Akurat

Imbas Pernyataan Soal Taiwan, China Resmi Peringatkan Warganya Jauhi Jepang

Kumoro Damarjati | 15 November 2025, 13:20 WIB
Imbas Pernyataan Soal Taiwan, China Resmi Peringatkan Warganya Jauhi Jepang

 

AKURAT.CO China mengeluarkan imbauan tegas kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang dalam waktu dekat. Peringatan ini menjadi langkah balasan pertama Beijing setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyebut Tokyo bisa ikut campur secara militer jika China menggunakan kekuatan terhadap Taiwan.

Kementerian Luar Negeri China, dalam pernyataan yang dirilis Jumat malam, menyebut bahwa komentar Takaichi “sangat provokatif” dan dinilai merusak hubungan antarwarga kedua negara serta berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi warga China di Jepang.

“Terkait situasi ini, kami mengingatkan warga China agar menghindari perjalanan ke Jepang untuk sementara waktu,” demikian pernyataan tersebut.

Pernyataan Takaichi pada 7 November dianggap sebagai perubahan tajam dari kebiasaan pemerintah Jepang sebelumnya yang selalu menjaga ambiguitas sikap terkait Taiwan. Ia mengatakan bahwa serangan China ke Taiwan atau blokade laut dengan kekuatan militer dapat termasuk “situasi yang mengancam hidup” bagi Jepang—kondisi yang memungkinkan Pasukan Bela Diri Jepang dimobilisasi berdasarkan hak pertahanan kolektif.

China menuntut Takaichi menarik kembali komentarnya, namun ia menolak. Meski begitu, ia sempat melunakkan pernyataannya dengan menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menentang garis kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Ketegangan meningkat ketika Wakil Menteri Luar Negeri China Sun Weidong memanggil Duta Besar Jepang Kenji Kanasugi untuk menyampaikan protes keras. Media pemerintah China, Global Times, menyebut pemanggilan itu sebagai langkah diplomatik yang “sangat tidak biasa” dan mencerminkan tingkat peringatan yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”

Larangan perjalanan ini dapat berdampak besar pada sektor pariwisata Jepang. Wisatawan China merupakan hampir seperempat dari seluruh turis asing yang masuk, dengan 7,5 juta kunjungan dari Januari hingga September tahun ini, menurut data Badan Pariwisata Jepang.

China juga memiliki rekam jejak menggunakan tekanan ekonomi terhadap Jepang. Pada 2010, Beijing dituding menghentikan ekspor rare earth ke Jepang di tengah sengketa wilayah di Kepulauan Senkaku.

Kementerian Pertahanan China pada Jumat turut mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyebut bahwa campur tangan militer Jepang dalam isu Taiwan akan berujung pada “kekalahan telak” oleh Tentara Pembebasan Rakyat China.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan bahwa intervensi bersenjata dari Jepang “akan dianggap sebagai tindakan agresi” dan dibalas dengan “respons tegas.”

Meski hubungan kedua negara tengah memanas, Tokyo dan Beijing sebenarnya baru saja menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas dan memperkuat hubungan yang “saling menguntungkan” dalam pertemuan Takaichi dengan Presiden Xi Jinping akhir bulan lalu.

Pengamat menilai komentar Takaichi tidak serta-merta menjadi perubahan kebijakan resmi Jepang terhadap Taiwan, namun menunjukkan evolusi sikap Tokyo yang semakin khawatir terhadap meningkatnya aktivitas militer China di sekitar Taiwan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.