhadap Abe—perdana menteri terlama dalam sejarah Jepang—mengguncang dunia. Tim pembela Yamagami meminta hukuman maksimal 20 tahun penjara, dengan alasan klien mereka mengalami kerusakan psikologis akibat tekanan keluarga dan agama. Di persidangan terungkap bahwa ibu Yamagami menyumbangkan asuransi jiwa mendiang ayahnya serta aset lain senilai sekitar 100 juta yen.

Yamagami juga mengaku mulai menyimpan dendam terhadap Abe setelah melihat pesan video Abe dalam sebuah acara yang terkait Gereja Unifikasi pada 2021. Namun, ia mengatakan target awalnya bukan Abe, melainkan para petinggi gereja.

Pernyataan itu meninggalkan kesan mendalam, terutama bagi istri Abe, Akie Abe. Suzuki mengingat ekspresi tak percaya yang terpancar dari wajah Akie saat mendengar suaminya bukan target utama.

Dalam pernyataan emosional yang dibacakan di pengadilan, Akie Abe mengatakan rasa kehilangan atas kematian suaminya tidak akan pernah terobati. “Saya hanya ingin dia tetap hidup,” ujarnya.

Gereja Unifikasi, yang didirikan di Korea Selatan, mulai berkembang di Jepang sejak 1960-an dan membangun hubungan dengan politisi untuk memperluas pengaruhnya, menurut para peneliti. Meski Abe bukan anggota, ia dan sejumlah politisi lain beberapa kali hadir dalam acara yang berkaitan dengan gereja tersebut. Kakeknya, Nobusuke Kishi—juga mantan perdana menteri—diketahui memiliki hubungan dekat dengan kelompok itu karena sikap antikomunisnya.

Pada Maret tahun lalu, pengadilan Tokyo mencabut status Gereja Unifikasi sebagai badan keagamaan, dengan alasan lembaga tersebut terbukti memaksa pengikut membeli barang mahal dengan memanfaatkan ketakutan spiritual.

Dalam persidangan, kakak perempuan Yamagami yang menjadi saksi pembela memberikan kesaksian emosional mengenai kondisi keluarga yang terpuruk akibat keterlibatan ibunya dengan gereja. Momen itu membuat banyak pengunjung sidang meneteskan air mata.

Namun, jaksa menilai ada “loncatan logika” dalam pembelaan Yamagami, terutama soal alasan mengalihkan kebencian terhadap gereja kepada Abe. Para hakim juga mempertanyakan hal serupa selama persidangan.

Pengamat pun terbelah. Sebagian menilai tragedi pribadi Yamagami tidak dapat dijadikan pembenaran atas pembunuhan tersebut.

“Sulit membantah argumen jaksa bahwa Abe tidak secara langsung menyakiti Yamagami maupun keluarganya,” kata Suzuki. Meski begitu, ia menilai kasus ini menunjukkan bagaimana korban persoalan sosial bisa terdorong melakukan kejahatan serius.

Sosiolog Rin Ushiyama dari Queen’s University Belfast mengatakan simpati publik terhadap Yamagami berakar dari ketidakpercayaan luas masyarakat Jepang terhadap organisasi keagamaan kontroversial seperti Gereja Unifikasi.

“Yamagami memang korban pengabaian orang tua dan kesulitan ekonomi akibat gereja tersebut. Namun, hal itu tidak menjelaskan, apalagi membenarkan, tindakannya,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.