Dari Mana Asal Durian: Indonesia atau Malaysia? Ini Penjelasan Lengkapnya

AKURAT.CO Durian sering disebut sebagai “raja buah” di Asia Tenggara. Namun, di balik popularitasnya, ada satu perdebatan klasik yang tak pernah surut: dari mana sebenarnya durian berasal — Indonesia atau Malaysia? Pertanyaan ini bukan sekadar perkara rasa atau branding, tapi juga menyangkut asal biologis, sejarah, hingga strategi ekonomi modern.
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat dari berbagai sisi: mulai dari bukti ilmiah dan catatan sejarah, sampai ke persaingan komersial antarnegara di pasar global.
Asal Biologis Durian: Bukti Taksonomi dan Botani
Secara ilmiah, durian termasuk dalam genus Durio, yang terdiri dari sekitar 30 spesies dan hanya ditemukan secara alami di kawasan tropis Asia Tenggara.
Berbagai penelitian botani menunjukkan bahwa pusat keanekaragaman genus Durio berada di Pulau Borneo dan Semenanjung Melayu, dua wilayah yang kini terbagi antara beberapa negara modern, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Beberapa ahli juga menambahkan Sumatra sebagai wilayah penting dalam asal spesies Durio zibethinus, yaitu jenis durian yang paling banyak dikonsumsi dan diperdagangkan di dunia.
Studi yang diterbitkan di jurnal New Phytologist menyebutkan bahwa Durio zibethinus kemungkinan besar berasal dari kawasan Borneo dan Sumatra, lalu menyebar ke wilayah lain di Asia Tenggara melalui budidaya manusia.
Dengan kata lain, secara biologis, durian bukan milik satu negara saja, melainkan hasil evolusi alami di kawasan hutan hujan Asia Tenggara yang mencakup wilayah Indonesia dan Malaysia modern.
Catatan Sejarah: Jejak Awal Durian di Nusantara dan Semenanjung Melayu
Jika ditelusuri dari sisi sejarah dan etnobotani, durian sudah dikenal sejak berabad-abad lalu.
Catatan pelancong Eropa dari abad ke-15 dan 16 sudah menyebut buah “durian” yang banyak ditemukan di Sumatra dan wilayah Melayu.
Sementara itu, karya monumental Herbarium Amboinense yang ditulis oleh Georg Eberhard Rumphius pada abad ke-18, menggambarkan durian secara rinci, menunjukkan bahwa buah ini telah lama menjadi bagian dari flora dan budaya Nusantara.
Artinya, sebelum konsep negara modern seperti Indonesia atau Malaysia lahir, durian sudah tumbuh, dikenal, dan dibudidayakan oleh masyarakat di kawasan ini secara alami.
Kenapa Klaim “Asal Durian” Jadi Perdebatan Antara Indonesia dan Malaysia
Perdebatan soal asal durian sering kali dipicu oleh kebanggaan nasional dan keberhasilan pengembangan varietas unggul.
Malaysia dikenal dengan strategi branding yang kuat untuk varietas premium seperti Musang King (Mao Shan Wang), yang kini menjadi primadona ekspor ke pasar China.
Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan varietas lokal yang luar biasa seperti Petruk, Sukun, Sitokong, dan Bawor, serta wilayah produksi besar di Sumatra dan Kalimantan.
Masalahnya, perbedaan antara asal biologis dan asal varietas komersial sering kabur di mata publik. Secara ilmiah, genus Durio memang berasal dari wilayah Asia Tenggara yang luas, tetapi secara ekonomi dan budaya, setiap negara punya hak untuk mengembangkan dan mematenkan varietas unggulnya sendiri.
Inilah yang membuat klaim “durian milik negara X” sering muncul, padahal yang sesungguhnya dibahas adalah asal varietas atau branding, bukan asal biologis spesiesnya.
Lonjakan Permintaan Global dan Dampaknya pada Ekspor Asia Tenggara
Dalam beberapa tahun terakhir, durian tak hanya menjadi ikon kuliner lokal, tapi juga komoditas bernilai tinggi di pasar global. Permintaan dari Tiongkok melonjak tajam, bahkan pada 2024 nilai impor durian negeri itu mencapai sekitar US$7 miliar, menurut Produce Report dan Bangkok Post.
Thailand masih menjadi pemimpin ekspor durian segar ke China, sementara Malaysia fokus pada segmen durian premium dalam bentuk beku, pulp, dan buah segar bermerek.
Indonesia pun menjadi salah satu produsen besar durian, meskipun struktur ekspornya belum sekuat dua negara tetangganya karena faktor logistik dan infrastruktur distribusi.
Persaingan ini bukan hanya soal ekspor, tapi juga strategi branding dan nilai tambah produk.
Durian kini bukan sekadar buah musiman, melainkan simbol potensi ekonomi besar bagi Asia Tenggara.
Dampak Lingkungan dan Sosial dari Ledakan Permintaan Durian
Popularitas durian ternyata membawa konsekuensi yang tidak kecil.
Menurut laporan The Times dan lembaga riset pertanian Asia, ekspansi perkebunan durian premium di beberapa negara memicu konversi lahan hutan dan isu deforestasi.
Di sisi lain, bagi petani dan pelaku industri, lonjakan permintaan ini juga menjadi peluang emas — meningkatkan pendapatan, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi besar di sektor pertanian dan ekspor pangan.
Namun, tantangan tetap ada: mulai dari standar kualitas, pengendalian hama, regulasi ekspor, hingga keberlanjutan lingkungan yang kini menjadi sorotan global.
