Akurat

Lebih dari 100 Orang Tewas akibat Hujan Lebat dan Banjir di Seluruh Afrika Bagian Selatan

Kumoro Damarjati | 16 Januari 2026, 22:02 WIB
Lebih dari 100 Orang Tewas akibat Hujan Lebat dan Banjir di Seluruh Afrika Bagian Selatan

AKURAT.CO Hujan deras disertai banjir bandang menewaskan lebih dari 100 orang di Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe. Otoritas setempat memperingatkan cuaca ekstrem masih berpotensi melanda sejumlah negara di kawasan Afrika bagian selatan dalam beberapa hari ke depan.

Di Afrika Selatan, sedikitnya 19 orang dilaporkan meninggal dunia di dua provinsi bagian utara akibat hujan lebat yang berlangsung sejak bulan lalu dan memicu banjir besar. Dampak banjir juga memaksa evakuasi wisatawan dan staf menggunakan helikopter dari sejumlah kamp yang terendam di Taman Nasional Kruger.

Badan Taman Nasional Afrika Selatan menyatakan Kruger sementara ditutup bagi pengunjung karena sejumlah ruas jalan dan jembatan rusak atau terputus akibat banjir. Sekitar 600 wisatawan dan staf telah dievakuasi ke area yang lebih tinggi di dalam kawasan taman.

Sementara itu, di Mozambik, Institut Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana mencatat sedikitnya 103 orang meninggal dunia sejak akhir tahun lalu akibat musim hujan yang dinilai tidak biasa. Korban tewas disebabkan berbagai faktor, mulai dari sambaran petir, tenggelam, runtuhnya infrastruktur, hingga wabah kolera.

Banjir terparah di Mozambik terjadi di wilayah tengah dan selatan. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan lebih dari 200.000 warga terdampak, ribuan rumah rusak, dan puluhan ribu orang terancam harus mengungsi.

Di Zimbabwe, Badan Penanggulangan Bencana setempat melaporkan 70 orang meninggal dunia sejak awal tahun akibat hujan deras. Lebih dari 1.000 rumah hancur, sementara sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, jalan, dan jembatan mengalami kerusakan berat.

Banjir juga melanda Madagaskar, Malawi, dan Zambia. Otoritas Madagaskar menyebut sedikitnya 11 orang meninggal dunia akibat banjir sejak akhir November lalu.

Sistem Peringatan Dini Kelaparan Amerika Serikat menyatakan banjir telah terjadi atau diperkirakan akan melanda sedikitnya tujuh negara di Afrika selatan. Kondisi ini diduga berkaitan dengan fenomena cuaca La Nina yang membawa curah hujan tinggi di kawasan Afrika tenggara.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Kamis mengunjungi wilayah terdampak banjir di Provinsi Limpopo. Ia mengatakan daerah tersebut menerima curah hujan lebih dari 380 milimeter dalam waktu kurang dari sepekan.

“Di salah satu distrik yang saya kunjungi, ada 36 rumah yang benar-benar hilang. Atap, dinding, pagar—semuanya lenyap,” kata Ramaphosa.

Badan Cuaca Afrika Selatan mengeluarkan peringatan cuaca level merah untuk sejumlah wilayah pada Jumat, dengan ancaman hujan lebat lanjutan dan banjir yang membahayakan keselamatan jiwa serta berpotensi merusak infrastruktur secara luas.

Militer Afrika Selatan juga mengerahkan helikopter untuk mengevakuasi warga yang terjebak di atap rumah dan pepohonan di wilayah utara. Helikopter militer turut menyelamatkan petugas perbatasan dan polisi yang terisolasi di pos pemeriksaan perbatasan Afrika Selatan–Zimbabwe akibat banjir.

Dalam beberapa tahun terakhir, Afrika selatan kerap dilanda cuaca ekstrem, mulai dari siklon dahsyat hingga kekeringan parah yang memicu krisis pangan. WFP mencatat sekitar 70.000 hektare lahan pertanian di Mozambik, termasuk tanaman pokok seperti padi dan jagung, terendam banjir, memperparah ancaman ketahanan pangan bagi ribuan petani kecil.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.