Akurat

Italia Selidiki Dugaan “Sniper Safari”, Turis Menembaki Warga di Bosnia Saat Perang Sarajevo 1990-an

Fitra Iskandar | 14 November 2025, 20:50 WIB
Italia Selidiki Dugaan “Sniper Safari”, Turis Menembaki Warga di Bosnia Saat Perang Sarajevo 1990-an


AKURAT.CO Kejaksaan Milan membuka penyelidikan atas dugaan bahwa warga Italia pernah melakukan “sniper safari” di Bosnia-Herzegovina pada awal 1990-an. Mereka dituduh membayar mahal untuk menembaki warga sipil di Sarajevo yang saat itu berada dalam pengepungan.

Penyelidikan ini dimulai setelah jurnalis dan novelis Ezio Gavazzeni mengajukan laporan resmi. Dalam laporannya, ia menggambarkan praktik “perburuan manusia” oleh orang-orang kaya yang gemar senjata dan membayar untuk menembak warga tak bersenjata dari posisi milisi Serbia di bukit-bukit sekitar Sarajevo.

Tuduhan Pembunuhan Berbayar

Menurut sejumlah informasi yang dikumpulkan, para “turis” ini diduga dikenai tarif berbeda untuk menembak pria, wanita, atau bahkan anak-anak. Kota Sarajevo sendiri mengalami pengepungan brutal selama lebih dari tiga tahun, menyebabkan lebih dari 11.000 warga sipil tewas akibat tembakan sniper dan serangan artileri.

Gavazzeni menyerahkan bukti baru kepada otoritas Italia, termasuk kesaksian seorang perwira intelijen militer Bosnia. Perwira itu mengaku rekan-rekannya mengetahui keberadaan “safari” tersebut pada akhir 1993, lalu melaporkannya kepada intelijen militer Italia, SISMI, pada awal 1994.

Beberapa bulan kemudian, menurut kesaksian tersebut, SISMI membalas dan menyatakan bahwa mereka telah menghentikan kegiatan itu. Disebutkan pula bahwa para peserta safari terbang dari kota Trieste di Italia sebelum menuju perbukitan di sekitar Sarajevo.

Dokumen dan Temuan Baru

Gavazzeni tertarik kembali pada isu ini setelah menonton dokumenter “Sarajevo Safari” yang dirilis pada 2022 oleh sutradara Slovenia Miran Zupanic. Film itu menuding keterlibatan warga dari berbagai negara, termasuk AS, Rusia, dan Italia, dalam penembakan terhadap warga sipil.

Ia kemudian melakukan penelusuran lanjutan dan menyusun berkas setebal 17 halaman yang kini diperiksa oleh jaksa antiteror Alessandro Gobbis. Berkas itu juga memuat laporan dari mantan Wali Kota Sarajevo, Benjamina Karic.

Sementara penyelidikan di Bosnia sendiri dilaporkan mandek, Gavazzeni menyebut jumlah peserta “safari” ini bisa mencapai ratusan, dengan tarif hingga €100.000 dalam nilai saat ini.

Kontroversi dan Keraguan

Beberapa klaim tentang “pemburu manusia” dari luar negeri memang pernah muncul, namun tidak pernah benar-benar terbukti. Anggota militer Inggris yang bertugas di Sarajevo pada 1990-an mengatakan kepada BBC bahwa mereka tidak pernah mendengar atau melihat praktik seperti itu. Menurut mereka, membawa orang asing masuk ke zona sniper untuk sekadar membayar dan menembaki warga sipil akan sangat sulit dilakukan karena banyaknya pos pemeriksaan di wilayah tersebut.

Seorang mantan prajurit bahkan menyebut tuduhan “sniper tourism” sebagai mitos perkotaan yang tidak pernah terkonfirmasi.

Meski demikian, kejaksaan Italia tetap melanjutkan penyelidikan. Polisi dikabarkan telah mengidentifikasi beberapa saksi untuk menentukan apakah terdapat warga Italia yang benar-benar terlibat dalam aksi penembakan terhadap warga Sarajevo pada masa perang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.