Dua Sudut Pandang: Antara Kebanggaan Nasional dan Fakta Ilmiah
Perdebatan soal asal durian pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua sudut pandang besar:
-
Pandangan budaya dan komersial: Banyak orang di Indonesia maupun Malaysia menganggap durian sebagai “buah khas negaranya”. Klaim ini sering digunakan dalam promosi wisata dan kampanye produk lokal.
-
Pandangan ilmiah dan taksonomi: Berdasarkan penelitian biologi, Durio zibethinus dan spesies lainnya berasal dari kawasan hutan hujan Asia Tenggara, terutama Borneo dan wilayah sekitarnya. Artinya, klaim asal tunggal oleh negara modern tidak tepat secara ilmiah.
Kedua pandangan ini sah untuk konteksnya masing-masing — satu berbasis kebanggaan budaya, satu lagi berbasis sains.
Kesimpulan: Asal Durian Bukan Soal Siapa yang Punya, Tapi Dari Mana Ia Berkembang
Secara ilmiah, durian adalah buah tropis asli kawasan Asia Tenggara, dengan pusat keanekaragaman di Borneo, Sumatra, dan Semenanjung Melayu.
Sementara secara budaya dan ekonomi, Indonesia dan Malaysia berhak mengembangkan varietas unggulnya masing-masing.
Jadi, pertanyaan “durian berasal dari mana, Indonesia atau Malaysia?” sebetulnya punya jawaban yang lebih luas:
Durian berasal dari kawasan yang kini kita kenal sebagai Asia Tenggara — dan menjadi kebanggaan bersama bagi seluruh wilayah di dalamnya.
Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan industri durian dan fakta ilmiah di baliknya, pantau terus artikel menarik lainnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Malaysia Ajukan Durian Jadi Buah Nasional, Ini Alasannya
Baca Juga: Perbedaan Durian Malaysia dan Indonesia: Kultivar, Rasa, Produksi, hingga Strategi Ekspor
FAQ
1. Dari mana sebenarnya asal durian?
Secara ilmiah, durian berasal dari kawasan hutan hujan tropis Asia Tenggara, terutama Borneo (Kalimantan), Sumatra, dan Semenanjung Melayu. Kawasan ini merupakan pusat keanekaragaman genus Durio, tempat berbagai spesies durian tumbuh secara alami.
2. Apakah durian berasal dari Indonesia atau Malaysia?
Durian tidak berasal dari satu negara tertentu. Sebelum adanya batas negara modern, wilayah Borneo dan Semenanjung Melayu sudah menjadi habitat alami durian. Karena itu, baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama termasuk dalam kawasan asal biologisnya.
3. Apa perbedaan antara asal biologis dan asal varietas durian?
-
Asal biologis mengacu pada tempat durian tumbuh secara alami di alam (yaitu Asia Tenggara).
-
Asal varietas berkaitan dengan hasil budidaya dan pengembangan yang dilakukan manusia. Misalnya, Musang King dikembangkan di Malaysia, sedangkan Indonesia punya varietas lokal seperti Petruk, Sitokong, dan Bawor.
4. Kenapa sering muncul klaim bahwa durian milik Indonesia atau Malaysia?
Klaim tersebut biasanya muncul karena kebanggaan nasional dan faktor ekonomi. Malaysia sukses memasarkan varietas Musang King ke pasar internasional, sementara Indonesia memiliki keanekaragaman varietas lokal yang luas. Persaingan komersial ini sering disalahartikan sebagai klaim “asal negara”.
5. Apa bukti ilmiah yang menunjukkan asal durian?
Kajian taksonomi dan penelitian botani dari berbagai sumber — seperti doc-developpement-durable.org dan New Phytologist — menunjukkan bahwa pusat keanekaragaman Durio berada di Borneo dan Semenanjung Melayu, dengan Durio zibethinus sebagai spesies yang paling umum dibudidayakan.
6. Kapan durian pertama kali tercatat dalam sejarah?
Catatan tertulis tentang durian sudah ada sejak abad ke-15 dan ke-16 dari pelancong Eropa yang mengunjungi Sumatra dan wilayah Melayu. Pada abad ke-18, Georg Eberhard Rumphius melalui karya Herbarium Amboinense memberikan deskripsi ilmiah pertama yang lengkap tentang durian.
7. Siapa negara penghasil dan pengekspor durian terbesar saat ini?
-
Thailand memimpin ekspor durian segar ke Tiongkok.
-
Malaysia menonjol dengan durian premium seperti Musang King dalam bentuk beku atau pulp.
-
Indonesia juga produsen besar, tapi sebagian besar untuk konsumsi domestik karena infrastruktur ekspor yang masih berkembang.
8. Bagaimana dampak permintaan global terhadap industri durian?
Permintaan tinggi, terutama dari Tiongkok, membuat nilai ekspor durian melonjak hingga miliaran dolar. Namun, di sisi lain, perluasan perkebunan durian juga menimbulkan isu lingkungan, seperti deforestasi dan konflik penggunaan lahan di beberapa wilayah Asia Tenggara.
9. Apakah durian bisa disebut warisan bersama Asia Tenggara?
Ya. Berdasarkan bukti biologis dan sejarah, durian merupakan buah asli Asia Tenggara. Karena itu, durian dapat dianggap sebagai warisan alam dan budaya bersama kawasan ini, bukan milik satu negara saja.
10. Mengapa durian begitu penting bagi ekonomi regional?
Durian kini menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar global. Selain meningkatkan pendapatan petani dan ekspor negara, durian juga memperkuat citra Asia Tenggara sebagai produsen buah tropis premium yang digemari di dunia, terutama di pasar Tiongkok.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









